Di tempat lain yang masih satu atap, Darka tengah melihat Kia yang tengah bermanja-manja di atas kasur dengan tanpa sehelai benang pun. Bibirnya menyunggingkan senyum mencemooh dengan apa yang adik angkatnya lakukan. Andai ayahnya tahu apa yang di lakukan anak yang baru dia temukan ini, pasti dia akan langsung memutuskan hubungan dengan cara membawa Kia rumasakit untuk di obati. Entah itu obat penenang atau obat pelupa ingatan, Darka tidak pernah tahu. Itu dilakukan karena Darka tahu kalau ayahnya tidak akan suka pada siapa pun yang akan menghancurkan keluarganya.
Cara Kia menghancurkan keluarga besar bukan menggunakan senjata atau sebangsanya, tapi dampaknya bisa membuat kehancuran yang paling dalam di hati sang ayah, dan itulah yang paling berbahaya, karena seorang ayah akan terus terbawa jelek bila anaknya melakukan kesalahan walaupun hanya kesalahan kecil.
Jadi ingat ya, kalau mau melakukan hal yang tidak baik, ingatlah apa dampak untuk orang tua kita. Sok bijak!
“Maaas, kenapa masih diam saja?” ucap Kia dengan terus bergerak seperti cacing kepanasan. Sepertinya obat yang kepala pelayan suntikan sudah mulai bereaksi.
Darka yang menatap Kia dengan masih menggunakan pakaian lengkap, langsung memakai sarung tangan karet untuk memegang tangan Kia setelah dia menutup matanya dengan kain yang sudah di sediakan. Tangan Kia di borgol dan dia ikat ke kepala ranjang, begitu pun dengan kakinya.
“Maaas, apa yang kamu lakukan?” ucap Kia yang merasa ada yang aneh dengan yang Darka lakukan.
“Ssst ... jangan berisik, inilah yang aku inginkan saat ini, kalau kamu tidak mau, aku___”
“Tidak, teruskan saja apa yang ingin kamu lakukan. Tapi jangan terlalau lama, aku sudah tidak tahan.” Ucap Kia sambil terus mendesah. Dia benar-benar merasa sensasi yang aneh, tapi ini sangat menyenangkan dan tidak mau berhenti.
Setelah selesai, Darka mengeluarkan sesuatu yang seminggu lalu dia beli lewat kepala pelayan. Tanpa rasa iba, dia memasukkan benda perlahan membuat Kia kian terbang karena dia merasa sensasi yang membuatnya ingin terus mengeluarkan desahan.
Melihat itu Darka tersenyum miring, dia makin menambah kecepatan dan meninggalkan Kia sendiri di kamar tersebut setelah mencuci tangan dan mengganti baju dengan yang bersih.
“Di mana May?” ucap Darka ketika kepala pelayan menghampirinya.
“Tuan, itu___” kepala pelayan tidak berani berkata karena dia merasa takut akan kemarahan Darka.
Darka yang mengerti tersenyum simpul. “Kamu tahu bagaimana sifatku. Jadi jangan pernah berpikir yang macam-macam. Aku tahu dia akan seperti itu, makanya aku menyuruhmu membeli barang itu kemarin.” Ucap Darka sambil melangkah pergi untuk menemui sang istri.
“Tapi tuan, semua___” dia kembali tidak bisa bicara, karena merasa iba pada semua pelayan bila mereka di pecat.
Darka berhenti melangkah dan kembali mendekati kepala pelayan. “Itu yang aku inginkan, karena dengan itu aku bisa tahu apa tujuan Kia sebenarnya. Jangan banyak bertanya di luar, karena dinding itu punya telinga.” Ucap Darka sambil menepuk pundak kepala pelayan dan berlalu pergi.
Kepala pelayan menghembuskan nafas lega, karena akhirnya terbebas dari rasa bersalah pada Nonanya karena telah menutupi kesalah Tuannya. Dia pun sekarang yakin bila Tuannya tidak melakukan hal yang orang lain pikirkan.
“Barang yang kamu beli, sepertinya membuat dia makin menggila!” teriak Darka sebab dia telah cukup jauh.
Wajah kepala pelayan langsung memerah mendengar apa yang Darka katakan. Dia tidak menyangka kalau sifatnya yang selalu mencari sesuatu yang aneh-aneh bisa membuat Tuannya terbantu.
Darka menatap sang istri yang tengah memasak makanan yang dia minta lewat kepala pelayan. Tangnya terlipat di d**a sambil menyender di pintu, dia terus menatap sang istri yang tengah fokus pada pekerjaannya.
Rambut May di cepol sampai Darka bisa melihat kulit lehernya yang mulus. Jujur, Darka ingin sekali memeluk sang istri dan mendaratkan kecupan-kecupan menggairahkan di sana. Namun, gengsinya masih tinggi. Dia masih tidak mau jujur dan memperlihatkan secara terang-terangan rasa cinta dan sayangnya pada sang istri.
Para pelayan yang melihat Tuannya masuk dapur langsung tercengang, dan setelahnya menyunggingkan senyum dengan apa yang Tuannya lakukan. Ternyata Tuannya tengah memperhatikan Nona mereka. Dengan langkah perlahan, mereka membiarkan sang Tuan dengan segala pikirannya sambil menatap Nonanya.
“Apa Darka sedang kesambet! Tumben-tumbenan dia meminta sup ayam. Biasanya yang dia minta sup buah atau sup apalah itu yang tidak ada kata ayam dan dagingnya. Tadinya May kira Darka itu vegetarian, tapi ketika melihat dia memakan daging panggang tempo hari, May yakin kalau dia sama seperti yang lain.” Ucap May dengan terus memotong sayuran untuk di satukan dengan sup buatannya.
Berak! May memukulkan pisau ke talenan, “Terus kenapa waktu May masak ayam goreng, dia bilang ‘Saya tidak memakan ayam dan sejenisnya, karena itu terlalu banyak lemak’ SIALAN! Kalau sampai sup ini tidak dia makan,” May langsung mencincang sayuran yang sudah tidak terpai dengan pisau dapur sampai berhamburan ke mana-mana. “May akan menyiramkan sup ini pada MU-KA-NYA!” ucap May sambil menghentakan kaki.
“Tapi May, apa kamu berani melakukan itu?” May tertawa cekikikan dengan kekonyolannya. “Jangankan menyiramkan sup, menatapnya pun kamu tidak berani, May. Ada-ada saja kamu.” May kembali tertawa sendiri sambil memberikan bumbu pada sup yang tengah dia masak.
Darka yang mendengar apa yang May katakan hanya bisa tersenyum, ternyata istrinya bisa segila dan semarah itu padanya. Darka tidak merasa marah mendengar makian May, tapi dia malah merasa senang. Lalu, kenapa selama ini dia tidak bisa melihat pada sang istri? Darka pun hanya bisa bicara TIDAK TAHU.
Darka siap melangkah untuk memeluk sang istri karena dia sudah tidak tahan ingin mencium lehernya. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat May menangis. Dia ingin tahu apa yang menyebabkan sang istri seperti itu.
Hiks ... hiks ... May makin menangis. “Ayaaah, ibuuu, kapan May bisa bertemu kalian? May ingin cepat menemukan kalian. May ingin beban di d**a ini hilang, May ingin ... mengakhiri ini semua, karena May sudah tidak sanggup hidup satu atap dengan orang yang membenci May. Hiks ... hiks ..” May menyeka matanya yang basah dan tersenyum.
“Kamu itu apa-apa sih May, kamu itu harusnya terima saja jalan hidupmu ini. Karena sampai kapan pun kamu tidak akan mendapat kebahagiaan. Ingatlah apa yang dikatakan Darka, kalau kamu hanya mainan dan seorang jalang menjijikkan. Jadi kamu tidak punya hak untuk bahagia.” Ucap May sambil tertawa pelan dengan air mata tidak berhenti keluar.
Darka yang mendengar itu langsung tertegun, ternyata dia sudah begitu dalam menyakiti sang istri. Dengan langkah cepat, dia mendekati May dan memeluknya erat.
May yang mendapat serangan secara tiba-tiba hanya bisa melotot. Namun tidak bisa protes karena dia tahu siapa orang itu dari bau tubuhnya. Dia hanya tidak menyangka dengan apa yang Darka lakukan. “Tu, Tuan ... kenapa___”
Darka membalikkan tubuh May dan mendaratkan bibirnya di bibir May yang tengah terbuka. Dia melakukan itu dengan lembut, dan memuja. May yang di perlakukan seperti itu langsung terbuai dan mengalungkan kedua tangannya di leher Darka.
Darka yang sudah terbawa suasana makin memperdalam kegiatannya sampai dia dengan berani memasukkan tangan ke dalam baju yang istrinya pakai.
“Tuan,” May memberhentikan tangan Darka, membuat sang empu memberhentikan kegiatannya dan menumpukan kepala di ceruk leher May. “Saya sedang masak, Tuan sudah laparkan? Sebentar lagi___”
Perkataan May terbungkam dengan serangan Darka yang melumat habis bibirnya. Jujur, Darka tidak suka ketika May bicara seperti itu. ‘Tuan’ kata itu membuat dia marah dan muak mendengarnya.
Setelah cukup lama mengabsen dan melumat habis bibir May, Darka melepaskannya. “Aku tunggu di meja makan, perutku sudah lapar, Sayang.” Ucap Darka setelah mengecup bibir May dengan dalam.
May menegang, ketika Darka mengganti panggilan dirinya dengan ‘aku’ dan memanggil dirinya dengan ‘sayang’. May langsung memukul kepalanya supaya cepat sadar. “Kamu harus sadar, di mana posisimu Maaay.” Ucap May kembali pada pekerjaannya.
Darka mengepalkan tangan ketika mendengar May bicara seperti itu, dia benar-benar marah pada dirinya sendiri.
****