Atmosfer di dapur berubah drastis setelah pelukan antara Red dan Shea terlepas. Keduanya menjadi canggung dengan alasan masing-masing. Bila Shea merasa kikuk karena perkataan Red yang bahkan tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun, termasuk kedua orang tuanya, maka berbeda dengan Red yang merasa grogi sebab sebelumnya ia tak pernah sekalipun mengeluarkan kalimat sedungu itu.
Memang benar jika di antara para sahabatnya, Red dan Gray adalah lelaki yang paling bisa menarik hati para wanita dengan mudah. Tetapi Red tidak pernah merayu sampai seberlebihan itu. Ia hanya berkata manis, seperti memuji fisik seorang wanita.
Red benar-benar tidak habis pikir bagaimana kalimat berlebihan itu dapat meluncur dari bibirnya tanpa hambatan sama sekali. Bahkan, ia mengucapkannya kepada seseorang yang berkemungkinan besar akan menjadi saudara tirinya.
"Apa yang kau lihat? Sudah, pulang sana!" usir Shea dengan nada suara yang terdengar tak yakin. Ia bahkan menghindari tatapan Red.
Bukan Red namanya kalau tidak bisa mengembalikan suasana seperti semula. Dengan berdeham beberapa kali, wajah kakunya telah sirna dan digantikan dengan kemunculan senyum yang lebih mirip seringaian.
"Aku tidak ada kerjaan hari ini. Jadi, daripada bosan terus-terusan berada di apartemen, lebih baik aku ke sini, menemanimu. Kau juga bosan, kan?"
Shea tak mengerti jalan pikiran Red. Kejadian barusan kelihatan seperti tidak mengganggu pria itu sama sekali. Padahal, Shea nyaris kehilangan napasnya dan bersikap layaknya seorang i***t karena bingung harus mengatasi situasi yang canggung ini seperti apa.
Dari sikap itu saja Shea bisa melihat bahwa Red adalah perayu ulung. Ia juga pernah mendengar dari salah satu rekan kerjanya kalau Red sedang berkencan dengan Roz. Hebatnya lagi, hampir sebagian wartawan berjenis kelamin perempuan di tempatnya bekerja sudah pernah berkencan dengan Red walau ada beberapa dari mereka yang tidak berakhir di ranjang.
Tetapi gila saja! Tidak sedikit wanita yang bekerja di kantornya. Dan Red sudah pernah mengencani hampir sebagiannya. Pria itu maniak sekali.
Kalau pun nantinya mereka akan menjadi saudara tiri, tidak ada satu pun dari diri Red yang dapat Shea banggakan sebagai seorang kakak. Jangan libatkan pekerjaannya sebab Shea sangat tak suka dengan profesi yang satu itu. Tak peduli seberapa banyak kemenangan yang telah Red raih.
"Kau ingin memasak?" Setelah terlalu lama diabaikan, Red akhirnya kembali angkat bicara.
Kebingungan sementara menerpanya saat melihat Shea mengambil bahan mentah dari dalam kulkas, kemudian dengan seenaknya menyingkirkan makanan yang dibawanya sampai ke ujung meja makan.
"Aku tidak bisa makan masakan selain buatanku sendiri." Akhirnya Shea buka suara. Ia lalu melangkah menuju wastafel untuk mencuci sayuran, memilih mengabaikan Red sekali lagi.
Tak seperti sebelumnya, di mana Red bertingkah sangat agresif dan begitu mengganggu, kini pria itu mengambil duduk di meja makan, menonton Shea yang sedang bergelut di dapur.
Dari luar saja Red terlihat santai. Padahal, kemarahan telah melilit pikirannya kala makanan yang sengaja ia masak sendiri akan terbuang begitu saja. Ada perasaan tak senang saat hasil jerih payahnya yang selama ini selalu diterima orang lain, sekarang diabaikan begitu saja.
Untungnya Red adalah seseorang yang bisa menutupi kemarahannya sehingga air mukanya tak berubah secara signifikan. Jadi, ia tak perlu merasa khawatir jika misinya akan gagal karena hal tersebut tak akan terjadi untuk sekarang.
"Apa yang akan kau masak?" Setelah mengatur emosinya sedemikian rupa, Red menghampiri Shea yang berada di balik kitchen island. Sedangkan ia sendiri memilih berdiri di luarnya hingga posisinya dengan Shea kini saling berhadapan.
