May terlonjak kaget, buku yang tengah dia baca terjatuh, makanan yang setengah jalan masuk ke mulut pun ikut jatuh, membuat berantakan di atas meja yang masih belum May bersihkan. May melotot, dia langsung merutuki kesialannya yang harus kembali mendengar orang lain memakinya. Tadi pagi pelayan yang mempergunjingkannya, sekarang pasti Darka yang akan memarahi dan memakinya setelah melihat May makan dengan tidak punya adab sampai membuat ruangan kerjanya kotor.
“Kenapa malah menatap saya?” Darka mendorong dagu May sampai dia menatap ke samping. “Cepat bersihkan! Saya tidak suka dengan tempat kerja yang berantakan dan kotor.” Darka duduk di kursi kerjanya dan langsung fokus tanpa menatap atau menegur May yang kedua kalinya.
“Tumben Tuan tidak memaki May! Biasanya setiap bertemu tidak pernah alfa dengan yang namanya menghina dan memaki.” Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut May tanpa dia sadari.
“Jadi, kamu lebih suka saya maki dan hina, dari pada saya bersikap baik!” Darka mengerutkan kening pada wanita yang sudah menjadi istri sahnya.
“Eh!” May langsung merutuki apa yang dia katakan barusan. “Bukan begitu Tuan, tapi May hanya____”
“Sudah, sudah! Saya heran, kenapa saya selalu kesal setiap bertemu denganmu.” Darka menghela nafas, “Sekarang cepat bersihkan kekacauan yang kamu perbuat.” Dia kembali fokus pada pekerjaannya
May hanya bisa mengangguk, dia kembali membersihkan kotoran yang tadi dia perbuat. Namun, itu hanya beberapa detik setelah dia melihat tumpukan koran di samping meja. “Tuan?” May menatap Darka yang tengah serius dengan pekerjaannya.
“Heem” Darka langsung berhenti dan menatap May yang tengah menatapnya balik.
Inilah yang membuat dia suka pada sosok May. Dia tidak akan menundukkan kepala ketika berbicara dengan Darka. Itu memang tidak sopan dan terlihat menantangnya. Tapi baginya orang yang seperti itulah yang dia cari, daripada orang yang tiap hari menunduk, seperti hormat dan segan, tapi di belakangnya malah memaki dan menjelekkannya.
“Apa yang ingin kamu tanyakan pada saya?” Darka menatap May tajam karena wanita itu malah terdiam tanpa bicara.
“Ma, maaf Tuan. May barusan tidak__.” May merutuki dengan apa yang dia katakan.
“Jangan ganggu saya lagi!” Darka benar-benar di buat kesal oleh wanita di hadapannya.
May menghela nafas, karena kembali mendapat bentakan dari Darka. Dengan lemas May kembali pada pekerjaannya, tapi matanya kembali menatap koran yang menumpuk.
“Tu__”
“Sekali lagi kamu membuat saya terganggu, saya akan membuat kamu berhenti dengan cara yang__,” Darka menyatukan kedua tangannya dan menyimpan dagu di sana sambil tersenyum menatap May.
May langsung melipat tangan di d**a ketika tahu ke mana mata Darka berlabuh. “Apa yang Tuan__”
Darka mendengus, “Saya tidak akan menyentuh jalang bekas orang lain.” Ucapan itu kembali May dengar dari mulut Darka sang suami, membuat dia ingin marah, tapi ketika ingat ada yang lebih penting, May mengurut d**a sambil menghembuskan nafas perlahan.
“Apa Tuan mempunyai koran yang umurnya 15tahun yang lalu?” May menatap Darka yang mengerutkan kening.
Darka tidak langsung menjawab, dia mengerutkan kening karena heran dengan apa yang May tanyakan. “Untuk apa kamu menanyakan koran yang umurnya sudah tua?” ucap Darka sambil menggeleng, merasa kalau May sedikit tidak lurus. “Apa kamu mendadak jadi gila, menanyakan sesuatu yang bukan-bukan.” Darka menatap May miris. Apa begitu tersiksanya May sampai otaknya miring setelah menikah dengannya.
