16

1144 Words
     “Sepertinya temanku sangat bahagia dengan pernikahannya?” ucap Kia sambil tersenyum kecil, menggoda May.       Orang yang di goda hanya tersenyum dan mendudukkan diri di sofa, “Seperti yang kamu lihat.” Ucap May sambil tersenyum simpul. “Tapi ... sudahlaaah, jangan menggoda. Sekarang ayo ceritakan apa yang membuat temanku ini terdengar bahagia ketika di telepon tadi?” May menatap Kia dengan serius. Entah kenapa, hatinya sungguh penasaran dengan apa yang akan Kia katakan.      Kia langsung tersenyum dan mendekati May, “Mamih mengatakan, kalau aku akan di angkat menjadi anak oleh orang yang cukup berpengaruh di negara ini.” Kia langsung menjatuhkan tubuh di kasur.        May terdiam, hatinya terasa tidak rela dan iri mendengar apa yang Kia katakan. Ada rasa nyeri yang dirasakan di lubuk hatinya. “ada apa denganku?” gumam May dalam diam. Otak dan hatinya bebar-benar menolak apa yang akan mamih lakukan.        “May, kamu kenapa?” Kia terbangun menghadap sang sahabat yang terdiam, “MAY!” tangan Kia langsung pemukul pundak May, sampai dia terlonjak kaget.   “Iiih, Kia! Sakit ini.” May langsung meringis dengan apa yang Kia lakukan.       Kia hanya tersenyum dan kembali menjatuhkan diri di kasur. “Kalau aku benar-benar jadi anak angkat mereka, aku ingin punya kamar seperti kamar kamu ini May, sekarang kamu tidak akan lagi menghindar dan malu bila jalan sama aku karena aku pun sudah jadi orang kaya sama seperti suamimu.” Ucap Kia dengan menatap langit-langit kamar.       May kaget, menatap Kia, “Kenapa kamu bicara seperti itu, selama ini May tidak menghindarimu, dan tidak merasa malu berteman denganmu, Ki. Tapi maaf, kalau akhir-akhir ini May selalu menolak setiap kita akan bertemu, karena ada yang harus May kerjakan.” Ucap May sambil memegang tangan Kia.        “Memangnya apa yang sedang kamu kerjakan May?” Kia terlihat ingin tahu apa yang temannya ini lakukan.        May terdiam sebentar. Tadinya dia ingin mengatakan apa yang tengah dia cari, tapi hatinya melarang dan May pun teringat apa yang mamih katakan waktu itu. Jujur, dia merasa heran, kalau mamih mengatakan itu untuk dia tunjukan pada Kia.      “Maaay, kamu tidak mau bicara sama aku?” Kia menatap May dia menjadi penasaran.        “Kata siapa May tidak mau bicara, akhir-akhir ini May sedang sibuk dengan belajar memasak dari pelayan di sini, supaya May bisa memasakan sesuatu yang jadi makan favorit Darka.” Ucap May dengan tersenyum, menunjukkan keseriusan dengan yang dia katakan.       “Benarkah! Kalau begitu, aku ingin mencoba masakanmu juga, ayo kita ke dapur.” Kia bangun , langsung menarik tangan May untuk pergi.        May mengurut d**a, untung dia mengatakan soal makanan, kadi Kia tidak terus bertanya dan langsung mengajaknya untuk memasak. “Kalau bukan kamu yang mamih maksud, May minta maaf, Ki, karena sudah menaruh kecurigaan padamu.” Ucap May dalam hati sambil mengikuti Kia yang telah berjalan terlebih dahulu.         Acara masak tidak sampai selesi, Kia mendadak mendapat panggilan telepon dari orang yang biasa menyewa jasanya. May hanya bisa tersenyum dengan apa yang Kia katakan ketika dia ditanya kapan akan insaf dan meninggalkan apa yang dia kerjakan.         “Kalau uang yang aku punya sudah banyak, mobil punya, motor harus, tanah dimana-mana, rumah bagaikan istana dan satu lagi, suami kaya juga mau memberikan uang untuk aku berfoya-foya.” Itulah jawaban yang baru saja terlontar dari mulut temannya, Kia.       “Keinginanmu memang terlalu tinggi, tapi May harap semua itu cepat terwujud, supaya kamu bisa lepas dari pekerjaanmu.” Gumam May sambil menatap kepergian sang teman.         “Maaf, Nona, iniii.” Salah satu pelayan menunjuk bahan makan yang masih berserakan belum di selesaikan.       