Wanita muda itu membuka mata, merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Kamar itu memang dihuni seorang diri namun hanya sebuah kamar rumah sakit yang kecil, jendela yang tak besar namun cahaya putih terang khas pagi hari mencelos dari kacanya.
Wanita itu menurunkan pandangan ke tubuhnya. Tubuh itu kecil, terlalu kecil. Lengan kurus dengan bekas tinta di jari-jari. Kuku pendek tak terawat dan baju seragam rumah sakit yang kebesaran. Jelas itu bukan tubuhnya.
Jantungnya berdetak keras, dia menunduk menatap benda kenyal di dadanya.
“Apa ini? Ups!” ujarnya menutup mulutnya. Suara siapa ini? Tanyanya dalam hati. Dia kembali memegang benda kenyal yang menggunung itu, “Ini? p******a?” ucapnya dengan mata membelalak.
Perawat masuk bersiap mengecek keadaan dan dia langsung menghampiri dengan wajah khawatir, “anda sudah sadar, hati-hati jangan bergerak cepat, anda cedera di kepala dan tangan anda sedikit retak,” ucapnya.
Suster itu cantik. Pikirnya, dan wangi. ucapnya dalam hati sambil tersenyum kecil. Tiba-tiba dia memegang kepalanya, “aahhh sakit! Sial suara ini jelek banget!” gumamnya.
“Saya panggilkan dokter sebentar,” ucap suster itu berlari keluar, tak lama seorang dokter paruh baya masuk, mengecek pupil mata.
“Saya di mana? Saya ... ini tubuh siapa?” tanyanya bingung.
“Nona Xaviera, syukurlah anda telah sadar, tapi ... apa anda Amnesia?” tanyanya.
“Xaviera itu siapa? Nama saya?” tanyanya dengan mata membelalak.
Wanita itu kemudian dibantu duduk, dari tempatnya duduk dia bisa melihat kaca walk in closet depan kamar mandi yang terletak tak jauh dari ranjangnya. Kamar ini sangat kecil. Dia menajamkan pandangannya dan meminta dibantu melihat lebih dekat.
Dia menatap kaca yang menempel di dinding itu, dia melihat dengan jelas wajah seorang wanita muda.
Rambutnya panjang sedikit berantakan, kepalanya di bebat perban, matanya besar. Lingkar hitam jelas di bawahnya. Wajah itu cukup cantik meski terlihat tak terawat dan kusam. Dia menatapnya lama dan wanita itu menatap balik.
“Ini ... tidak mungkin!” ujarnya berteriak.
“Suster, tolong bantu!” ujar dokter memegangi pasiennya. Wanita itu meronta memukuli kepalanya, ingin segera sadar dari mimpi buruknya. Dia bukan wanita, dia pria. Pria tampan dan kaya raya.
Suster itu dengan tenang membantunya berjalan ke ranjang, wanita itu menatapnya dengan pandangan kesal. Napasnya mulai berat saat kepalanya dipenuhi pertanyaan yang tidak masuk akal.
“Ponsel! Tolong ponsel saya!” gumamnya pada suster itu. Suster mengambil ponsel yang ada di atas tasnya. Ponsel yang sangat kumuh dan usang, pikirnya.
Beruntung ponsel itu dikunci dengan fitur wajah. Dia langsung membuka aplikasi browser. Mengetik nama aslinya, “Noel Rayi Devandra.”
Tidak ada berita tentang kecelakaan, padahal terakhir dia ingat dia terburu meminjam motor salah satu staffnya menuju perusahaan yang akan disabotase Juan. Paman dari ayahnya, anak angkat sang kakek yang mau menguasai perusahaan. Tamak dan rakus!
Pria itu bahkan sudah menghabiskan perusahaan miliknya sendiri dan membuatnya bangkrut, sekarang mau ikut campur di perusahaan ayahnya! Tidak bisa!
Namun, di saat dia harusnya berjuang mempertahankan kekuasaannya, dia justru menabrak seorang yang menyeberang. Padahal hanya selang satu detik dari lampu merah yang diterobos. Kenapa sih ada orang yang buru-buru menyeberang?
Tak berapa lama ponsel itu kehabisan daya dan mati.
“Ah ponsel jelekkkk!!!” ujarnya dengan suara melengking, “suaranya juga jelek!!!!”
Dengan tubuh ini, bagaimana dia bisa mengambil perusahaannya lagi? Dan bagaimana caranya dia kembali ke tubuh asalnya?
