15

1445 Words
Paginya May kembali terbangun karena suara deringan telepon dari Darka, dia kembali meminta berbagai macam dan menyuruh May untuk tetap di sampingnya walau hanya duduk tanpa mengerjakan apa pun. Desahan berat kembali terdengar dari mulut May karena dia sudah merasa bosan tidak melakukan apa-apa. Biasanya dia tengah membantu pelayan lain memasak sebelum kembali pada misinya yaitu mencari titik terang keluarganya. “Maaay,” terdengar panggilan Darka lirih. May mendekat, alangkah terkejutnya dia ketika melihat Darka menggigil kedinginan. Tangan May terulur, untuk kembali meyakinkan demam semalam sepertinya belum turun. “Ya ampun! Kamu panas sekali, Mas.” May dengan paniknya berlari ke dapur mengambil air untuk mengompres. Tidak berselang lama, sebuah kain bertengger di dahi Darka yang telentang. Tok-tok-tok, pintu kamar di ketuk pelayan yang membawakan bubur. “Masuk saja!” ucap May karena dia tidak bisa beranjak. Sebab tangannya di pegang erat Darka yang tengah tertidur. “Terima kasih, maaf sudah menyuruhmu membeli bubur pagi-pagi.” Ucap May dengan senyum mengembang. Sang pelayan mengangguk, membalas senyum May setelah itu dia pun pergi untuk melanjutkan pekerjaan yang di tinggalkan. “Maaas, Hey, bangun dulu, makan bubur dulu, ya!” May menepuk-nepuk pipi Darka supaya dia bangun, Darka yang sejak tadi hanya berpura-pura tidur langsung membuka mata. “Saya suka dengan panggilanmu barusan.” Ucapnya sambil memberikan senyum, menatap May yang mengerutkan kening. May menutup mulut karena dia baru sadar dengan apa yang dia ucap tadi, May beringsut dan menunduk, “Maaf Tuan, May tadi panik jadi ber___” “Sudahlah! Saya lapar, mau makan. Cepat suapi saya dan duduklah kembali di dekat saya.” Ucap Darka yang langsung memotong apa yang ingin May katakan sambil menepuk kasur di sebelahnya. Dengan cukup ragu-ragu, May kembali duduk di samping Darka dengan memegang mangkuk bubur yang tadi dia simpan di pinggir ranjang. Dengan telaten dan jantung yang dak-dik-duk karena takut Darka marah kembali seperti hari-hari yang lalu ketika dia berbuat salah, May menyuapi Darka yang terus saja menatapnya. “Apa kamu sudah menemukan apa yang di cari?” ucap Darka sambil menerimanya suapan yang May berikan. May yang tengah menunduk mendongak kembali mengerutkan kening, sepertinya hari ini otak May sedikit lola. Buktinya dia selalu termenung ketika Darka bertanya. Peletak! Kebiasaan Darka yang suka menyentil kening May kembali terjadi, “Kamu itu anak bodoh ternyata! Dari tadi terus saja lola.” Ucap Darka sambil menatap May kesal. May menunduk merutuki otaknya yang kurang respons dengan apa yang Darka katakan. “Maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut May. Darka mendengus, “ Bukannya kamu mencari sesuatu selama ini, sampai mengacak-ngacak gudang.” Ucap Darka menatap May. “Oooh, itu.” Bibir May membulat dan menggeleng, “Belum. Sepertinya May harus memin___” Ddrrrt ... ddrrrtt.. handphone May berdering menjadikan dia tidak meneruskan bicara dan memilih untuk mengangkat telepon. “Halo, Kia, Kamu apa kabar?” ucap May sambil menyuapi Darka yang mendengus karena merasa di dua-kan. “Baik May. Oh ya, May, apa aku bisa bertemu denganmu? Ada yang ingin aku katakan.” Ucap Kia dari seberang sana. “Sepertinya ada berita bahagia? Tapi .... “ May menjauhkan telepon dan menatap Darka, “Bolehkan___” “Datang saja!” ucap Darka yang langsung menjawab dengan memotong perkataan May. May tersenyum dan kembali menyuapinya. Dengan kasar Darka menyambut suapan yang May berikan. Dia merasa kesal, karena waktu berdua dengan May terganggu. “Sepertinya kamu akan menjadi orang lain Darka!” ucapnya dalam hati sambil mengunyah bubur yang May berikan. May menutup telepon setelah memberikan kabar kalau Kia datang saja ke rumah, karena saat ini dia tidak bisa keluar. May kembali pada Darka yang meminta minum karena buburnya tandas tidak tersisa. “Sekarang minum obatnya, supaya cepat sembuh.” Ucap May sambil memberikan obat beserta air minum. “Nanti saja. Kamu taruh di sana.” Ucap Darka, hendak berbaring karena kepalanya kembali pusing. “Jangan dulu tidur, lebih baik menyender saja. Supaya kamu tidak merasa mual.” May mendekat pada tubuh Darka ketika akan memberikan bantal di belakang punggungnya. Dengan tenang, Darka langsung merangkul pinggang May dan menyenderkan kepala di bahunya. May langsung menegang ketika Darka memperlakukannya seperti itu. Sungguh, May sungguh bahagia bercampur takut karena ini kedua kalinya mereka sedekat ini atas inisiatif Darka sendiri setelah menikah. Darka yang merasakan May menegang, makin mengeratkan pelukan dan menghirup leher May dengan begitu rakus. Dia merasakan tenang dan pusingnya sedikit-sedikit bisa membaik. Tok-tok-tok pintu kembali di ketuk dari luar, May yang tengah di peluk Darka mencoba untuk melepaskannya, namun sayang, Darka tidak melakukan apa yang May inginkan. Malahan dia makin mengeratkan pelukan supaya May makin merapat