Selesai memasak, May menyiapkan semua makanan yang tadi telah dia buat untuk makan siang. Dengan telaten dan tanpa kesalah, dia menatanya rapi di depan Darka.
“Silakan makan, Tuan. Ini sup yang Anda minta tadi.” Ucap May sambil menungkan satu mangkok kecil sup untuk Darka yang sudah siap melahap makanan yang May buat untuknya.
“Kamu mau ke mana?” Darka mengernyitkan kening ketika melihat May pergi setelah menyiapkan semua yang ada di atas meja. “Cepat duduk! Kita makan bersama.” Titah Darka tanpa tersenyum, padahal dalam hati merutuki sifatnya yang tidak bisa mencairkan suasana atau berlaku selayaknya pada istri yang dia cintai.
May menggaruk pelipis tanda malu karena merasa tidak sopan. “Maaf Tuan, May belum mandi. Jadi, May pamit untuk mandi karena sudah merasa lengket tidak nyaman.” Ucap May sambil cemas karena takut tidak bisa pergi, padahal tubuhnya sudah terasa lengket.
“20 menit! Aku tunggu mandi 20 menit.” Ucap Darka dengan kembali menyimpan sendok yang hendak digunakan.
May yang mendengar malah melongo, tidak mengerti dengan apa yang Darka katakan.
Tuk! Satu pukulan sendok di kening, membuat May sadar dengan apa yang terjadi.
“Kamu malah melamun, apa 20 menit tidak cukup lama untuk kamu mandi?” ucap Darka sambil menatap May yang melamun.
“Cukup, malah lebih dari cukup. Tapi, untuk apa___”
“Tinggal 15 menit lagi.” Ucap Darka memotong perkataan May. Tangannya terlipat di d**a dengan tubuh menyender di kursi.
May mendengar melotot, berlari dengan cukup kencang menuju kamar mandi yang terdekat supaya tidak memakan waktu.
Kening Darka kembali mengernyit menatap sang istri malah masuk kamar mandi di sana. Tapi dia tidak urung untuk bertanya.
Setelah 10 menit, Darka yang tengah menatap layar handphone terlonjak kaget mendengar teriakan May dari arah kamar mandi tadi. Dengan sigap kakinya melangkah terburu-buru.
Tok, tok, tok, pintu diketuk untuk memastikan May tidak apa -apa. Namun setelah satu menit, Darka malah dibuat cemas. Pasalnya May masih belum membuka pintu, teriakan pun tidak di jawab.
Tok, tok, tok. Darka kembali mengetuk pintu. Malah ini lebih heboh sambil menggedor-gedor. “Sayaaang, kamu tidak apa-apa?” teriaknya dengan terus menggedor.
Ceklek, pintu kamar mandi terbuka, menampakkan kepala May yang menunduk. Darka kembali di buat bingung ketika pintu di tahan May untuk tidak terbuka lebar.
“Kamu kenapa, Apa ada yang sakit? Cepat aku lihat! Jangan membuat makin tidak tenang.” Ucap Darka sambil terus mencoba untuk membuka lebar pintu kamar mandi.
“Tidak apa-apa.” May bicara sambil menggelengkan kepala dan kembali tertunduk. “May lupa tidak membawa handuk dan bajuuu,” kepala May mendongak, “Tidak mungkin May keluar tanpa benang sehelai pun. Ja, jadi, jadi bisakah Tuan mengambilkan May, May baju ganti?”
Tawa Darka menjawab apa yang May risaukan, sampai dia cemberut dan menutup pintu kasar. Darka yang melihat itu malah makin terhibur. Dengan satu dorongan, dia telah bisa membuka dan menatap May tengah berjongkok tanpa sehelai benang pun. Darka langsung berhenti tertawa, dengan satu tarikan, dia melepas baju kaos yang tengah di gunakan, tanpa bicara dia mengangkat May untuk berdiri dan memakaikan bajunya supaya May tidak masuk angin.
“Apa susahnya meminta tolong, toh aku tidak akan merasakan di repotkan oleh istri sendiri. Karena kamu itu tulang rusuk yang di titipan Tuhan untuk menjadi menyempurna rusukku yang hilang.” Ucap Darka sambil memangku May di depan dadanya tanpa merasa risi karena bagian bawah May pasti akan bersentuhan dengan kulit tubuhnya.
