Hari berikutnya May kembali mencari berita di koran yang mungkin saja akan membawanya ke celah masalah yang tengah dia pikirkan. Setelah selesai dengan pekerjaan yang Darka perintahkan, May bergegas ke tempat kemarin dan membaca semua berita dikoran 15 tahun yang lalu.
“Haaahh....” Embusan nafas menjadi akhir dari pencarian yang tengah di lakukan. Akhirnya May hanya bisa menjatuhkan tubuh di permadani yang menjadi alas duduknya. Dia lelah karena tidak mendapatkan hasil apa-apa. Tangannya dilipat untuk menutup mata yang mulai berkabut karena merasa hidup ini begitu berat.
Suami yang dia harapkan akan membawa kebahagiaan hanya ada di angan belaka. Hidup bahagia setelah menikah hanya ada di cerita yang selalu May baca. “Apa yang harus May lakukan Tuhan?” kabut dalam matanya berubah menjadi embun yang sedikit-sedikit membasahi pipi. May lelah, dia ingin secepatnya menemukan orang tua kandungnya bila mereka masih ada. Supaya May bisa mencurahkan isi hatinya yang mulai muak dengan semua tuduhan Darka padanya.
Drrrt... drrrt.... Suara handphone, membuat May sadar kalau dia harus tetap maju tanpa harus mengeluh dan terpuruk.
May menatap benda pipih yang terus mengeluarkan suara yang tertera nama mamih di sana. Sebelum tangannya mengambil benda tersebut dan menggeser warna hijau, terlebih dahulu May mengusap mata, terbangun dan menormalkan suaranya supaya mamih tidak curiga dia tengah menangis.
“Halo, Mih.” May langsung menyapa dengan suara riang setelah beberapa menit.
“Hay, Sayang. Bagaimana kabar anak mamih, sehatkah?” suaranya terdengar sedih dari seberang sana, entah apa sebabnya.
“Baik, Mih. Sebaliknya, Mamih sehat? May kangen pelukan Mamih.” Ucap May sambil mengusap mata yang mulai berkabut kembali.
Dari seberang sana, mamih terdiam. Dia pun merindukan anak asuhnya itu, apa lagi setelah kejadian tadi pagi, membuat dia benar-benar rindu May anak asuhnya yang sudah dia anggap anak sendiri.
“Mih, ada yang ingin aku tanyakan pada mamih.” Mamih yang tengah sarapan tadi pagi, menatap anak asuhnya, Kia yang duduk di hadapannya sambil menatap tajam.
Entak mengapa, dari dulu Kia selalu terlihat memusuhinya, padahal selama ini mamih selalu baik pada semua anak. Namun Kia selalu berkata kalau dia tidak pernah di perlakukan baik olehnya.
“Apa yang ingin kamu tanya, Kiii?” mamih memberhentikan sarapannya, menatap Kia teduh.
“Aku ingin, Mamih menggantikan nama May dengan namaku untuk di jadikan anak angkat Pak Fibra dan Ibu Zivanya, bisa-kan?” Ucapnya sambil melipat tangan di d**a.
“Apa yang kamu katakan! Itu tidak mungkin, Ki. Karena__” mamih terdiam. Dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Kia, kalau sebenarnya May anak kandung Pak Fibra dan Ibu Zivanya yang dulu di culik. Sebab mereka ingin tetap merahasiakan identitas May untuk berjaga-jaga. Itulah amat yang diberikan orang suruhan Pak Fibra satu hari yang lalu.
“Kenapa tidak mungkin, Miiih. Mamihkan tahu, May sudah hidup bahagia dengan Tuan Darka. Jadi untuk apa dia dijadikan anak angkat oleh mereka. Sedangkan aku, aku pun ingin bahagia seperti May, Mih. Supaya bisa membahagiakan, Mamih.” Ucap Kia sambil memegang tangan Mamih cukup erat.
“Apa kamu iri dengan apa yang May miliki, Kia?” mamih menatap anak asuhnya yang dari dulu selalu menjadi sahabat May.