pada tubuhnya. “Masuk!” Darkalah yang berucap, karena May malah diam tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Dia pasrah dengan apa yang Darka lakukan, walaupun akan merasa risi ketika pelayan yang hendak masuk melibatnya. Pelayan itu membuka pintu, mukanya langsung memerah karena menyaksikan Tuannya yang tengah memeluk orang yang dulu di perkenalkan sebagai pelayan baru. Dia langsung menunduk hormat ketika matanya melihat kilatan amarah dari mata sang Tuan. “Ma, maaf Tuan, di luar ada orang yang ingin bertemu dengan Ma___” “Apa kamu bilang!” Darka menatapnya dengan tajam karena pelayan itu memanggil May dengan tidak sopan. May yang mendengar Darka marah langsung berusaha melepaskan pelukan. Namun sayang, itu semua tidaklah mudah, karena Darka kembali mengertakkan pelukan. “Ma, maaf-maaf tuan.” Si pelayan langsung bertekuk lutut karena menyadari kesalahannya yang kurang sopan ketika memanggil May. Dia merutuki kebodohannya, padahal dia sudah di beri perintah untuk memanggil May dengan Nona oleh kepala pelayan. “Cepat pergi! Saya tidak mau melihatmu lagi.” Ucap Darka sambil mendengus dan menghirup bau tubuh May yang menenangkan urat sarafnya. Darka melepas pelukannya setelah merasa tenang, “Sepertinya temanmu sudah merencanakan akan datang kesini, nyatanya dia dengan cepat sudah sampai rumah.” Dengus Darka kesal. May hanya bisa tersenyum, karena dia tahu bagaimana kelakuan Kia ketika dia menginginkan sesuatu, apalagi dia sudah berapa kali meminta izin untuk bisa datang ke rumah. “Cepat temui temanmu itu, dan selesaikan semua yang ingin kalian lakukan dengan cepat. Supaya kamu bisa kesini lagi dengan cepat.” Ucap Darka sambil menatap May. May mengangguk, tapi sebelum pergi, dia memberikan obat terlebih dahulu supaya Darka bisa langsung tidur. Setelah semua selesai, May pergi meninggalkan Darka yang sudah menutup mata hendak tidur. May langsung keluar menemui Kia, karena para pelayan tidak berani membiarkan Kia masuk sebelum May menyuruhnya. “Ya ampun, May, orang-orang di sini begitu menjengkelkan! Mereka melarang aku masuk dan harus menunggumu datang dan membawa masuk!” ucap Kia kesal karena hampir 20menit dia harus berdiri menunggu May. May hanya tersenyum setelah memeluk Kia melepas rindu. “Ayo masuk.” May menarik tangan Kia menuju kamarnya. “Huuu,” Kia langsung terpana ketika melihat kamar yang khusus Darka siapkan untuknya. “May, ini kamarmu? Bagus banget! Oh iya, tidak apakah, aku masuk kamar ....” Kia menaik turunkan alis sambil tersenyum. May mengerti apa yang May isyaratkan. Pasti dia berpikir ini kamar May dan Darka. May menggaruk tengkuk yang tidak gatal, dia merasa bingung dengan apa yang harus diucapkan. Tidak mungkin May bilang kalau sebenarnya dia dan Darka tidak satu kamar, padahal selama ini dia bicara kalau Darka begitu perhatian padanya. “Maaay,” Kia menjentikkan jari di depan muka May, menyadarkannya dari lamunan. “Hehehe ... tenang saja, kamar ini hanya di peruntukan untuk May, dan untuk kamar kami__,” May tersenyum simpul “Ada kamar yang lain.” May makin mengembangkan senyum supaya Kia percaya dengan semua kebohongannya. “Huiiih!” Kia langsung takjub, dia menjatuh tubuh di atas ranjang yang kasurnya lebih empuk dari kasur yang dia gunakan dia rumah. Tok-tok-tok, ada orang yang mengetuk dari balik pintu. May tahu siapa itu, karena tadi dia meminta seorang pelayan untuk membawakan mereka minum. Tanpa berpikir panjang, May langsung membuka pintu. Namun ternyata, itu Darka yang tengah memegang nampan. Tanpa di persilahkan masuk, Darka langsung menerobos dan menyimpan minum di atas meja kecil. “Sayaaang, aku pergi kerja dulu ya. Kamu sama ....” Darka diam menatap sang istri, May yang tengah terkejut karena sikapnya yang mendadak manis. Darka tersenyum melihat respons yang May berikan. Dia langsung mendekat dan menarik pinggang May. “Kamu mau, mempermalukan saya, karena pernikahan ini?” ucap Darka di dekat telinga May. May langsung tersadar kalau sebenarnya mereka tengah bersandiwara. May tersenyum dan mengalungkan tangan, setelah itu berbalik menatap Kia yang tengah memandang aksi mereka. “Perkenalkan, Mas, dia Kia teman May di rumah Mamih.” Ucap May sambil mengusap rahang Darka yang ada di dekatnya supaya sandiwara mereka terlihat cukup nyata. “Oooh, jadi ini teman baikmu.” Darka menatap Kia yang tersenyum padanya. “Hai, saya Darka. Suami May si manja.” Ucapnya sambil melihat May yang terlihat tersipu. Cup! Satu kecupan di bibir diberikan sampai May kembali di buat terkejut. “bersenang-senanglah. Mas mau pergi ke kantor dulu. Bila membutuhkan sesuatu, kamu minta saja pada pelayan.” Ucap Darka sambil memeluk May erat. Cup! satu kecupan, Darka berikan kembali pada pipi dan bibir May sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan May dan Kia yang tengah menatap kemesraan yang diberikan Darka dengan tangan yang terkepal di samping tubuhnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD