Maven terjaga karena mendengar Jean mengigau. Ternyata, bocah itu demam. Seketika Maven panik. Ia langsung membopong Jean dan membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di sana, Jean segera mendapat perawatan dari dokter. Untungnya, demamnya tidak parah, hanya kelelahan. Maven yang kelelahan akhirnya tertidur di samping Jean dengan posisi duduk, sambil memegang erat tangan kecil putranya.
Tak terasa, sinar matahari pagi menembus jendela kamar rawat Jean, membuat Maven terbangun. Ia merasakan pegal di seluruh tubuh akibat posisi tidur yang tidak nyaman.
“Papa," ucap Jean lirih, membuat Maven langsung menoleh.
“Iya, Sayang. Jean mau apa, Nak?” tanya Maven dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
“Jean mau jalan-jalan, Pa. Jean bosan di sini,” rengeknya sambil memanyunkan bibir.
“Iya, Sayang. Nanti kalau Jean sudah sembuh, Papa ajak jalan-jalan, ya. Sekarang Jean harus sembuh dulu.”
“Nggak mau, Papa! Jean maunya sekarang.”
Maven tersenyum kecil, mencoba menenangkan anaknya.
“Ya sudah, kita jalan-jalan ke taman rumah sakit saja, ya?”
Jean langsung mengangguk semangat. Maven pun bergegas mengambil kursi roda.
Saat mereka berjalan melewati koridor rumah sakit, Jean tiba-tiba menunjuk seseorang.
“Kakak!” teriaknya riang.
Wanita muda yang dipanggil itu menoleh, tersenyum lembut, lalu menghampiri mereka.
“Eh, halo! Kamu, kok, ada di sini? Sakit apa?” tanyanya ramah sambil berjongkok sejajar dengan Jean.
“Jean demam, Kak. Kepala Jean pusing,” adu Jean sambil memegangi dahinya sendiri.
“Jean sudah minum obat belum?”
“Belum,” jawab Jean polos sambil menggeleng, membuat wanita itu terkekeh kecil.
“Minum obat, ya, biar cepat sembuh. Nanti bisa main dan lari-larian lagi.”
Maven yang berdiri di belakang hanya memperhatikan dengan tatapan lembut. Ada kehangatan yang jarang ia lihat dari Jean tentang senyum riang dan tawa kecil yang tulus.
“Jeann."
Suara seorang wanita paruh baya memecah suasana. Jean menoleh cepat.
“Oma," gumamnya lirih, wajahnya langsung berubah muram. Seperti tidak suka dengan kehadiran omanya itu.
“Cucu kesayangan Oma kenapa? Apa yang sakit, Sayang?” tanya sang Oma sambil meraba dahi Jean.
“Jean cuma pusing sedikit, Oma. Kata Kakak, kalau Jean minum obat nanti bisa sembuh, terus bisa main lagi. Iya, kan, Kak?” ucapnya sambil menoleh ke arah wanita muda tadi.
Sang Oma langsung menatap tajam ke arah gadis itu, membuat suasana seketika berubah canggung. Alesha mundur beberapa langkah. Merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
“Siapa kamu?” tanya Oma dengan nada ketus. Tatapannya menyapu Alesha dari atas ke bawah.
“Dia Kakak baik, Oma. Jangan dimarahin. Kakak ini yang temenin Jean di taman waktu Jean tersesat,” jelas Jean polos.
Gadis muda itu tersenyum kikuk, tapi tetap sopan.
“Kak Alesha pergi dulu, ya, Jean. Cepat sembuh, anak ganteng,” suaranya lembut, hanya terdengar oleh Jean dan Maven.
“Ternyata namanya Alesha,” gumam Maven dalam hati dan entah kenapa ada garis senyuman yang tanpa sadar terlihat samar di bibirnya.
“Permisi, Tuan ... Nyonya,” ucap Alesha sopan sambil tersenyum ramah.
“Dadah, Jean.”
“Dadah, Kakak baik! Nanti ketemu lagi, ya!” balas Jean sambil melambaikan tangan hingga sosok Alesha menghilang di ujung koridor.