Shea pura-pura menyibukkan dirinya dan lagi-lagi mendiamkan Red. Sengaja Shea tak mau bertatap mata dengan Red, karena bila hal itu terjadi, maka bayangan akan pelukan tadi kembali menari-nari dalam benaknya lantas membuat kerja jantungnya meningkat. Dengan begitu, Shea akan kelihatan seperti wanita bodoh dan murahan. Bagaimana mungkin ia mengalami perasaan itu pada orang yang bahkan baru ditemuinya beberapa kali.
"Kau memotong bawangnya terlalu lama, Shea." Red berkomentar, walau di dalam hati ia mengumpat bolak-balik karena kembali diabaikan. "Sini, biar aku saja." Tanpa persetujuan dari Shea, Red mengambil alih apa yang sedang wanita itu kerjakan.
Kedua belah bibir Shea mengambil jarak, hendak mengeluarkan protes kepada Red. Tetapi tertahan ketika matanya disuguhi pemandangan yang membuat mulutnya tidak bisa lagi terkatup. Shea menganga, terkagum dalam detik pertama dan selanjutnya saat Red memotong bawang layaknya seorang chef profesional.
"Tutup mulutmu, Shea. Aku khawatir ada lalat yang masuk," kata Red, tak mengalihkan pandangannya kepada Shea. Hanya sudut bibirnya saja yang sedikit tertarik ke atas.
Di dalam hati, Red bersorak gembira. Setidaknya, ia berhasil mencuri fokus Shea untuk menaruh perhatian padanya.
"Kau? Bagaimana bisa?" Terbata-bata Shea menyampaikan pertanyaannya. Ia bahkan lupa kalau seharusnya ia tetap mengabaikan Red sampai pria itu menyerah dan segera enyah dari pandangannya. Tetapi, sepertinya ia sendiri yang kalah di sini.
Bawang terakhir, dan Red berhasil mencincangnya dengan sempurna dan cepat. Ia lantas menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja. Tubuhnya begitu luwes ketika berada dalam posisi seperti itu. Apalagi saat matanya menatap Shea begitu lekat. Dan senyumnya, sungguh mematikan.
"Sama sepertimu, Shea, aku juga tidak bisa memakan masakan kalau bukan buatanku sendiri dan beberapa orang yang kupercaya. Aku sering mendapat diare setelah makan di luar. Dan itu akan menghambat pekerjaanku. Aku tidak suka sesuatu yang menghalangi pekerjaanku."
"Benarkah?!"
Senyum di bibir Red bertambah lebar, merasa menang karena Shea mulai tertarik padanya. Kesempatan yang bagus. Dan Red tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja.
Red menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan bernada kaget Shea sebelumnya. "Maka dari itu, aku memasak untukmu pagi ini. Kau bisa memakannya dengan aman karena aku memasaknya dengan kebersihan yang terjamin." Di akhir kalimatnya, ia mengangkat jarinya yang sudah membentuk simbol "oke".
Pikiran Shea berpacu. Mendadak ia dipenuhi perasaan tidak enak kepada Red. Lantaran pria itu datang secara tiba-tiba dan mengganggu liburnya, bukan berarti simpatinya kepada pria itu sudah hilang. Setidaknya, Shea masih menyisakan sedikit untuk Red meski pria itu menyebalkan.
Red sendiri dapat menangkap jelas perubahan raut wajah Shea. Apalagi ketika wanita itu melirik makanan yang dibawanya. Red yakin sebentar lagi Shea akan berubah pikiran.
"Baiklah. Aku makan saja apa yang sudah kau bawa untukku."
Dugaan Red memang tidak pernah melenceng. Di dalam sana, ia dapat mendengar suara hatinya menjerit senang. Dan alam bawah sadarnya tengah melakukan selebrasi atas kemenangannya ini.
Ketika seorang wanita sudah menaruh simpati padamu, maka akan mudah bagimu untuk menduduki singgasana di hatinya. Dan Red tidak sabar untuk menantikan momen tersebut. Karena misinya harus dilakukan dengan cepat. Dari yang ia dengar, minggu depan ayahnya akan bertunangan dengan ibu Shea. Ia tidak boleh terlambat.
"Kau jangan percaya diri dulu, Red. Memakan masakanmu bukan berarti aku sudah menyukaimu. Aku hanya menghargai jerih payahmu. Dan lain kali jangan lakukan ini lagi," ucap Shea dengan nada peringatan yang cukup jelas seraya berjalan menuju meja makan untuk menyantap hasil masakan Red.
Apa pun kata Shea, Red sudah tak lagi peduli. Yang jelas, saat ini ia sudah berhasil mengambil simpati wanita itu.