May merasa kesal, jengkel dan juga marah pada suaminya, bisakah dia mengatakan Darka suaminya? May tersenyum miris, pasalnya sampai saat ini, Darka masih saja memperlakukannya sebagai pembantu yang tidak ayalnya seorang robot yang tidak memerlukan istirahat sedikit pun.
Jam sudah menunjukkan masuk tengah malam, tapi Darka masih saja mengganggu dan menyuruh May untuk melakukan ini dan itu tanpa henti. Sepertinya dia sengaja membuat May bekerja tanpa beristirahat.
“Maaay, tolong ambilkan air hangat, saya merasa___,” ucapan Darka tidak terselesaikan karena May telah berlalu ke dapur untuk mengambul air yang Darka inginkan.
“Iiih, sebenarnya apa yang dia inginkan! Sudah minta ini, minta itu, tapai tidak di makan sedikit pun!” May terus saga menggerutu sambil menggaruk kepala untuk menyalurkan rasa kesal juga jengkelnya.
“Apa May harus memberikan obat tidur pada minuman ini, supaya dia tidak terus mengganggu!” bibir May menyeringai, sepertinya dia mendapatkan ide yang cukup manjur.
Dengan sigap May mencari obat tidur di lemari yang berjejer dengan obat lainnya. Sudah biasa kepala pelayan menyediakan berbagai macam obat untuk mengantisipasi bila ada pelayan yang sakit. Di lemari berbagai macam obat ada, malahan obat yang menurut May cukup mengerikan pun ada yaitu obat telat datang bulan. Benar-benar mengerikan, memangnya di sini para pelayan suka seperti itu ya! Terlintas pikiran yang mengerikan terbayang di otak May.
“Ya ampuuun, May itu berpikir apa sih! Ya pasti obat itu ada, karena di sini pelayannya ada juga yang suami istri. Malahan berbanding banyaknya dengan yang masih jomlo.” May tersenyum kecil dengan pikiran bodohnya.
Dddrrrt ... dddrrrttt ... handphone May bergetar, memperlihatkan nama orang yang masih mengganggunya di malam larut ini. Dengan malas, May menekan tombol hijau,
“KAMU DI MANA! APA KAMU INGIN SAYA___,” Tut! May mematikan panggilan telepon secara jengkel, pasalnya Darka terus saja mengoceh tanpa henti membuat telinganya sakit.
Tanpa mengetuk pintu, May masuk ke kamar yang Darka tempati. “Kamu dari mana saja, saya sudah menunggumu dari tadi!” ucap Darka yang tengah berbaring sambil memegangi selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
May tidak menjawab, dia menunduk dan mendekati Darka yang masih terbaring dengan menatap pergerakan May yang terlihat mencurigakan.
“Silakan di minum, Tuan. Supaya airnya masih hangat.” Ucap May sambil menyodorkan air yang dia bawa. Namun, Darka bukannya mengambil air yang May sodokan, tapi dia malah menarik tangan sampai air yang May bawa tumpah membasahi selimut yang Darka gunakan
“Aaah, Tuan, apa yang___,”
“Diamlah, aku ingin memelukmu seperti ini.” Ucap Darka dengan parau, mengganti kata ‘saya dengan aku’. Tidak tahu karena dia memang ingin mengganti panggilan itu atau dia berkata dengan tidak sadar. May tidak tahu.
Pelukan Darka makin mengerat setelah dia melempar selimut yang basah akibat terkena air yang May bawa tadi. May merasakan ada yang salah dengan tubuh Darka, pasalnya dia merasa ada hawa panas darinya.
May membalikkan tubuh untuk menghadap pada Darka yang masih memeluk dan memejamkan mata. Tanpa ragu tangannya terulur untuk memegang dagi Darka supaya dia bisa mengecek, apa yang dia pikirkan sama dengan apa yang terjadi.
Darka membuka mata, melotot ketika May sudah lancang memegang dahinya walaupun dia merasakan itu cukup membuat hatinya tenang, “Apa yang kamu___,”
“Ya ampu, Tuan, Anda Demam!” May menempelkan telapak tangannya di leher Darka dan memang bebar, Datka terserang panas. Pantas saja dia banyak meminta ini dan itu seperti anak kecil yang merajuk ke ibunya.
“Mau ke mana?” Darka makin mengeratkan pelukan ketika merasakan May akan beranjak dari sana.
Pelak! May memukul tangan Darka yang melingkar di pinggangnya, “May akan mengambil obat dan minum, supaya Tuan cepat sembuh. Cepat, lepaskan dulu tangannya.” Ucap May sambil berusaha keluar dari pelukan Darka.
Dengan berat hati Darka melepaskan pelukan, “Jangan lama-lama.” Ucapnya menatap May dengan sayu.
Sungguh, May ingin tertawa saat itu juga, dia merasa gemas dengan apa yang Darka katakan barusan. ‘jangan lama-lama, biasanya dia yang suka meninggalkan May lama-lama.’
“Jangan diam saja, kalau mau pergi cepat. Kalau tidak___,” Darka kembali menarik tangan May sampai dia terjatuh kembali di pelukan Darka.
Sungguh, ini membuat May sport jantung. May merasa Darka makin menempel padanya tanpa ada umpatan yang biasa dia keluarkan dengan tatapan tajam dan menakutkan. Hati May senang dengan apa yang terjadi saat ini, sungguh dia berharap Darka terus sakit supaya dia bisa membuat hati May bahagia dan di inginkan.
Peletak! Satu sentilan di kening membuat May kembali pada alam sadarnya, membuat May berusaha kembali untuk lepas dari pelukan Darka. “Tuaaan, May mau mengambil obat.” Ucap May dengan jantung yang makin berdetak kacau karena Darka bukan hanya memeluknya, tapi juga memberikan kecupan kecil di belakang telinganya. Membuat dia kegelian dan ingin cepat terlepas dari pelukan Darka. “Tuaaan,” May kembali bersuara karena Darka makin menggila.
Darka menarik nafas kasar, dengan berat hati, dia kembali melepaskan pelukan di tubuh May. “Cepat kesini lagi.” Ucap Darka sambil memberikan kecupan di pipi May sebelum dia benar-benar melepaskan May.
May hanya mengangguk, tanpa menatap mata Darka, setelah itu berlari ke dapur untuk mengambil apa yang dia butuh-kan.
“Aduh Maaay, apa yang barusan terjadi!” May menepuk-nepuk pipinya. Sungguh, ini membuat pikirannya makin kacau! “Sepertinya dia sakit cukup parah! Sampai mengigau seperti itu.” May tersenyum dan dengan cepat mengambil air juga obat yang Darka harus minum.
Di kamar, senyum simpul terbit begitu indah dan memesona di bibir Darka, dia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan barusan. Dengan senyum makin mengembang, tangannya menyugar rambut ke belakang sambil terduduk. “Tidak disangka, ternyata berbuat manis padanya membuat hati bahagia dan tenang.” Ucapnya sendiri sambil menatap pintu, berharap May datang dan tersenyum padanya.
“Aaah, kamu sudah tidak waras, Darka!” tubuhnya kembali terhempas di atas kasur, matanya menatap langit-langit kamar, “Aaah, aku sudah gila, kenapa wajahnya terus saja terlihat jelas!” Darka memijit kepala berharap bayangan May menghilang.
“Tuan, apa kepala Anda pusing?” ucapan May membuat Darka terkejut.
“Ya ampuuun, kapan kamu datang!” Darka langsung menatap May tajam.
May bukannya menjawab, dia mendengus sambil mendekat pada suaminya yang terus ingin di panggil Tuan. “Ketika Tuan berkata ‘Kenapa wajahnya ter__”
“Sudah-sudah tidak usah di lanjutkan!” ucap Darka sedikit malu dan cemas, takut May tahu dan sadar kalau dirinyalah yang sedang Darka pikirkan.
May langsung terdiam, hatinya terasa sakit ketika tahu suaminya memikirkan orang lain. “Sepertinya aku akan terus menjadi pembantunya.” Gumam May sambil memasang muka sedih. Dia memberikan minum dan obat pada Darka yang menatap lekat tanpa May sadari. “Tuan, segera minum obat ini dan___” May langsung terdiam ketika dia memergoki Darka menatapnya.
“Kenapa! Apa kamu ingin memuji saya karena saya begitu tampan? Tapi sayang, sayang tidak akan memberikan ketampanan ini padamu, karena saya sudah mempunyai seseorang.” ucap Darka sambil menatap May tajam untuk menetralkan kegugupannya yang ketahuan tengah menatap May.
Hati May benar-benar sedih ketika mendengar Darka kembali memanggil dirinya dengan kata saya, sepertinya tadi dia sedang tidak sadar karena sakit, buktinya kata itu kembali dia gunakan. “Iya, Tuan memang tampan, sampai saya pun tergila-gila pada Tuan.” Ucap May tersenyum.
Deg! Jantung Darka berdegup cukup kencang, “Kenapa dia terlihat tenang, apa dia tidak penasaran dengan sosok yang aku maksud!” ada rasa kesal gemuruh di dadanya, dengan kesal Darka mengambil obat dari tangan May dan meminumnya dengan satu tegukan air. Rasa pahit dari obat tidak sebanding dengan rasa kesal di hati pada sosok wanita di depannya.
“Tuan, saya akan___”
“Cepat pergi! Saya tidak suka kamu lama-lama di sini. Kecuali kamu ingin menjadi jalang di bawah kungkungan tubuh saya.” Potong Darka dengan geram sambil menatap May tajam.
May tertegun ketika Darka kembali memanggilnya jalang, matanya sudah mulai memerah. Ingin sekali dia berteriak dan mencaci Darka saat itu juga, tapi May urungkan. Dia memilih pergi dari pada kembali mendengar perkataan Darka yang membuat hatinya sakit. “Saya, pergi dulu Tuan.” May keluar dari sana, menyisakan Darka dengan rudukannya karena kembali menyakiti hati sang istri.
***