13

1583 Words
Di tempat lain, seorang peria lanjut usia tengah bersandar di sofa ruang keluarga dengan seorang wanita cantik bersandar di d**a bidangnya yang masih terbungkus kemeja kerja. “Bagaimana Mas, apa kamu sudah bertemu dengan anaknya?” suaranya mengalun indah teredam d**a bidang sang suami. “Mas, baru menyuruh Ruta untuk pergi ke sana, karena ada pertemuan penting di kantor.” Ucap Fibra sambil mengelus rambut sang istri yang masih terlihat cantik dan segar walau sudah tidak muda lagi. Ya, dua orang berjenis kelamin berbeda itu Fibra dan Zivanya yang tengah beristirahat sambil membicarakan anak mereka yang sebentar lagi akan diajak pulang setelah sekian tahun tidak ditemukan. “Aku harap, ini pencarian terakhir kita Mas, karena aku sudah tidak sabar memeluk anak kita yang sudah lama pergi.” Ucap Zivanya, memeluk sang suami. Fibra yang merasakan tubuh sang istri bergetar, pelukannya makin mengerat, dadanya terasa basah. Sepertinya Zivanya menangis. Fibra mengusap punggung sang istri dan mencium puncak kepalanya. Dia merasa bahagia, kalau Zivanya begitu mencintai anaknya walau dari wanita lain. “Mas pun berharap yang sama sayang, mudah-mudahan Tuhan mengabulkan doa kita.” Ucap Fibra kembali memberikan kecupan-kecupan kecil di kepala sang istri. Walaupun sudah tidak muda lagi, kemesraan mereka tidak pernah sirna, malah makin menjadi. Ya, May anak Fibra dari wanita lain yang dulu pernah di culik ketika masih kecil, namanya dulu Mika. Tapi karena Mamih tidak tahu nama anak yang dia temukan, maka dari itu dia mengganti nama kecil Mika menjadi May. Kejadian penculikan itu membuat ibu kandung May terkena serangan jantung dan meninggal beberapa menit kemudian saking sedihnya, ayah tirinya sakit-sakitan setelah May menghilang dan istrinya meninggal. 3tahun lamanya dia bertahan, sambil mencari keberadaan May sampai pada waktu 2tahun yang lalu, ayah tiri May ikut meninggal karena penyakitnya makin parah. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Dia sempat menitipkan May pada Fibra dan Zivanya, meminta mereka untuk menyayangi May seperti anaknya sendiri. “Mas kapan mau melihat anak itu? Aku ikut ya!” Zivanya mendongak menatap sang suami yang tengah mengusap punggungnya setelah tahu dia menangis. Fibra mengulurkan tangan menangkup wajah sang istri, “Mungkin besok lusa sayang, Mas masih punya pekerjaan yang__” Buk! Satu pukulan keras bersarang di d**a Fibra sampai dia mengaduh dan menatap sang istri yang malah tersenyum miring, melipat tangan di d**a. “Kamu kenapa? Mas punya salah__” Buk! Pukulan yang kedua bersarang di tempat yang sama, sampai rasanya d**a Fibra sesak. “Sayang, apa yang kamu__” “APA! Kamu sadar tidak bicara apa barusan, Mas!” Zivanya menjauh dari tubuh Fibra dan menatapnya tajam, “Sampai kapan kamu lebih mementingkan pekerjaan dari pada anak-anak dan aku, HAH!” ucap Zivanya marah, “Apa aku harus pergi meninggalkan__” Cup! Fibra membungkam mulut Zivanya dengan ciuman, Zivanya melepas dengan kasar. “Jangan bicara yang tidak-tidak, Mas tidak suka, ya!” Fibra menatap Zivanya. “Bagaimana aku tidak marah, kalau Mas terus saja mementingkan perusahaan.” Zivanya melipat tangan di d**a karena kesal, walau sebenarnya semua itu tidaklah benar. Sebab Fibra selalu mementingkan dirinya di atas apa pun juga. Fibra bukannya marah, dia malah tersenyum. Ternyata istrinya masih sama seperti dulu, garang dan menakutkan bila sedang marah. “MAS KAMU__” “Ya ampun, Maaam! Sudah pada tua masiiih saja berantem! Malu sama tetangga.” Ucap seorang anak laki-laki yang baru saja datang sekolah. Itu terlihat dari bajunya yang masih memakai seragam padahal ini sudah sore. “KAMU DARI MANAH LAGI!” Zivanya balik menatap anak itu sambil bertolak pinggang dan menatap garang, melupakan kemarahannya pada Fibra. ‘Sepertinya aku salah waktu.’ Ucap anak itu sambil menggaruk tengkuk dan menatap sang papah yang malah memberikan jempol, memberi isyarat tanda meledek. “Telinga kamu masih berfungsi, bukan!” Zivanya menatap anaknya dengan kesal karena tidak dapat jawaban. “Kalau di tanya orang tua, jawab, bukan malah cengengesan!” Zivanya makin kesal. “Firdan dari rumah Ne__” “Nenek, Nenek! JANGAN BOHONG KAMU! Mamah tadi telepon Nenek, mereka malah menanyakan kamu ke mana saja, karena jarang ke rumahnya.” Zivanya makin menatap anaknya garang. “Maaf, tadi Firdan ke__” “Ke rumah pacarnya, Mam!” potong seorang gadis yang umurnya tidak jauh dari Firdan. “Tadi Zanna lihat Abang bonceng cewek, sampai lupa jemput Zanna di rumah Ayah Ruta. Untung saja Ayah cepat pulang, jadi Zanna bisa minta di antar pulang.” Ucap Zanna dengan cemberut sambil menyalami orang tua dan abangnya. “Kamu ke rumah Ruta lagi?” Zivanya menatap anak perempuannya yang tengah duduk di pangkuan sang suami. Zanna mengangguk, “Kalau mamah dan papah izinkan, Zanna ingin ikut tinggal di desa dengan ayah Ruta.” Ucapnya sambil mencomot buah apel yang tadi Zivanya kupas untuk Fibra. “Kenapa kamu mau tinggal di sana?” Fibra memandang sang anak yang masih saja manja padahal umurnya sudah mau beranjak dewasa. “Zanna bosan jadi anak manja, mau merasakan bagaimana hidup di desa.” Ucap Zanna kembali mencomot buah apel. “Uuuh, lagamu Dek! Sama papah juga masih manja, mana bisa hidup di desa yang harus kerja keras.” Ucap Firdan ikut mencomot apel. “Oh iya, pah! Katanya Mbak Mika sudah di temukan, ya? Tadi Firdan bertemu sama Bang Darka.” “Mudah-mudahan saja itu Mbak kalian, mamah sudah rindu sama dia. Entah seperti apa rupa dia sekarang, karena waktu kecil rupanya mirip banget sama papah kamu.” Zivanya menjawab sambil duduk di samping sang suami yang masih merangkul anak perempuannya. Melihat mamahnya duduk, Firdan tersenyum pasalnya dia yakin kalau sang mamah lupa akan kesalahannya. “Jangan cengengesan, Bang. Mamah belum lupa kebohonganmu, uang jajan kamu mamah potong 2,5%. “ Ucap Zivanya, memakan kue yang baru saja di sajikan ART. Firdan menganga dengan apa yang Mamahnya katakan, padahal dia sudah berencana akan membeli helm baru karena helmnya rusak akibat dilempar pacar wanita yang tadi tengah dia bonceng. Zanna yang melihat abangnya menurun pundak tersenyum culas, dia memberikan lengkungan jempol yang di balikan supaya mengarah ke bawah sambil meleletkan lidah. “Kamu juga mamah hukum, karena tidak minta izin untuk ke rumah Ruta. Selama seminggu cuci baju pakai tangan tanpa di bantu SIAPAPUN!” ucap Zivanya sambil berdiri hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika Darka datang. “Anak ibu, akhirnya ke sini tanpa di minta.” Ucap Zivanya, menerima salam Darka yang tersenyum simpul. “Tidak ada kata berpelukan!” ucap Fibra ketika melihat sang istri akan memeluk Darka. Darka melebarkan senyumnya mendengar amukan Ayahnya, dia masih saja tidak rela kalau istrinya berlaku manis pada siapa pun, walau itu anaknya sendiri. “Bang Darkaaa!” Zanna langsung menghambur ke peluk Darka. Andai saja dia tidak sigap, pastinya mereka akan tersungkur ke belakang. “Untung Bang Darka kesini sendiri, Dek. Kalau sama ceweknya,__” “Zanna pasti dilabrak karena disangka menikung mereka. Hahaha....” Firdan dan Zanna tertawa sampai berderai air mata ingat kejadian satu bulan lalu ketika mereka bertemu dengan Darka yang tengah bersama wanita yang bergelayut manja di tangannya. “Benarkah!” Darka menatap Zanna yang masih dia gendong, “Kalau begitu, bagaimana kalau Zanna nikah saja sama Abang?” Darka menatap Zanna yang langsung bergidik ngeri. “Eeewh! Zanna tidak suka sama om-om! Karena Zanna daun muda, jadi, suami Zanna juga harus daun muda.” Ucapnya sambil tersenyum. “Maksudmu, Abang sudah tua ya!” Darka mencubit hidung Zanna gemas, “Abang doakan semoga Zanna nikah sama om-om. Sebab sudah berani menghina Abang.” “Aamiiin....” Ucap Firdan sambil mengusapkan kedua tangan ke wajahnya sendiri. “Abang! Bang Darka sama Bang Firdan mengesalkan!” ucap Zanna sambil cemberut tapi masih nemplok di pangkuan Darka. “Kalian itu! Selaluuu saja mengganggu Darka. Kasihan dia, kalau kalian ganggu terus.” Ucap Fibra sambil menarik tangan Zivanya supaya duduk dan merangkul pinggangnya. “Harusnya kalian biarkan dia bersama wanita itu dan melepas lajangnya, supaya tidak mengganggu istri papah lagi.” Fibra menatap sang istri dan mendaratkan satu ciuman di bibir. “uuuh....” Firdan dan Zanna menatap jengah sebab papahnya selalu melakukan kemesraan di depan mereka anak-anaknya tanpa rasa canggung dan rasa bersalah. Zivanya mengerutkan kening, “Bukannya Darka sudah menikah? Kamu kan yang bilang waktu itu, Mas!” Zivanya menatap sang suami setelah mendapatkan satu ciuman di bibir. Fibra terdiam mengingat apa yang istrinya katakan, “Oh iya, ART-mu bilang seperti itu padaku waktu itu.” Matanya menatap Darka yang tengah menurunkan Zanna dari pangkuan. Darka menatap orang tua angkatnya, “Iya, tapi itu karena aku kesal padanya sebab dia berani membangkang. Yaaa, bisa dibilang pernikahan karena dibayar.” Ucap Darka santai. “Kamu jangan macam-macam Ka, cinta itu datang tidak bisa ditebak. Bisa saja hari ini kamu kesal, tapi lama-lama kamu cinta juga. Contohnya, ini!” Zivanya menunjuk d**a Fibra, “Ayahmu ditinggal Ibu sampai marah-marah tidak karuan, padahal dulu Ibu menikah karena membayar hutang.” Ucap Zivanya yang langsung mendapatkan satu ciuman kembali di bibir dari Fibra. Darka tidak menjawab, karena apa yang dikatakan Ibu angkatnya, memang benar adanya. Dia sudah jatuh cinta pada May, istrinya. Tapi lagi-lagi karena hasutan dari seseorang, dia pun terus mengelak dengan apa yang dia rasakan. “Oh iya, Bang! Abang sudah bertemu dengan Mbak Mika?” Zanna yang tidak suka suasana yang hening, langsung menanyakan hal yang memang ingin dia ketahui, apa lagi ini masalah keluarganya. Darka kembali sadar dari lamunan ketika mendengar pertanyaan Zanna. “Belum, Dek. Tapi, sepertinya Abang pernah bertemu, sebab istri Abang dari sana asalnya.” Ucap Darka sambil mengusap kepala Zanna. “APA!” Ucap Fibra dan Zivanya bersamaan, sebab dia tahu tempat seperti apa yang saat ini anaknya tinggali. “Kamu mencari istri dari tempat___” Buk! Fibra kembali mengaduh sebab dipukul Zivanya. “Mas, jangan seperti itu, Mas sadar tidak, tempat itu tidak jauh berbeda dengan tempatku dulu? Tidak semua orang di sana tidak baik, Mas. Mereka pasti punya alasan masing-masing dalam menjalani hidup. Tidak baik langsung mengecap jelek, sedangkan kita tidak tahu kebenarannya.” Ucap Zivanya sambil menatap garang sang suami yang langsung terdiam mendengar apa yang dikatakannya. Darka tertegun mendengar apa yang Ibu angkatnya katakan, pasalnya dia sudah melakukan itu pada May istrinya tanpa menyelidiki kebenarannya. *** Kalau penasaran sama kisah Zanna, langsung baca Dove ya. Salam hangat dariku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD