Sorak kemeriahan penonton terdengar sampai ke backstage T-Mobile Arena, tempat yang akan menjadi saksi bisu atas pertarungan sengit dua petarung MMA kelas dunia. Salah satunya kini sedang melakukan pemanasan seperti push up dan yang lainnya.
Dia adalah Red Fabray. Petarung MMA kelas dunia yang baru berumur dua puluh delapan tahun dan baru saja mengukir kemenangan KO yang ketiga puluh satu.
Meski umurnya masih terbilang cukup muda, kemampuan seorang Red Fabray tak perlu diragukan lagi. Terbukti dari gelar yang disabetnya dari beberapa pertandingan kelas dunia.
"Wah! Kau sepertinya satu-satunya petarung yang memiliki begitu banyak penggemar."
Terry, salah satu tim pelatih Red Fabray yang juga merupakan teman dekatnya menghampirinya dengan sebuah pujian yang mengisyaratkan kekaguman. Pria itu pun mengambil duduk di kursi panjang, tepat di sisi Red yang masih melakukan push up.
Red tersenyum tipis, hanya sudut bibirnya saja yang tertarik. Ia lantas menyudahi pemanasannya dan ikut duduk bersama Terry.
"Aku memang dilahirkan dengan banyak keberuntungan. Selain wajah yang tampan, skill bela diriku juga tak dapat diremehkan sama sekali," kata Red, menyombong sambil membuat gerakan meninju udara.
"Dan sombong," timpal Terry dengan dengusan malas. "Cepat bersiap-siap, Red. Pertandingannya akan dimulai sebentar lagi."
Red mendengus geli. Ia mengambil botol airnya dan membuka tutupnya, meminum hingga setengahnya lalu menjalankan instruksi Terry untuk segera bersiap-siap dengan memasang hand wrap di kedua tangannya seraya mendengarkan sang pelatih utama yang sedang memberi pengarahan kepadanya.
Tepat ketika itu, beberapa kru dari salah satu stasiun televisi yang mana akan menyiarkan pertandingan itu secara langsung pun masuk.
"Red, wawancara sebentar, ya?" Roz, reporter seksi yang khusus membawa acara olahraga meminta izin terlebih dahulu kepada Red.
"Apa pun untukmu, Sayang," bisik Red di telinga Roz, dan dilanjutkan dengan meremas b****g wanita itu.
"Jangan di sini." Roz balas berbisik. Meskipun ia menarik tangan Red dari bokongnya, wanita itu malah terlihat tidak keberatan sama sekali.
"Baiklah, kita mulai sekarang saja." John, sang kameramen menginterupsi. "Lihat ke kamera, Red."
Saat John telah selesai menghitung sampai tiga, wawancara yang akan disiarkan secara langsung itu pun dimulai.
Sebagai pembuka, Roz yang sudah mengambil posisi berdiri di samping Red bersorak mengikuti penonton yang berada di luar. Wanita itu lantas menyampaikan kalimat pembuka sebelum mengajukan beberapa pertanyaan kepada Red.
"Bagaimana perasaanmu terhadap pertandingan kali ini?"
"Aku sangat semangat dan siap untuk bertarung," jawab Red.
"Dari yang aku dengar, lawan yang akan kau hadapi kali ini menguasai tiga sabuk juara versi IBF, WBA, dan WBO. Apa kau sendiri yakin dapat mengalahkannya pada pertandingan kali ini?"
"Aku juga sudah menguasainya." Red menjawab dengan santai, disertai senyuman tipis yang sering kali ia gunakan untuk memikat hati para wanita.
"Jadi, kau yakin bisa mengalahkan lawanmu kali ini?"
"Sangat yakin."
"Woah! Semangat yang luar biasa dari seorang Red Fabray."
Dan setelah itu, Roz kembali berbasa-basi sejenak sebelum menutup sesi wawancara kali ini.
"Good job, Roz!" John berseru sambil mengacungkan ibu jarinya pada Roz sebelum beralih pada Red. "Terima kasih untuk waktunya, Red."
"Thanks, Red. Semoga sukses untuk pertandingan kali ini." Roz mengedip genit kepada Red.
Red sedikit menggeser tubuhnya ke arah Roz dan menyejajarkan bibirnya dengan telinga wanita itu. "Aku akan mengajakmu berkencan kalau aku menang kali ini." Ia berbisik.
"Kalau begitu kau harus menang," balas Roz. Wanita itu mengelus d**a telanjang Red sembari menggigit bibirnya dengan gerakan s*****l.
"Tentu." Dan sekali lagi, Red meremas b****g padat milik Roz.
Namun, apa yang mereka lakukan harus terhenti dengan cara yang tak elegan saat seorang perempuan yang entah datang dari mana menubruk Red karena tersandung oleh kabel.
Hampir saja Red ikut ambruk kalau tubuhnya tidak sigap mengembalikan keseimbangannya. Sedangkan Roz sendiri sedikit oleng karena gerakan tiba-tiba wanita tersebut.
"Shea! Apa kau gila?!" Roz menyadari bahwa wanita yang menimbulkan kekacauan kecil itu adalah juniornya.
Wanita yang bernama Shea itu lantas membelalakkan kedua matanya saat berhadapan dengan d**a telanjang seorang pria yang begitu tegap. Buru-buru wanita itu menarik dirinya dan bertumpu pada kedua kakinya setelah mengambil langkah mundur.
"Maaf. Maafkan aku." Dia berulang kali menundukkan kepalanya kepada Red dan Roz.
Sejenak, wanita itu mengambil alih perhatian Red. Sejak kehadirannya, ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Bukan karena sesuatu pada dirinya yang bisa membuat para lelaki terpesona, tetapi wajah wanita itu. Wajahnya terlihat tidak asing di mata Red.
"Kau benar-benar menyebalkan. Dan kenapa kau baru datang sekarang?" semprot Roz kepada Shea yang masih menunduk dalam. "Lama-lama aku bisa gila jika harus membimbing junior sepertimu."
"Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Kata maaf berulang kali terlontar dari bibir Shea.
"Sudahlah, Roz." John menghentikan semuanya, tak enak dengan tim Red yang harus menyaksikan hal tersebut. "Bersiap-siaplah, Shea. Setelah ini kau akan mewawancarai Eric."
"Ah, iya."
Dan ketika Shea hendak pergi, tiba-tiba saja Red memegang tangannya, seperti sedang menahannya. Hal itu jelas saja membuat semua orang yang menyaksikannya dibuat keheranan, termasuk Roz yang bertambah kesal dengan Shea.
"Shea Newell, itu namamu. Aku benar, bukan?" tanya Red dengan seringainya.
Shea mengangkat kepalanya, agak terkejut saat mendapati wajah Red yang begitu tampan dan membuatnya terpukau dalam beberapa saat. Dan lebih kaget lagi manakala pria itu mengetahui namanya. Bahkan, nama lengkapnya sekaligus.
"Y-ya." Dia sedikit tergagap ketika menjawab pertanyaan Red.
"Ah! Akhirnya aku tidak perlu pergi dari Las Vegas untuk mencarimu." Senyum Red melebar. "Jangan pergi ke mana pun sampai pertandingan ini selesai. Aku akan menemuimu." Dan itu adalah kalimat terakhir dari Red sebelum pria itu melakukan kegiatan lain untuk menunggu waktu sampai pertandingan dimulai.