May langsung mengeratkan pelukan pada leher Darka sambil membenamkan kepala di celuk lehernya tanpa mau menatap kanan dan kiri. May terka pasti banyak pelayan yang menatap dirinya, dan ternyata itu tidak salah. Para pelayan tersenyum dan saling berbisik senang menatap Nonanya di perlakukan manis oleh Tuannya setelah lama mereka melihat May banyak di perlakukan secara tidak baik.
“Kamu mau memakai baju yang mana?” Darka menyadarkan May yang masih bersembunyi di balik lehernya.
Secara perlahan, kepala May terangkat dan berbalik menatap tumpukan baju yang tergantung rapi di lemari. Telunjuk May mengarah pada baju terusan selutut berwarna biru langit.
Tanpa mau melepaskan, Darka mengambil baju tersebut, dan duduk di kursi. Dengan telaten dia memakaikan May baju, dari mulai penutup gundukan kembarnya sampai celana dalam dan terakhir baju yang tadi May tunjuk tanpa mau menurunkan May dari gendongan.
May tidak berani menatap Darka yang memperlakukannya bak seorang bayi, yang baru lahir. Padahal bila sendiri pun May bisa karena dia tidak apa-apa, terkena musibah pun tidak. Setelah selesai, May kembali Darka gendong dan di bawa ke ruang makan untuk makan bersama.
May yang di perlakukan seperti itu sungguh bahagia, tapai itu tidaklah lama setelah dia ingat apa yang terjadi dalam rumah tangganya, sehingga May kembali tertunduk lemas membayangkan mungkin ini hanya mimpi yang harus berlalu ketika dia tersadar. Tanpa berpikir, May mengeratkan pelukan di leber Darka supaya dia tidak cepat terbangun dari impi indah ini. Setelah itu air matanya meleleh tidak bisa dia bendung lagi.
“Hey, ada apa?” Darka berusaha melepas pelukan May untuk bisa melihat sang istri. Namun, Mmay makin mengeratkan pelukan dan hanya menggelengkan kepala.
Darka tahu dan sadar dengan apa yang terjadi pada istrinya. Dengan lembut dia mengusap kepala sang istri tanpa memulai makan, padahal perutnya sudah mulai minta di isi.
May telah cukup menangis, dia mengangkat kepala, membalikkan kepala ke depan melihat Darka yang tengah makan. Namun, mulutnya langsung membentuk huruf ‘O’ kala melihat belum ada jejak makanan yang ada di piring Darka.
“Maaf, gara-gara May Tuan belum makan. Kalau begitu May akan,” Tubuh May menegang di kala Darka menjatuhkan kepala di belahan gundukan kembarnya. Terasa Darka menghirup nafas dan ada kecupan kecil di sana. Setelah itu, kepala Darka menjauh.
“Bisakah kita makan sekarang, aku sudah lapar, perutku terus berbunyi meminta untuk di isi. Padahal ini sudah lewat jam makan siang.” Ucap Darka menatap May dengan mata sayu karena lapar.
May mendengar keluhan Darka malah tertawa cekikikan, “Kenapa Tuan tidak makan lebih dulu? Padahal Tuan bisa makan tanpa menunggu May.”
“Siapa yang menunggumu, aku tuh tidak makan karena merasa geli dengan ingusmu yang jatuh di leherku.” Ucap Darka sedikit kesal. Padahal dalam hati hanya ingin bermain-main saja.
May kembali menunduk meninta maaf, hatinya mengiyakan apa yang tadi ada di pikirannya, “Ternyata tadi itu hanya__”
Peletak! Satu sentilan mendarat di kening. Membuat May mengembungkan pipi cemberut, “Bisakah May melaporkan Tuan ke PPA?” ucap May sambil mengusap keningnya yang sakit.
Darka kembali mengernyit tidak mengerti dengan apa yang istrinya katakan. “Katanya pintar! Tapi PPA saja tidak tahu!” ucap May sambil memukul pipi Darka sampai dia terlonjak kaget. “PPA ituuu, Perlindungan Perempuan dan Anak.”
Darka yang baru sadar langsung kembali menyentil kening May, “Jadi kamu mau melaporkan suamimu sendiri?”
“Andai bisa, hahaha ....” May langsung memeluk leher Darka. “Tapi May tidak bisa karena Darka suami May yang May miliki dan juga sayangi.” Ucap May sambil mengeratkan pelukan, membuat tubuh Darka langsung menegang dengan apa yang baru May katakan.
***