Semalam May tertidur setelah hatinya merasa geli dengan pemikiran konyol yang membayangkan dia mengisi hati putih Darka dengan kata-kata yang menyenangkan. Sehingga Darka tidak lagi menghina dan merendahkannya. Sampai-sampai terbawa ke alam mimpi. Namun, mimpi indahnya seketika menghilang ketika tidurnya terganggu setelah May mendengar suara yang cukup gaduh di depan pintu kamarnya.
“Emmm, siapa yang pagi-pagi berisik di depan pintu.” Keluh May sambil menutup kepalanya dengan selimut untuk meredam suara yang telah mengganggunya. Namun, beberapa detik kemudian, May langsung melempar selimut seraya bangun dengan cepat.
May langsung menepuk kepalanya yang telah melupakan kalau dia sudah pindah ke rumah Darka. “Kenapa aku bisa lupa, sih!” dengan cepat May ke kamar mandi dan hanya mencuci muka setelah menggosok gigi.
Tok-tok-tok. Terdengar suara pintu beberapa kali di ketuk, tapi May tidak langsung membuka pintu itu, pasalnya dia belum selesai di baju. Dengan gerakan cepat May mengganti bajunya dengan baju khusus pelayan yang cukup berbeda dari beberapa pelayan yang lain karena baju May benar-benar tertutup dan panjangnya di bawah lutut. Kira-kira hanya menyisakan seperempat dari kakinya yang bisa terlihat.
“Kenapa tidak berdaster saja sekalian, sih! Jadi tidak ribet-ribet kaya gini.” Ucap May yang merutuki bentuk baju yang disediakan Darka. “Padahal yang lain, panjangnya satu senti di bawah lutut. Nah ini, kaya baju anak yang kekecilan. Kebawah tidak sampai ke atas kepanjangan.” Gerutu May sambil menghembuskan nafas kesal.
Selesai dengan bajunya, May melangkah pelan, mendekati pintu yang masih terdengar orang-orang bicara. May membuka pintu perlahan supaya tidak membuat orang-orang di depan sana terganggu, tapi nyatanya, telinganyalah yang terganggu dengan apa yang mereka bicarakan.
“Enak benar ya, pelayan baru ini!” terdengar nada tidak suka.
“Hus, jangan bilang begitu, kelihatannya dia bukan pembatu. Coba kalian pikirkan, tidak mungkin ada pelayan datang, dengan baju pengantin yang warnanya sama persis dengan baju yang Tuan kenakan. Itu kan tidak mungkin. Kalian juga lihat kan, bagaimana Tuan memperlakukan dia walau sedikit kasar. Sepertinya dia itu Nyonya kita.”
“Maksud kamu, pelayan baru ini istrinya Tuan?” satu pelayan terlihat melotot dengan apa yang di katakan temannya.
“Mana mungkin! Semalam Tuan datang ke kamarku, dan kalian tahukan apa yang akan Tuan lakukan!” ucap pelayan yang bertubuh aga kurus. Ternyata dia itu pelayan yang bicara perata kali.
May yang dari tadi mendengarkan apa yang mereka katakan dari balik pintu yang sedikit terbuka hanya bisa diam, ketika mendengar apa yang di katakan pelayan itu. “Jadi dia sudah biasa meniduri pelayannya?” ucap May pelan. Tidak tahu kenapa ada rasa sedih dalam hati ketika ingat kalau saat ini statusnya sebagai istri Darka. “Sepertinya May salah memilih orang. Tapi untung saja Darka tidak datang ke kamar. Jadi May bisa bernafas lega karena masih bisa menghindar darinya.” Gumam May sambil terus mendengarkan apa yang para pelayan bicarakan.
“Apa itu benar?” ucap 2 pelayan pada temannya yang terlihat senang.
“Ya, Tuan semalam datang ke kamarku. Akhirnyaaa, aku bisa merasakan sesuatu yang selama ini aku bayangkan dan juga menghasilkan ini.” Suaranya terdengar bahagia. Satu tangannya melambai-lambaikan secarik kertas. Sepertinya itu sebuah cek yang bertuliskan nominal uang.
