Seperti yang di ucapkan Darka, Kia benar-benar sering datang ke rumah May walaupun hanya sekedar main-main diranjangnya dan meminta berbagai macam makanan pada para pelayan.
Sampai semua pelayan di buat kesal karena kelakuan Kia sudah merasa ada di rumahnya sendiri, tanpa sungkan atau canggung. Malahan beberapa pelayan pernah melihat Kia dengan beraninya menemui Darka dan menggodanya dengan berlaku manis ketika May tidak ada di rumah seperti pagi ini.
Semua pelayan sudah desas-desus membicarakan kedatangan Kia dengan tidak tahu malunya memakai pakaian kurang bahan di depan Tuan mereka.
Darka yang saat itu tengah meminum kopi yang May sediakan sebelum dia pergi ke pasar, mendengar semua yang di bicarakan para pelayannya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi dia tahu kalau ternyata Kia adik angkatnya yang selama ini orang tuanya cari. Namun, tidak tahu kenapa, hatinya tidak bisa menerima semua itu, berapa kali pun dia meyakinkan hatinya kalau Kia adiknya, tapi hatinya makin menolak dan malah membenci keberadaannya.
Dia kira hanya hatinya saja yang merasakan hal itu, tapi ketika dia mendengarkan curahan hati kedua adiknya, dia pun merasa, kalau ada yang jangan dengan adik barunya itu. Namun, sayang, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena sang ayah sudah terlalu bahagia bisa bertemu lagi dengan anaknya yang telah lama menghilang.
“Untuk saat ini, kita hanya bisa diam. Tapi ingat, jangan pernah lengah, bisa saja ini akan membuat keluarga kita jadi hancur. Sebab kita belum tahu apa kebenarannya. Berdoa saja, semoga semua cepat terkuak bila memang ‘Dia’ bukan saudara kita.” Ucap Darka pada adik-adiknya sambil menekankan kata Dia saat mereka menanyakan harus apa yang di lakukan untuk meyakinkan hati mereka.
“Hai, Mas. Bagai mana sekarang?” Kia mendekati Darka dan berbisik, menjadikan dia kembali sadar kalau ada adik angkatnya saat ini. “Apa May sudah pernah memuaskanmu?” ucap Kia dengan tersenyum. Tangannya tidak segan meremas paha Darka yang hanya tertutup celana selutut.
“Kau!” Darka menatap Kia dengan senyum mengejek. “Apa kamu mau tetap menjadi jalang kakakmu?” ucap Darka sambil tersenyum miring.
“Kalau untuk Mas, aku mau.” Kia mengedipkan mata menggoda, tangannya terulur untuk mencengkeram sesuatu di bawah sana yang pastinya sudah siap tempur karena Kia tahu bagai mana sipat Darka yang tidak akan tahan bila tubuhnya sudah di sentuh.
Benar saja, Darka mulai bereaksi, apa lagi sudah lama dia tidak mendapat sentuhan indah dari seorang wanita mana pun karena tengah memperbaiki hubungan dengan May.
“Kamu memang jalang! Sekarang ikuti aku.” Ucap Darka sambil berlalu, namun sebelumnya, dia menatap kepala pelayan yang langsung mengangguk, tanda mengerti apa yang Tuanya inginkan.
Darka membawa Kia ke kamar dekat kamar pribadinya. “Kamu masih ingat apa yang aku lakukan sebelum kita pada intinya?” ucap Darka sambil menatap Kia yang sudah mulai membuka baju yang dia pakai.
“Tapi Mas, aku kan adikmu, tidak mung___”
“Terserah! Itu sudah peraturannya. Kalau tidak mau, ya, sudah, toh bukan aku yang memaksa.” Ucap Darka, berdiri, hendak pergi dari kamar tersebut.
Kia langsung tertegun, dia kira dengan membawa nama orang tua angkatnya, Darka tidak akan melakukan kebiasaannya yang bisa menyakiti dirinya, tapi ternyata, itu tidak berpengaruh. Dengan berat hati, karena setelahnya dia akan merasa kesakitan, Kia menyanggupi apa yang Darka katakan.
Tidak lama, kepala pelayan datang membawa yang di minta, karena tidak mungkin Darka memanggil dokter ke rumah, dia memerintahkan kepala pelayan yang dulunya seorang suster untuk menyuntikan obat yang biasa dia gunakan pada wanita yang akan dia gunakan. Namun tanpa sepengetahuan Kia, dia meminta untuk menambahkan obat lain yang tentunya aman untuk di berikan. Tidak mungkin dia membuat Kia menghembuskan nafas karena obat yang dia berikan karena bisa-bisa ayahnyalah yang akan mengamuk dan meminta Darka untuk menikahinya. Setelah selesai, sang pelayan pergi undur diri.
“Bila May menanyakanku, katakan aku punya pekerjaan. Tidak mau di ganggu sedikit pun!” ucap Darka pada sang pelayan sebelum dia membuka pintu kamar untuk pamit pergi.
Satu kali anggukan menandakan kalau sang pelayan mengerti dengan apa yang Tuannya inginkan. Dengan cepat, dia pergi dari sana karena tidak mau melihat kecurangan Tuan dan tenam Nonanya.
“Aku kasihan sekali pada Nona muda, dia tidak pernah tahu kalau sebenarnya teman yang dia anggap saudara itu sudah menusuknya dari belakang, aku takut, bila Nona pergi, dia yang akan menggantikan Nona kita.” Ucap salah satu pelayan yang tengah mengepel lantai.
“Hus! Kamu jangan bicara yang tidak-tidak, kalau Tuan sampai mendengar, kita pasti akan kena celaka, mending kalau hanya di pecat, bagaimana kalau nyawa kita yang menjadi taruhannya.” Ucap temannya sambil terus menyapu.
“Siapa yang akan membunuh kalian?” suara itu membuat dua pelayan yang tadi langsung menegang, pasalnya itu suara May yang baru saja sampai setelah dia membeli berbagai macam makanan yang dia inginkan.
“Heeey, apa kalian mendapat ancaman, cepat katakan, siapa yang mengancam kalian? Cepat katakan, aku akan membantu kalian.” May menatap kedua pelayan itu yang malah terlihat ketakutan dengan tangan yang gemetaran.
Mereka takut, kalau Nonanya mendengar semua yang mereka katakan dari awal, tapi ternyata hanya menanyakan siapa yang mengancam. Tapi tetap saja, membuat dua pelayan tersebut ketakutan.
“Ti, tidak ada Nona, tadi kami hanya membicarakan soal berita yang tadi pagi kami lihat di TV.” Ucap pelayan yang satu sambil mengedipkan mata pada temannya supaya mengiyakan apa yang dia ucapkan.
“Iya, Nona, kami membicarakan itu. Jadi jangan terlalu khawatir pada kami.” Ucapnya sambil menyunggingkan senyum.
May menggelengkan kepala, “Baiklaaah! Kalau kalian tidak mau bicara. Aku anggap tidak mendengar apa pun yang kalian katakan. Tapi, kalau nanti kalian meminta bantuanku, aku tidak akan mendengarkannya.” Ucap May sambil berlalu dan pergi untuk memulai masak apa yang dia mau.
“Apa tadi Nona mendengar apa yang kita___”
“Iya, apa kalian tadi melihat Kia kesini?” ucap May sambil menatap dua pelayan tadi yang langsung terlihat tegang.
“Nona Kia, itu, emm ... tadi, dia____”
“Ternyata Nona di sini, saya dari tadi mencari Nona, karena Tuan berpesan untuk meminta Nona membuatkan sup ayam.” Ucapan kepala pelayan membuat dua pelayan itu terbebas dari pertanyaan May tentang Kia.
“Benarkah? Tumben dia meminta itu, biasanya dia akan meminta sup buah atau sejenisnya. Kau begitu dimanah Tuan sekarang?” May menatap kepala pelayan yang terlihat menegang.
“Tuan berpesan untuk tidak mengganggunya, nanti kalu sudah selesai dia akan menemui Nona langsung.” Ucap kepala pelayan sambil terlihat cemas.
May merasakan itu, tapi dia enggan untuk bertanya panjang. Dengan tersenyum, May mengangguk dan pergi meninggalkan semua pelayan.
“Aku tidak sanggup bila haris terus berbohong.” Ucap kepala pelayan sambil menghela napas panjang.
***