“Ya elah!” May duduk di sofa yang tadi dan melipat kaki di atasnya tanpa menghiraukan sesuatu menganga di hadapan Darka langsung. “May hanya ingin tahu. Sekarang, apa Tuan mempunyai koran itu?” May menatap Darka yang terlihat langsung menegang.
“Apa kamu terbiasa menjadi w*************a! Sampai duduk seperti itu pun tidak canggung lagi.” Darka bukannya menjawab apa yang May tanyakan, dia malah menatap May tajam karena membuat sesuatu dalam tubuhnya mulai bereaksi.
May mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang membuat Darka sampai berkata seperti itu. Perasaan, dia tidak melakukan apa-apa, apa lagi menggoda.
“Perhatikan cara dudukmu!” Darka sedikit membentak karena May malah terdiam.
May menatap kebagian bawah tubuhnya, dia langsung kaget dengan apa yang terjadi. Bajunya terangkat sampai batas paha bagian atas memperlihatkan paha mulusnya. May tersenyum dengan apa yang dia perbuat. Apa lagi ketika melihat Darka yang mulai gelisah, May malah ingin menggodanya.
“Apa salahnya, May biasanya duduk seperti ini. Tidak ada yang mempermasalahkannya.” May malah makin mengangkat bajunya sampai memperlihatkan celana dalam yang dia pakai.
“Kamu!” Darka makin membentak. “Keluar dari kamar saya!” Darka mengusir May dengan cukup kasar sampai May pun langsung berdiri dan menunduk karena takut.
Darka mendekati May, menjepit dagu dengan cukup kuat, “Dasar jalang! Tidak pernah bosan menggoda orang lain!” Darka melepas tangan dengan kasar sampai kepala May menoleh ke samping. “Ingat, saya tidak akan pernah menyentuhmu sama sekali. Karena saya merasa jijik pada tubuhmu.” Ucap Darka sambil pergi keluar kama.
May langsung melorot ke lantai. Dia kembali disakiti dengan apa yang Darka katakan. “Kalau kamu tidak menyukai May, kenapa kamu mengajak May menikah DARKAAAA!” May berteriak lantang di dalam kamar. Dia merutuki nasib yang selalu membuat hatinya hancur.
Ingin sekali May meraung menangis, untuk menumpahkan rasa sesak di d**a. Tapi May merasa itu tidak lebih penting dari pada mencari informasi tentang kehidupan masa kecilnya. Dengan mengesot May mengambil koran yang menumpuk di samping meja tadi. Dia melihat bulan dan tahun di sana, tapi tidak ada apa yang dia cari. “Kamu itu memang bodoh May, mana mungkin singa benggala menyimpan koran lama di sini,” May memukul kepala sambil membereskan koran yang telah dia acak-acak.
“Nona, apa yang Adan lakukan? Tuan meminta saya untuk membantu Anda membereskan ruangan ini.” suara itu mengagetkan May yang tengah membereskan koran yang tadi dia acak-acak.
“Eh, ini, ini hanya mencari sesuatu di koran. Tapi ternyata koran di sini koran baru.” Ucap May sambil menggaruk tengkuk dan tersenyum ramah. May melupakan apa yang terjadi di antara May dan Darka.
“Oh..., memangnya, koran seperti apa yang Nona inginkan?” sang pelayan ikut berjongkok dan membantu May untuk membereskan koran tersebut.
“Koran yang umurnya 15tahun yang lalu.” ucap May sambil tersenyum.
Sang pelayan mengerutkan kening pasalnya dia merasa aneh dengan apa yang Nonanya inginkan.
“Hehehe, May ingin mencari teman yang katanya dia pernah masuk koran 15tahun yang lalu. Supaya May tidak salah orang, jadi May mau mencari koran itu terlebih dahulu.” Ucap May sambil tersenyum dan berharap si pelayan tidak menganggap dia orang aneh seperti Darka yang akhirnya memarahi dirinya. Walau sebenarnya itu alasan yang tidak masuk di akal.
“Oooh. Kalau begitu, mari saya antarkan ke gudang yang penuh dengan koran lama, Nona.” Ucap si pelayan sambil tersenyum, setelah pekerjaan mereka selesai di ruangan ini.
“Benarkah!” May langsung semringah dengan apa yang pelayan itu katakan. Pasalnya dia pun masih tidak percaya kalau di rumah Darka ada tempat penyimpanan barang bekas. “Kalau begitu, ayo bawa May ke sana terlebih dahulu.” May berjalan lebih dulu supaya si pelayan tidak membuang-buang waktu.
Setelah berjalan cukup jauh, mau sampai di sebuah pintu berwarna coklat yang cukup tua tapi masih terlihat cantik dengan ukiran-ukiran has kota yang sudah terkenal ke penjuru dunia.
“Mari Nona.” Ajak sang pelayan setelah membuka pintu tersebut.
Mulanya May membayangkan di dalamnya itu kotor dan berantakan has dengan yang namanya gudang. Pastinya tempat itu kotor dan berdebu. Namun, semua itu salah. Pasalnya gudang di sini bukan hanya bersih tapi juga rapi dan wangi. Suasanya sejuk seperti kita tengah ada di padang rumput.
“Koran lima belas tahun yang lalu sebelah sini, Nona.” May kembali di buat takjub dengan apa yang dia lihat di sini. Koran itu ditumpuk rapi dengan tahun yang berbeda-beda. “Tuan selalu menyimpan koran. Baik itu koran dari luar negeri ataupun dari dalam negeri. Sekarang silakan mencari apa yang ingin Anda ketahui. Mudah-mudahan bisa membantu.” Ucap si pelayan dan langsung undur diri.
May berdiri di depan tumpukan koran yang tertera angka 15tahun yang lalu dari tahun saat ini. Sebelum May mencari apa yang dia inginkan, May berjalan dulu ke tempat lain, pasalnya di sini bukan hanya koran yang bertumpuk rapi tapi ada juga majalah, buku dan juga masih banyak lagi tertata rapi dengan di kelompokan berdasarkan tahun keluar barang tersebut.
“May tidak menyangka, kalau harimau benggala orang yang suka mengoleksi barang seperti ini. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang May pikirkan.” Ucap May sambil tersenyum.
Setelah puas mengelilingi tempat itu, May mulai mencari sesuatu yang dia harap. May berharap dia mendapatkan sebuah pencerahan yang bisa menjadi gambaran asal mula dari mana dia berasal. May mulai meneliti dari bulan awal di tahun tersebut. May benar-benar hanyut dalam pencariannya sampai dia menghabiskan waktu begitu lama, tapi sayangnya dia belum bisa menemukan apa-apa karena mungkin baru dua bulan koran yang dia baca di tahun itu.
“Selamat sore Nona? Saya di suruh tuan untuk membawa Nona keluar karena Tuan sudah ada di rumah dan meminta untuk disediakan makan.” Sang pelayan membungkuk ketika May menatapnya sambil tersenyum.
“Aaaah, ternyata sudah sore. Padahal May merasa baru sebentar ada di sini.” Ucap May sambil merentangkan tangan di atas kepala dan menguap. “Ayo kita pergi, mungkin besok May bisa mencarinya lagi, bolehkan?” May menatap sang pelayan meminta supaya dia bilang Ya.
“Saya tidak punya kuasa, Nona. Kalau Anda mau silakan bicara dengan Tuan langsung.” Ucap si pelayan sambil mengunci pintu setelah mereka berada di luar.
“Aaahhh... May lupa, kalau dialah yang berkuasa di dini. May akan mengatakannya nanti.” Ucap May sambil berjalan ke ruang makan untuk menyiapkan apa yang Darka inginkan.
“Kamu begitu serius, sampai lupa kewajibanmu di rumah ini!” ucap Darka setibanya May di ruang makan.
“Maaf, May begitu semangat. Tapi, bisa-kan May kembali lagi ke sana besok?” May bena-benar memohon pada Darka.
“Tidak ada yang melarangmu, tapi setelah selesai dengan kewajibanmu.” Ucap Darka sebelum dia makan apa yang May siapkan untuknya.
May mengangguk dan tersenyum. Dia ingin hari esok tiba dengan cepat, supaya bisa mencari yang dia inginkan.
***