Dan siapa yang ada di tubuhnya? Apakah gadis ini.
Noel dalam tubuh Xaviera berdecak sebal. jadi mulai sekarang, namanya adalah Xaviera.
“Tolong cari orang yang menabrak saya!” ujarnya pada perawat yang masih menemaninya.
“Saya tidak tahu itu, nona, tapi saya tahu ada orang yang beberapa hari ini melihat anda, nanti akan saya hubungi.”
“Ya saya yakin itu asisten saya,” ucapnya membuat perawat itu menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa seorang yang tampak seperti itu memiliki asisten? Apakah selain amnesia dia juga berhalusinasi?
***
“Tuan mau langsung pulang ke rumah atau ke kantor?” tanya Darma di pagi hari ini, Xaviera sudah mengganti pakaian, meski mandi dengan ekspresi jijik karena menyentuh tubuh yang bukan tubuhnya namun dia berhasil juga.
“Ke rumah saja,” ucap Xaviera pelan, berusaha bersikap biasa saja agar tampak tenang. Dia menghindari interogasi berlebihan.
Mobil melaju melewati gerbang tinggi yang perlahan terbuka otomatis, Noel ... atau lebih tepatnya Xaviera dalam tubuh Noel menatap lurus ke depan tanpa berkata apa pun.
Begitu mobil berhenti, matanya langsung tertuju pada bangunan di hadapannya.
Rumah itu bukan sekedar besar, namun sangat megah! Dinding putih menjulang dengan desain modern, kaca tinggi memantulkan cahaya pagi dan taman luas yang terawat rapi membentang di sekelilingnya. Air mancur mengalir di tengah halaman, juga patung kuda putih yang tampak berdiri kokoh memamerkan tendangannya.
Xaviera menelan salivanya. Ini rumah orang? Bukan hotel? Dan ini di Indonesia?
“Selamat datang di rumah, Tuan,” ujar Darma sambil membukakan pintu mobil.
Xaviera turun pelan, langkahnya terlihat tenang, dia tak berani terlihat terlalu kagum meski dadanya terasa sesak. Dari luar saja sudah seperti dunia lain. Dan saat pintu utama terbuka perasaan itu semakin runyam.
“Ada tiga lantai, lantai satu untuk ruang tamu, ruang kerja dan dapur, lantai dua kamar pribadi Tuan, dan lantai tiga khusus gym dan ruang hiburan.”
Xaviera dalam tubuh Noel itu hanya mengangguk.
“Kolam renang ada di belakang, perpustakaan pribadi di sebelah kiri, ruang kerja utama Tuan berada di dekat kamar.”
Dia terus berjalan mengikuti Darma. Matanya bergerak menyisiri tempat itu, kekayaan seperti pamer pada dirinya, kehidupan yang tak pernah dia sentuh.
“Karena kondisi Tuan saat ini, kami menganggap Tuan mengalami amnesia sementara. Jadi bila ada yang terasa asing, jangan dipaksakan dulu.”
Amnesia. Kata itu seperti keajaiban yang sempurna. Xaviera merasa bersyukur sekaligus merasa bersalah.
“Dokter bilang ingatan bisa kembali perlahan, yang penting tuan beristirahat.”
“Ya,” jawab Xaviera singkat. Suaranya rendah, maskulin dan masih terasa aneh di telinganya sendiri.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar di lantai dua. “Kamar tuan,” ucap Darma sambil membukakan pintu.
Xaviera melangkah masuk, kamar itu terlalu luas untuk disebut kamar tidur.
Tempat tidur king size dengan sprei gelap terbentang rapi. Jendela besar menghadap ke halaman depan. Lemari pakaian sebesar kamar kosnya sendiri berdiri di sisi ruangan. Bahkan ada sofa kecil dan meja kerja pribadi di dalamnya.
Dia berdiri diam di tengah ruangan tampak takjub.
“Jika tuan butuh apa pun, saya ada di luar,” ucap Darma sopan, lalu dia hendak menutup pintu.
“Mas Darma,” panggilnya membuat Darma terkejut, “hmmm maksudnya Darma, hanya Darma,” ralatnya.
“Ya Tuan?”
“Boleh tolong cari tahu tentang Xaviera, nama lengkapnya Xaviera Vania Meskha,” ucapnya.
“Siapakah itu Tuan?” tanya Darma.
“Hanya ... cari tahu saja lah,” ucapnya. Seorang pengawal lain yang mengekor mereka pun masuk dan membisikkan sesuatu Darma mengangguk.