“Aku memang iri pada May, dari dulu dia selalu menjadi sainganku. Orang-orang selalu baik padanya dan menyayanginya. Sampai Kia selalu di sisihkan, tidak dianggap ada oleh semua orang.” Ucapnya sambil menyender pada kepala kursi.
“Ya ampun Kia, apa yang kamu pikirkan, May itu selalu baik dan sayang sama kamu. Dia selalu merelakan kebahagiaannya untukmu, dia selalu mengalah dan mementingkan dirimu, seharusnya kamulah yang berbuat sebaliknya karena umurmu lebih tua darinya!” mamih benar-benar tidak habis pikir dengan anak asuhnya yang ini.
“Mamih tidak usah banyak bicara, itu urusanku. Sekarang Mamih hanya harus mengurus pergantian namaku dan May saja, sebelum Pak Fibra dan Ibu Zivanya datang.” Kia bangun dari duduk hendak pergi. Namun sebelum itu, dia menatap mamih. “Kalau mamih tidak mengindahkan apa yang aku inginkan, lihat saja, aku akan membuat hidup May tidak akan tenang.” Ucapnya dengan serius.
Mamih yang tengah makan mengusap wajah, menghembuskan nafas berat. Ternyata berbicara di rumah tidak selalu bagus, apa lagi ini sebuah rahasia yang harus dia sembunyikan. Dia tidak tahu harus bagaimana, karena dia tahu Kia tidak akan main-main dengan apa yang dia katakan.
Semalaman Mamih tidak bisa tidur, dia merasa resah dengan apa yang Kia katakan, apa lagi anak itu anak yang nekat. Dia juga bisa merayu orang lain supaya menjadi benci orang yang mereka sayang.
“Ya ampun, apa dia berencana membuat Tuan Darka membenci May!” mamih bergumam dalam diam sambil mengusap muka, “Sebaiknya aku melakukan apa yang Kia katakan, sebelum dia menghancurkan May.” Itulah keputusan Mamih tadi malam, tapi sebelumnya, dia ingin memastikan kalau May benar-benar di cintai Tuan Darka.
“Halo, Mih! Apa Mamih baik-baik saja?” suara May menyadarkannya yang tengah melamun dengan apa yang terjadi tadi.
“Iya sayang, mamih masih di sini. Maaf mamih barusan sedang membuat teh.” Ucapnya dengan raut muka sedih. “Kamu sedang apa, sayang?”
“May sedang mencari informasi yang mungkin bisa menjadi celah tentang siapa May sebenarnya, Mih.” Suara May terdengar berat, “May ingin segera tahu, supaya May bisa menyelesaikan masalah yang lain. Tapi sayang, May belum bisa mendapatkan apa yang diinginkan.” May menunduk dan menutup mulut supaya nafas lelahnya tidak terdengar.
“Apa kamu belum meminta pertolongan dari Tuan Darka suamimu, May?” ucap mamih setelah mendengar keluhan May.
May mengaruk keningnya, “Iya, Mih. May masih belum berani bicara karena Darka terlihat sibuk. Jadi May mengurungkan niat untuk bicara meminta bantuan.” Ucap May sambil tersenyum.
“Apa Tuan Darka memperlakukan kamu dengan baik, menyayangi dan mencintaimu?” selidik mamih.
May diam sebentar dan tertawa, “Darka benar-benar baik, dia sayang dan cinta sama May. Malahan May diperlakukan bak Puteri di sini. Mamih jangan risau, May senang ko di sini.” Ucap May dengan tersenyum.
“Syukurlah kalau seperti itu, mamih merasa lega. Tapi kenapa kamu belum meminta bantuan Tuan Darka?”
“Darka masih sibuk, setiap hari dia pulang malam. Sepertinya ada masalah, jadi May mengurungkan niat untuk bicara. Lagian Mamih pernah bilang, mengatakan sesuatu pada suami harus lihat dulu keadaan suami seperti apa, supaya tidak terjadi salah paham. Benarkan!”
Mamih tersenyum, ternyata semua yang dia ucapkan untuk kebaikan rumah tangga May, dijalankan May dengan baik. Jadi dia tidak bisa marah karena dia tidak bisa memaksa dengan apa yang May inginkan, sebab dalam rumah tangga hanya suami dan istrilah yang tahu apa yang terbaik untuk mereka karena mereka yang menjalani. Makanya, rumah tangga akan bahagia kalau istri dan suami banyak berinteraksi dalam kesehariannya, sebab dengan adanya interaksi pasti ada satu titik yang akan membuat kalian tahu sifat dan keinginan masing-masing.
“Sebenarnya kamu tidak usah mencari lagi sayang, karena mamih sudah mengetahui siapa orang tuamu, tapi maaf, maafkan mamih sayang karena harus menyembunyikan semua pakta yang ada supaya hidupmu tenang.” Mamih bicara dalam hati sambil meneteskan air mata. Dia akan melakukan apa yang Kia inginkan untuk sementara waktu, supaya anak asuhnya itu tidak melakukan hal yang akan mencelakakan May. Bila sudah saatnya, dia akan berbicara dengan Pak Fibra dan Ibu Zivanya tentang masalah ini.
“Ya sudah. Mamih yakin, kamu pasti tahu kapan baiknya bicara jujur pada Tuan Darka.” Ucap mamih pada akhirnya. “May sayang, apa kamu masih berhubungan baik dengan temanmu?” mamih menampakkan wajah serius, walaupun dia tahu May tidak akan bisa melihatnya.
May langsung terdiam, ketika mendengar nada bicara Mamih. Dia tahu kalau mamih tengah bicara serius. ‘Ada apa dengan Mamih?’ ucap May dalam hati sebelum dia sadar ketika Mamih kembali bertanya.
“Masih, Mih. Walau belum bertemu langsung, tapi bertukar kabar lewat tulisan sering kita lakukan.” Ucap May riang. Dia tidak mungkin melupakan teman-tamannya di sana apa lagi dengan sahabatnya Kia, May pasti tidak akan melupakannya.
Mamih menghela nafas, itulah alasan orang-orang menyukainya. May tidak akan melupakan teman-temannya walaupun dia orang yang baru May kenal, pasti May akan terus mengingatnya. Apa lagi teman yang sudah dia anggap sebagai saudara seperti Kia.
“Memangnya ada apa? Apa ada masalah di rumah?” May kembali bertanya setelah mendengar embusan nafas berat Mamih.
“Tidak sayang, mamih hanya ingin tahu. Tapi, sayang...” Mamih menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan, “Mamih harap kamu jangan terlalu terbuka soal rumah tangga pada temanmu, karena itu tidak baik. Artinya, kamu memang harus menjalin hubungan baik dengan teman, tapi jangan terlalu dekat sampai semua rahasia rumah tangga kamu katakan, karena itu tidak baik untuk rumah tanggamu, sayang.” Jelas mamih tanpa membuat May curiga pada orang lain, karena mamih tidak ingin dialah yang menjadi rusaknya persahabatan May dengan orang lain.
May terdiam ketika mendengar apa yang Mamih katakan. Dia merasa ada sesuatu yang ingin mamih katakan, tapi dia masih merasa enggan. “Sebenarnya ada apa dengan Mamih,” gumam May dengan lirih.
“Sayang, mamih tutup telepon dulu ya, ada tamu.” May langsung mengangguk walaupun dia tahu mamih tidak akan melibat apa yang dia lakukan. “Awas, May. Ingatlah apa yang mamih katakan barusan. Jangan terlalu terbuka masalah rumah tangga pada orang lain, sekalipun dia teman dekatmu.” Ucap Mamih sebelum menutup telepon.
May kembali menjatuhkan tubuh di permadani dan menutup mata memikirkan apa yang mamih katakan barusan. Sungguh, hidup ini tidak semudah cerita dalam buku yang selalu dia baca.
***