May mengangguk, dia mengerti apa yang diucapkan pelayan tadi. “Teruskan saja, nanti bagikan pada yang lain. Oh iya, di mana__”         “Saya di sini, Non.” Ucap kepala pelayan dengan mengangguk hormat. Dia sudah tahu, kalau May tengah mencarinya.        Saat ini semua orang yang ada di rumah sudah tahu, siapa May seabarnya. Maka dari itu, Dia begitu dihormati oleh mereka seperti yang mereka lakukan pada Tuannya, Darka . Walaupun, Darka sering menindas May, tapi itu bukan urusan mereka. Pokonya, istri Darka berarti Nyonya di rumah ini, walau dia tidak diinginkan.           “Tuan tidak pergi bekerja, sepertinya tubuh Tuan sedang tidak enak, soalnya tadi dia meminta saya untuk membawakan teh lemon.” Ucap sang kepala pelayan membuat May tersenyum dan mengangguk dengan apa yang di katakannya, dia pun meminta May untuk langsung melihat sang Tuan.           “Baiklah, May akan melihatnya lagi. Oh, iya. Tolong bawakan nasi dan lauk yang tadi sudah May masa ke kamar Tuan, ya.” Ucap May sambil pergi tergesa-gesa untuk melihat keadaan Darka.            Sesampainya di depan pintu kamar Darka, May mengetuk, membuka perlahan dan melihat ke dalam dengan hanya memasukkan kepalanya. “Tuan, apa Anda ada di dalam? May masuk ya?” ucap May sambil terus menatap ke penjuru ruangan.         “Kalau mau masuk, cepatlah. Jangan berdiam diri di sana, itu membuat saya terganggu.” Suara itu membuat May menoleh ke arah ranjang, “Cepat masuk, dan tutup pintunya.” Ucap Darka dengan pelan.         May masuk dengan perlahan, supaya tidak mengganggu Darka yang tengah terbaring sambil menutup kepala dengan tangannya. “Bagaimana keadaan Tuan saat ini?” May hendak mendekati Darka, tapi dia urungkan dan kembali melangkah ke depan pintu membukanya ketika mendengar ketukan kembali.          “Terima kasih, biar saya yang bawa.” Ucap May pada pelayan yang baru saja datang. May kembali menutup pintu dan mendekati Darka. “Tuan, ayo makan dulu, tadi May membuat ini.” Ucap May sambil menyimpan nampan yang berisi manakan di samping tempat tidur.        Darka menurunkan tangan, tadinya dia tidak ada nafsu untuk makan, tapi ketika hidungnya mencium bau harum dari masakan May, perutnya langsung bereaksi dan meminta untuk diisi.          Setelah Darka duduk dengan nyaman, May menaruh nampan di depan Darka dengan bantuan meja lipat untuk tempat nampan makanan di letakan. Tanpa rasa bersalah, My memegang dahi Darka untuk mengetahui suhu tubuh sang Tuan.           “Alhamdulillah, demam Tuan sudah mulai turun, namun setelah makan, Tuan masih harus meminum obat, supaya lekas sembuh seperti biasanya.” Ucap May dengan tersenyum karena dia sudah berhasil membuat Darka sehat dengan cepat.          Darka yang di perlakukan seperti itu hanya diam tidak bicara ataupun menolak, dia benar-benar diam seribu bahasa. Sedangkan May, yang melihat Darka hanya diam, senyum mengembang makin terukir di bibir manisnya. Sejujurnya May ingin membuat Darka mencintainya, tapi usahanya untuk saat ini, dia fokuskan pada masalah siapa orang tua aslinya, jadi masalah hati, May akan sedikit menyisihkannya walau pun hatinya merasa itu tidaklah baik, tapi itu yang terpenting untuk saat ini.       “Apa temanmu sudah pergi?” ucapan Darka membuat lamunan May kabur dan kembali pada kenyataan.        “Barusan.” May menganggukkan kepala. “Terima kasih sudah membolehkan Kia datang kesini.” Ucap May sambil menunduk.          “Sepertinya, aku harus terus memberi izin, karena itu memang keharusan yang benar-benar harus.” Ucap Darka sambil memberikan senyuman kecil yang membuat May merasa ada banyak tanda tanya di sana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD