"Apa itu di wajahmu?"
Baru saja Red menginjakkan kakinya di rumah Gray, salah satu sahabatnya, ia sudah disuguhi sebuah pertanyaan.
Sembari memegang plester yang menempel di salah satu lukanya dan mengambil duduk di atas permadani lembut yang sedang diduduki oleh dua sahabatnya—Gray dan Green—Red pun menjawab, "Seseorang yang melakukannya."
Green yang pertama tertarik untuk mengulik jawaban Red. "Seseorang? Siapa? Setahuku, kau tidak pernah peduli sama sekali dengan lukamu. Bahkan, kau selalu menolak bila aku ingin menempel plester di setiap lukamu."
"Aku rasa plester itu bukan sembarang plester." Gray menyela dengan senyum yang menyiratkan sebuah godaan.
Green mengernyitkan alisnya, menoleh bergantian ke arah Red dan Gray. "Aku tidak mengerti."
"Anak bayi yang masih menggunakan popok sepertimu memang tidak akan pernah bisa mengerti dunia orang dewasa seperti kami," celetuk Gray, meledek Green yang memang paling payah dalam urusan asmara.
"Sialan! Aku tidak memakai popok."
"Lalu, apa yang kau pakai? k****m saja tidak pernah kau pakai." Gray berdecak di akhir kalimat, menatap miris sahabatnya yang satu itu.
"Sudah, jangan pedulikan omongan Gray. Aku yang akan mengajarkanmu menggunakan k****m nanti." Red menghentikan perdebatan mereka lantas menggeser duduknya ke arah Green, menempel dengan genit pada pria itu sambil memainkan matanya.
"Menyingkirlah dariku, sialan!" Green menendang Red. Dan tepat setelah itu, baik Red maupun Gray, keduanya tak dapat lagi menahan tawa mereka.
Green adalah sasaran yang tepat bila ingin mencari seseorang untuk di-bully.
"Omong-omong, di mana Blue?" tanya Red seraya menerima sekaleng soda dari Gray yang baru kembali dari dapur.
Gray menunjuk ke arah sofa bed menggunakan dagunya, yang lantas diikuti oleh Red. Terlihat gumpalan selimut di sana. Tanpa menebak pun, Red sudah tahu kalau yang ada di dalam selimut itu adalah Blue.
"Kapan dia ke sini?" tanya Red.
"Setelah kau pergi tadi. Jadwalnya padat sekali hari ini. Dia bahkan langsung tertidur setelah sampai," jawab Green.
"Kasihan sekali mantan adik iparku," kata Red, prihatin.
Ternyata berkecimpung di dunia hiburan tidak semenyenangkan kelihatannya. Dan Red benar-benar merasa kasihan dengan Blue. Pria itu bahkan hanya mendapat waktu tidur selama satu sampai tiga jam saja. Tak seperti dirinya yang memang harus memiliki waktu tidur yang cukup demi menjaga kebugaran tubuhnya. Dan syukurnya, Red tidak pernah kekurangan tidur jika bukan pada waktu-waktu tertentu.
"Jadi, bagaimana tadi?" Saat bertanya, Green melirik Red dengan raut yang menunjukkan rasa penasaran.
Sejujurnya, pertanyaan Green sangat sulit untuk ditafsirkan, tapi berhubung Red mengerti isi pikiran sahabatnya itu, maka tidak susah baginya untuk menjawabnya. Ia tahu betul yang pria itu maksud adalah hal yang masih berkaitan dengan Shea. Sebab, Red sudah menceritakan tentang wanita itu sebelumnya. Dan mendapat saran dari para sahabatnya untuk menemui Shea di tengah malam seperti ini.
"Tidak berhasil." Red memandang lurus kaleng sodanya saat menjawab.
"Sudah kuduga."
"Ya, aku juga sudah menduganya." Green setuju dengan Gray sembari mengangguk beberapa kali, lantas menatap Red kasihan. "Kalau dipikir sesuai logika, ibunya sudah beberapa kali menikah, tetapi dia tidak pernah menghentikannya. Artinya wanita itu memang tidak peduli sama sekali. Itu sebabnya dia menolakmu, Red."