“Wanita yang tuan tabrak?”
“Ah jadi aku yang menabraknya? Bagaimana kondisinya? Apa dia meninggal?”
Darma menoleh ke arah bawahannya yang kemudian melangkah maju, “baru sadar pagi tadi Tuan,” jawabnya.
Xaviera berpikir sejenak, “jika sudah sehat, panggil dia ke sini, kita ... harus bertanggung jawab kan?” ucap Xaviera. Dia pikir jika mereka bertemu mungkin sesuatu akan terjadi. Dia menyadari bahwa tubuh ini, kekayaan ini bukan miliknya dan semakin melihat ke dalam, membuatnya semakin takut.
Darma kemudian pamit keluar dari kamar itu. Xaviera mengembuskan napas panjang, lalu perlahan duduk di tepi ranjang empuk itu. Tangannya menyentuh seprai, halus, dingin dan mahal. Dadanya terasa sesak. “Tidak adil,” bisiknya pelan.
Bayangan kamarnya sendiri muncul begitu saja, kost sempit berdinding tipis dengan kipas angin tua yang berisik, meja yang penuh naskah komik dan kasur tipis yang terasa sakit jika terlalu lama ditiduri.
Dia harus menghitung uang sebelum membeli makan, dia harus menunggu klien membayar tepat waktu atau dia tidak bisa makan malam.
Sementara pria ini ... Xaviera menatap sekeliling kamar sekali lagi. Rumah mewah, harta berlimpah. Dia tertawa kecil.
“Aku harus tinggal di kost sempit, sementara kamu hidup seperti ini,” gumamnya, lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, menatap langit-langit tinggi yang asing.
Dia merasakan iri.
“Tapi bagaimana keadaan tubuhku ya?” bisiknya sebelum kembali tertidur.
***
Noel dalam tubuh Xaviera mondar mandir di kamar rawat kecil itu, dia berpikir bagaimana caranya untuk dapat ke rumah miliknya tanpa diusir. Takkan ada yang percaya bahwa dia adalah Noel dengan fisik seperti ini. Dia bisa dianggap gila. Bahkan dia tak tahu apa tubuh Noel masih ada? Atau mati?
Tapi dia juga tak bisa terus berdiam diri seperti ini? Dia butuh berpikir cepat sebelum Juan mengalihkan semua kekuasaan atas namanya.
Di saat dia kebingungan, pintu diketuk dan beberapa pria berjas hitam masuk. Noel mengenali mereka semua hingga sosok yang paling dikenalnya masuk.
“Darma! Astaga Darma lama sekali!” gerutunya.
Darma menatapnya dengan pandangan bingung, “anda kenal saya?” tunjuknya pada diri sendiri. Bahkan tak hanya Darma yang bingung namun juga semua yang ada di sana.
“Iya lah!” ujarnya lalu dia memejamkan mata sepersekian detik.
“Enggak,” ralatnya.
Darma menghela napas panjang, “Tuan Noel ingin bertemu anda, kami sudah menyelesaikan administrasi dan anda akan kami bawa menemui Tuan,” ujarnya profesional.
Noel tersenyum menyeringai, lalu berjalan ala laki-laki, menepuk bahu Darma, dengan satu tangan yang bebas karena tangan kirinya digips, “bagus,” gumamnya, “ah jangan lupa bawa barang-barang perempuan ini! Bayar baju ini juga,” ujarnya menunjuk piyama rumah sakit yang dia pakai.
Darma menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mengapa dia tampak familiar dengan logat dan sikap soknya ya?
***
Noel tampak menghela napas panjang ketika mobil memasuki pelataran rumah yang sangat dikenalnya.
Darma membukakan pintu mobil, dia keluar dengan langkah pasti, lalu melihat punggung seorang pria yang juga dikenalnya, “ssstt,” ujar Noel, dia berjalan mendekat ke arah dinding untuk mendengar, “Om Juan,” desisnya.
Pria paruh baya yang memegang cerutu itu tampak menelepon seseorang, “ya kemarin gagal, anak tak tahu diri itu kecelakaan dan baru sadar, kita susun rencana lagi untuk menghancurkannya kalau perlu membunuhnya,” ujar Juan.
Noel mengepalkan tangannya sebal. Lalu ide gila terlintas di benaknya, dia menatap pantulan dirinya di jendela rumah besar itu.
“Aku akan manfaatkan tubuh ini!”
***