Maggie datang jauh-jauh dari Virginia hanya untuk mengajak Shea bertemu dengan Red. Tidakkah Maggie tahu jika selama beberapa hari ini, Red selalu datang kepadanya hingga mau tak mau waktunya lebih banyak dihabiskan bersama pria itu?
"Ah! Mommy benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengan Red, Sayang," ujar Maggie dengan penuh semangat.
Shea hanya memutar matanya dan tetap diam di atas sofa tanpa berbuat apa pun. Matanya mengarah kepada ibunya yang tengah memasang tali heels-nya dengan malas.
"Kenapa aku harus repot-repot ikut makan malam bersama kalian?" Shea akhirnya menyuarakan keberatannya yang sejak tadi ia tahan karena malas berdebat dengan Maggie.
Maggie melemparkan pandangannya pada Shea saat ia telah selesai dengan sepatunya, dan tidak lupa ia melepas sebuah senyuman kepada putrinya itu. "Karena kau harus berkenalan dengan keluarga barumu, Shea."
Shea tertawa sumbang. "Sejak kapan aku peduli pada keluarga barumu itu, Mom? Sudah berapa kali kubilang jika aku tidak akan ikut campur dalam urusanmu. Dan jangan pernah libatkan aku sekalipun."
Setelah selesai menyampaikan protesnya, Shea lantas bangkit dari duduknya, meninggalkan Maggie begitu saja dengan emosi yang meluap dalam dadanya. Andai keluarganya masih belum berubah, Shea pasti tak akan berani berkata sekasar itu pada ibunya sendiri. Ia pasti lebih memilih memendam kekesalannya ketimbang membuat ibunya kecewa dengan perkataannya.
"Kau pikir kau begitu spesial sampai bisa bersikap sesombong ini?!" teriak Maggie yang berhasil menghentikan langkah Shea. "Ada apa denganmu, hah? Kau pikir aku datang jauh-jauh ke sini hanya demi dirimu? Asal kau tahu saja, Shea, Red yang memintaku untuk mengajakmu! Aku ke sini atas permintaannya!"
Di tempatnya berdiri, kedua tangan Shea sudah mengepal erat. Dadanya naik turun karena emosi yang tidak dapat lagi dikontrol dengan baik.
Red. Pria itu yang menyebabkan dirinya terlibat dalam urusan tidak penting seperti ini. Dan ia muak terus-terusan dihantui oleh keadaan ini.
Membalikkan badannya, Shea pun melayangkan pandangannya pada sang ibu. Kedua matanya menyala-nyala. "Baiklah, biar aku saja yang menyelesaikan semuanya."
Yang dilakukan Shea setelahnya adalah berjalan melewati ibunya dengan tergesa-gesa. Berniat untuk merealisasikan ucapannya barusan.
"Kau mau apa, hah?!" Lagi-lagi Maggie berteriak, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.
Tanpa berbalik, Shea pun menjawab. "Aku akan menghampiri Red sialan itu dan membunuhnya."
"Apa kau gila?!" Seakan tidak takut kehabisan suaranya, kali ini pun Maggie juga kembali berteriak, dan dibarengi dengan sebuah tindakan menahan kepergian Shea dengan memegang lengan wanita itu.
"Ya! Aku memang sudah gila!" Shea yang awalnya berusaha tenang, kini ikut meneriakkan suaranya. Ia pun menyentak tangannya dengan kasar agar pegangan ibunya terlepas.
Kembali ia melangkah tanpa peduli akan teriakan Maggie yang tidak ada habisnya. Begitu banyak emosi yang Shea rasakan sehingga ketika ia telah tiba di dalam mobilnya, satu per satu air mata pun menetes dengan deras.
Pandangannya buram, dan Shea bolak-balik menyeka air matanya supaya dapat mengendara dengan benar. Bagaimanapun juga, ia harus bertemu dengan Red. Dan tujuannya saat ini adalah apartemen pria itu.
Shea sudah pernah ke apartemen Red sebelumnya. Dan begitu tiba di sana, ia tak perlu lagi bertanya pada bagian resepsionis di mana letak kamar Red. Kakinya langsung berjalan menuju lift. Jarinya menekan angka tiga belas dengan terburu-buru. Dan di dalam lift, Shea berjalan mondar-mandir dengan tak sabar, berharap lift segera berhenti. Tetapi di samping itu, Shea juga berusaha menghentikan tangisnya agar tak tampak menyedihkan ketika berhadapan dengan Red nantinya.
Begitu lift menghentikan lajunya dan pintu terbuka secara perlahan, Shea pun segera membawa kakinya menuju salah satu unit dengan nomor yang masih diingatnya. Shea tak menyangka bahwa ingatan tak pentingnya tentang Red adalah sesuatu yang lumayan menguntungkan di saat-saat seperti ini.
Satu tangan Shea sudah terangkat, bermaksud untuk menekan bel atau menggedor pintu apartemen Red sebagai rencana kedua bila pria itu terlalu lama membukakan pintu untuknya. Namun, belum juga niat tersebut terlaksana, pintu itu sudah terbuka duluan. Dan yang membuat Shea begitu terkejut, sosok yang muncul di sana bukanlah Red, melainkan Roz.
Sama sepertinya, Roz pun kelihatan begitu kaget. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Kedua mata Shea dengan cepat memindai penampilan Roz. Pakaian yang kusut dan rambut yang acak-acakkan menarik asumsinya bahwa Roz berada di sini karena sedang berkencan dengan Red. Ya, sepertinya kencan yang berakhir di ranjang.