"Aku setuju dengan Gray."
Red mendesah panjang. Meminum sodanya sampai beberapa tegukan. "Lalu, aku harus bagaimana? Ayahku tidak boleh menikah dengan wanita lain. Dia bahkan belum resmi bercerai dari Ibuku."
"Aku rasa akan sulit mengajak wanita itu bekerja sama denganmu untuk menghalangi pernikahan Ayahmu," ujar Green yang kemudian bangkit menuju dapur untuk mengambil beberapa kaleng soda lagi karena miliknya telah habis. Kemungkinan soda milik Red dan Gray juga akan segera habis.
"Kalau begitu lakukan cara lain. Mungkin akan berhasil kalau kau menidurinya, Red," usul Gray.
Dan Green yang saat itu baru kembali dari dapur, hampir saja melemparkan salah satu sodanya ke kepala pria itu agar pikirannya tak melulu soal seks.
"Jangan ikuti sarannya, Red. Itu tidak betul."
"Tapi biasanya hal itu selalu berhasil padaku. Pikiran seorang wanita akan berubah setelah melihat seperkasa apa seorang pria saat melakukan seks."
"Itu tidak berhasil padaku." Tiba-tiba saja Blue menyela. Pria itu menarik dirinya dari dalam selimut. Mengubah posisinya ke sisi kanan supaya bisa menatap sahabatnya. "Buktinya, aku ditinggal pergi oleh mantan istriku. Padahal, aku yakin aku sangat perkasa saat di ranjang. Amber bahkan sampai mendesah sangat kuat waktu itu."
Red melempar kaleng sodanya yang telah kosong kepada Blue. "Berhenti membicarakan adikku, Bodoh!" Ia kelihatan sedikit kesal.
"Mungkin Amber mendesah karena terpaksa," ledek Gray.
"Sialan! Aku memang perkasa!"
"Kalau menurutku, menarik perhatian Shea adalah cara yang tepat agar kau bisa mengajaknya bekerja sama," kata Green, yang lebih memilih menaruh perhatiannya pada Red ketimbang Blue dan Gray yang masih terus berdebat.
"Caranya?" Sama seperti Green, Red lebih memilih fokus pada masalahnya sendiri.
"Buat dia jatuh cinta." Green berucap dengan penuh keyakinan. Ia merasa sarannya yang kali ini akan berhasil. Sebab, bila Shea jatuh cinta pada Red, maka wanita itu pasti akan membantu Red menghalangi pernikahan itu. Dan kedua orang tua mereka juga akan berpikir ulang untuk menikah jika mengetahui kalau anak mereka saling mencintai.
"Aku setuju!" Blue yang telah selesai bertengkar kecil dengan Gray kembali ikut dalam obrolan mereka. "Aku rasa hal itu tidak terlalu sulit untuk kau lakukan. Di antara kita berempat, kau dan Gray yang paling bisa memikat hati para wanita. Dan semua wanita tak jauh berbeda. Bersikaplah manis kepadanya, dan misimu pasti akan berjalan dengan lancar."
"Uhm ... aku setuju. Tetapi kau harus menambahkan satu poin lagi, Red." Ketiga lelaki di sana kompak menoleh ke arah Gray, menunggu tambahan poin yang pria itu maksud. "Buat dia jatuh cinta, lalu tiduri dia," ucapnya dengan bangga.
Bukannya mendapat persetujuan, saran dari Gray malah mengundang Green dan Blue untuk menendangnya habis-habisan.
Sementara Red masih memikirkan masukan dari sahabatnya—kecuali pendapat dari Gray yang tentu saja langsung ditolaknya.
Kalau dipikir-pikir, hal itu cukup bagus untuk dijadikan sebagai misi selanjutnya. Selain hasilnya yang mungkin akan jauh lebih baik, untuk melakukannya pun tidak terlalu sulit. Ia hanya harus bersikap manis guna mencuri hati Shea.
Dan ya, Red akan memakai saran yang satu itu: membuat Shea jatuh cinta padanya.