“Dasar harimau benggala! Dia bilang May seorang jalang, terus apa namanya dia, yang tiap malam celup sana-celup sini.” Ucap May kesal.
Dengan kesal May membuka pintu lebar-lebar dan menatap pelayan yang tadi tengah bergosip. “Kenapa kalian malah mengobrol di depan pintu kamar?” semua pelayan terlihat kaget ketika May menegurnya, kecuali pelayan yang tadi bicara sudah tidur dengan Darka, dia menatap May kurang bersahabat.
“Kami kesini mau membangunkanmu,” pelayan itu melipat tangan didada, “Jadi pelayan di sini jangan malas, Orang lain sudah bangun, bekerja dan__”
Pelak! Satu tamparan bersarang di pipinya. “Kamu memang wanita jalang dan tidak punya sopan santun!” Pelayan yang semalam menolong May memarahinya, ternyata dia pelayan senior di rumah ini.
“Asal kalian tahu, Nona itu bukan pelayan biasa! Dia itu istri dari Tuan kalian. Jadi, bila masih ingin bekerja di sini, kalian harus hormat pada Nona!” dia benar-benar marah sampai terlihat pipinya memerah, menahan amarah. “Saya pindahkan kalian di bagian gudang!” ucapnya dengan lantang.
Beruk! Ketiganya berlutut di hadapan pelayan itu. May hanya diam memperhatikan, dia ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, pasalnya dia penasaran dengan pelayan di sini yang dia pikir mereka cukup kaku, tapi ternyata tidak. Malahan terlihat sedikit santai.
“Maafkan kami ibu, kami tidak bersalah. Dia yang dari tadi menjelek-jelekkan Nona. Malahan dia bilang kalau semalam dia___”
“Cukup! Saya tidak mau mendengarnya, sekarang kalian pergi dari sini ke gudang!” kepala pelayan membentak dan memerintahkan untuk pergi.
“Untuk kamu!” kepala pelayan menunjuk wanita yang tadi sombong. “Mulai saat ini kamu di pecat! Dan uang yang kamu pinjam dari Tuan tadi malam, akan saya ambil kembali.” Ucapnya sambil merampas kertas yang tadi dia sombongkan pada teman-temannya.
“Tidak, Bu!” si pelayan menatap meminta ampun pada kepala pelayan supaya kertas tadi tidak diambil. “Itu untuk berobat ayah saya, Bu. Saya mohon, Bu. Jangan di ambil uang itu.” Dia berlutut sambil menangis. “Saya mohon, Bu. Saya minta maaf. Tolong maafkan saya.” Dia menangis tersedu-sedu.
Sungguh wanita yang tidak beruntung. Tadinya dia ingin di segani orang lain, tapi hasilnya malah dia di cemooh orang lain, malahan bukan hanya itu, orang tuanya pun harus rela tidak terselamatkan akibat kecerobohan dirinya.
“Kamu bilang maaf! Sudah berapa kali saya melihat kamu menggoda Tuan, malahan, kamu selalu mengatakan kalau Tuan telah tidur denganmu, padahal itu bohong belaka.” Kepala pelayan menatap si pelayan tajam. “Hari itu saya membiarkanmu karena Tuan belum menikah jadi wajar kalau kamu menginginkan dan mendamba Tuan. Tapi untuk saat ini, kamu salah karena menginginkan Tuan yang sudah beristri. Sampai kamu kembali berbohong tentang tidur bersamanya. INGAT! Lebih baik kamu menjadi perawan tua tanpa status dari pada mempunyai status pengganggu rumah tangga orang lain. Karena itu lebih mulia di depan orang lain juga Tuhan.” Ucap sang kepala pelayan padanya.
“Sekarang__” May memegang tangan kepala pelayan, menjadikan dia berhenti bicara.