Melihat itu, emosi Shea pun semakin memuncak. Bukan jenis kemarahan yang sering diperlihatkan sepasang kekasih, karena hubungannya dengan Red bahkan lebih buruk dari itu, tapi ia merasa begitu berang karena pria itu tampak baik-baik saja di saat Shea hampir frustasi memikirkan semua ini.
"Aku ingin bertemu dengan Red," jawab Shea apa adanya. Ia juga sudah menghilangkan kesopanannya kepada Roz walaupun wanita itu merupakan senior yang membimbingnya di kantor.
"Apa-apaan kau ini!" Roz berteriak kala Shea mencoba menerobos masuk ke dalam. Dengan tubuh yang hampir sama proporsinya dengan Shea, Roz berusaha untuk menghalangi wanita itu.
"Minggirlah, Roz," desis Shea seraya melayangkan tatapan mengancamnya kepada Roz.
"Kurang ajar! Aku seniormu, Sialan!"
"Dan aku tidak peduli! Kita sedang tidak berada di kantor sekarang!"
"Apa-apaan kalian ini?" Red datang tepat pada waktunya. Kedua matanya membesar dua kali lipat saat melihat Shea dan Roz terlibat dalam sebuah perkelahian.
Kemunculan Red membuat fokus Shea dan Roz teralihkan. Dan Shea lebih cepat mengambil keuntungan dari situasi ini. Ia pun mengandalkan kekuatan penuh dalam tubuhnya untuk mendorong Roz sampai wanita itu harus merelakan punggungnya menabrak dinding. Kemudian gantian Shea mendorong Red sampai pria itu masuk ke dalam, lalu menutup pintu dengan cara membantingnya.
"Pulanglah, Roz!" teriak Red ketika telinganya masih dapat mendengar teriakan Roz yang ingin ikut masuk bersama mereka.
Manakala fokusnya beralih pada Shea, Red benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi dengannya. Datang secara tiba-tiba dengan wajah yang memerah seperti itu. Dan Red yakin sekali Shea tengah dipenuhi amarah saat ini.
"Apa yang terjadi denganmu, Shea?" tanya Red dengan lembut, berusaha berbicara baik-baik dengannya.
Seperti tekad awalnya tadi, Shea datang ke sini untuk membunuh Red. Akan tetapi, ketika ia berada tepat di hadapan pria itu, yang dilakukannya bukanlah mencekik leher Red seperti rencana awalnya, ia malah memukul d**a pria itu sambil menangis tersedu-sedu.
"Berhentilah melibatkanku dalam semua ini. Lepaskan aku, Red," isak Shea dengan pukulannya di d**a Red yang semakin lama semakin melemah.
Tak seperti dugaan awal Red kala melihat kedatangan Shea dengan wajah yang memerah dan letupan amarah yang terlihat begitu jelas di sana, yang ia dapatkan hanyalah sebuah ucapan yang sarat akan permohonan. Ia pikir, yang akan keluar dari mulut Shea adalah makian.
Mengambil kedua tangan Shea yang belum berhenti memukuli dadanya walau kekuatannya semakin kecil, ia pun membimbing wanita itu untuk mengambil duduk. Dan sejauh itu, yang Red lihat hanyalah Shea dengan tangisannya. Wanita itu tak lagi buka suara setelahnya. Shea hanya duduk dengan wajah yang menunduk dan bulir air mata yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti.
Red meninggalkan Shea ke dapur untuk mengambil minum. Hanya sebentar karena ia memang tidak berniat meninggalkan wanita itu terlalu lama. Emosinya sedang tak stabil sehingga Red tidak ingin mengambil risiko.
"Minum dulu, Shea." Red menyodorkan segelas air mineral kepada Shea yang langsung diterima oleh wanita itu, lantas meneguknya hingga tersisa separuhnya saja.
"Sekarang katakan apa tujuanmu datang ke sini," ucap Red, yang mengusahakan agar suaranya tak terdengar mengintimidasi.
Pada detik pertama, Shea hanya diam dengan kepala menunduk dan kedua tangan yang bersama-sama memegang gelas. Air matanya juga sudah berhenti berproduksi. Sepertinya Shea sedikit lebih tenang sekarang. Dan tepat pada detik kesepuluh, kepalanya bergerak naik dan kedua matanya pun beradu dengan Red.
"Tolong lepaskan aku, Red. Aku benar-benar tidak ingin terlibat dalam hal konyol ini." Pandangan Shea meredup. Suaranya merendah dan terdengar memohon. Lantas, ia pun kembali menurunkan tatapannya, melepas kontak mata dengan Red.
Di tempatnya, Red mengepalkan kedua tangannya. Gantian ia yang dipenuhi berbagai macam emosi. Simpatilah yang lebih dominan dalam dirinya hingga membuatnya berpikir ulang untuk membawa Shea ke dalam masalah ini. Tetapi mendadak egonya menyeruak, meminta pembebasan. Dan pada detik berikutnya, yang ada dalam pikiran Red adalah mengubah semua rencananya.
Mendekati Shea selama beberapa hari ini tidak menimbulkan efek apa pun. Hati wanita itu tak kunjung mencair. Malah memunculkan rasa simpatinya pada Shea. Otomatis, semua plan itu telah gagal. Rusak karena kecerobohan Red sendiri yang mengikutsertakan perasaannya pada permainan ini. Dan kini, saran dari Gray mulai memenuhi benaknya.
Tidur dengan Shea. Haruskan ia melakukan itu?