Sore harinya, Jean sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik. Di perjalanan, ia hanya terdiam menatap jalanan sore yang ramai dan indah oleh lampu-lampu jalan.
Setibanya di rumah, Maven menggendong Jean yang tertidur, lalu membaringkannya di tempat tidur dan menyelimuti tubuh kecil itu dengan hati-hati.
“Cepat sehat, jagoan Papa. I love you, Jean Raga Daneswara,” bisiknya sambil mencium kening anaknya.
“Sayang, lihat! Anak kita sudah besar. Senyumnya persis sepertimu, Karin. Andai kamu masih di sini,” ucap Maven dalam hati. Sebutir air mata jatuh di pipinya.
Ia menutup pintu kamar Jean perlahan, lalu masuk ke kamarnya sendiri. Setelah mandi, Maven duduk di balkon sambil menikmati secangkir teh dan memeriksa berkas pekerjaannya yang tertunda.
Tanpa terasa malam pun tiba. Ia baru saja akan tidur saat mendengar suara Jean.
“Aku nggak mau makan, Oma! Aku maunya ketemu sama Kakak baik!” teriak Jean dari kamar.
Maven segera masuk ke kamar Jean.
“Kenapa ini jagoan Papa?"
“Jean nggak mau makan. Jean mau ketemu Kakak baik,” adunya dengan wajah ditekuk.
Maven tersenyum sabar.
“Tapi ini sudah malam, Sayang. Ketemunya besok saja, ya. Sekarang makan dulu, biar cepat sembuh.”
“Sini, Mi, biar aku aja yang suapin,” ucap Maven sambil mengambil mangkuk bubur dari tangan ibunya.
“Ya sudah, Mami bantuin Bi Iroh di dapur, ya.”
Setelah sang Oma pergi, Maven mencoba membujuk Jean.
“Ayo, dibuka mulutnya. Kalau nggak makan, nanti sakit perut, loh.”
“Pa, Jean mau Kakak baik ada di sini,” ucapnya lirih.
“Nggak bisa, Jean. Ini sudah malam. Besok Papa cari Kakak baik buat main ke sini, ya.”
“Beneran, Pa? Horee!” Jean langsung berteriak bahagia.
“Iya, tapi sekarang makan dulu.”
Akhirnya Jean mau membuka mulutnya. Namun, di tengah-tengah makan, ia tiba-tiba berkata sesuatu yang membuat Maven tertegun.
“Pa, Jean mau Kakak baik jadi mamanya Jean. Jean sayang sama Kakak baik,” katanya polos.
Maven tercekat. Tangannya berhenti di udara. Wajahnya penuh tanda tanya aneh.
“Papaaa," rengek Jean sambil mengguncang tubuh ayahnya.
“Nggak bisa, Jean. Jangan aneh-aneh, ya. Ayo, habiskan buburnya.”
“Nggak mau. Jean mau Kakak baik jadi Mama Jean,” jawabnya sambil memunggungi Maven.
“Kalau Papa nggak mau, Jean nggak mau makan.”
Maven menghela napas panjang.
“Iya, iya … sekarang tidur, ya. Biar cepat sehat.”
"Papa janji dulu?"
"Iya, Papa janji, Sayang."
“Okay, Papa.”
Mereka berdua menautkan jari kelingking sebagai tanda bahwa mereka sudah saling setuju.
Setelah menyelimuti Jean, Maven keluar dari kamar dan menutup pintu perlahan. Ia masuk ke ruang kerja, lalu menyalakan laptop. Tangannya langsung menekan nomor yang sudah dihafalnya.
“Key, tolong carikan informasi tentang seorang gadis bernama Alesha. Umurnya sekitar dua puluh tahunan. Aku mau datanya secepatnya. oh wait ... aku ada fotonya saat bersama Jean tadi," ucap Maven tegas.
“Baik, Tuan. Akan segera saya cari,” jawab suara di seberang.
“Terima kasih.”
Tiga jam kemudian, sebuah file masuk ke surel Maven. Ia membukanya perlahan, membaca satu per satu halaman berisi profil Alesha. Saat sampai di bagian akhir, napasnya tertahan.