“Berikan saja cek itu padanya, kasihan orang tuanya. Mungkin itu akan menjadi bantuan terakhir Tuan Darka untuknya.” Ucap May sambil tersenyum dan mengangguk supaya kepala pelayan mengikuti semua yang May perintahkan.
Kepala pelayan terdiam sejenak, dan akhirnya dia mengiyakan apa yang May lakukan. “Karena Nona, saya akan tetap memberikan uang itu. Tapi sekali lagi kamu membuat kesalahan, jangan harap kamu bisa hidup tenang.” Ucapnya sambil melempar cek yang tadi di rampas.
Sang pelayan pergi gontai sambil tertunduk lemas. Itulah sifat alami manusia yang hanya berkata tanpa memikirkan apa akibat dari perkataan dan perbuatannya. Dia akan terjerumus ke dalam jurang penyesalan yang cukup dalam. Bukan hanya dirinya yang akan merugi, orang di sekitarnya pun akan terkena getahnya. Jadi berpikirlah dengan matang sebelum ucapanmu membuat kamu mati secara perlahan.
“Nona, saya minta maaf atas kejadian barusan.” Ucap ketua pelayan sambil tertunduk ketika melihat May hanya diam tanpa berkata apa-apa.
“Eh, tidak apa-apa. May hanya tidak menyangka kalau ternyata Tuan begitu digilai banyak wanita di rumahnya.” Ucap May sambil tersenyum.
“Tuan itu laki-laki yang digilai banyak wanita Nona, baik itu di rumah atau di tempat lain. Jadi saya harap Nona bisa memegang Tuan dengan cukup kencang supaya tidak pergi atau di rebut orang lain.” Ucap sang pelayan sambil tersenyum kecil.
“Dia bukan hewan peliharaan atau sejenisnya. Jadi mana bisa May mencegah dia pergi ke hati wanita lain.” May tersenyum sambil ikut berjalan di belakang ketua pelayan. “Lagian, belum tentu Darka suka sama May, karena May juga seorang pelayan.” Ucapan May membuat ketua pelayan tertegun. Dia tidak menyangka kalau Nonanya berpikiran seperti itu.
“Tapi Nona, sebenarnya Tuan itu sangat___”
“Sudahlaaah, jangan berbicara lagi. Sekarang, tunjukan apa yang akan May kerjakan sebagai pelayan Darka pribadi.” Ucap May sambil tersenyum. Dia tidak ingin mendengar sesuatu yang mungkin akan mengacaukan pikirannya.
Sang pelayan langsung membawa May ke kamar bekerja Darka yang masih terlihat rapi. “Tadi Tuan menyuruh saya untuk memberi pekerjaan pada Nona di kamar ini.” Ucapnya setelah membawa May masuk.
May menatap sekeliling, dia merasa sudah tidak ada lagi yang harus di bersihkan, “May kerja apa?” matanya melirik pada sang kepala pelayan.
“Tuan hanya meminta Nona untuk membereskan debu yang menempel di buku yang berjejer di sana.” Telunjuknya mengarah pada sebuah rak buku yang cukup besar, penuh dengan buku-buku.
May mengangguk tanda mengerti, “Kalau begitu, bisakah May melakukannya setelah sarapan? May cukup lapar saat ini.” May mengusap perutnya yang rata.
Sang kepala pelayan tertegun dengan kecerobohannya yang melupakan sarapan untuk sang Nona. Dia tertunduk, “Maaf Nona, biarkan saya yang mengambil sarapan. Silakan Nona tunggu saja di sini.” Ucapnya dengan tetap menunduk dan pergi tanpa menunggu jawaban dari May.
Sepeninggal kepala pelayan, May duduk di sofa dekat rak buku setelah mengambil satu buku yang dari tadi membuat dia penasaran. Buku bersampul hijau daun yang ternyata berisi tentang cara-cara bercocok tanam hias. Sungguh May tidak percaya kalau Darka mengoleksi buku yang seperti itu.
“Tuan memang menyukai tanaman hias, malahan Tuan mempunyai rumah kaca yang setiap akhir pekan selalu dia kunjungi untuk menghabiskan akhir pekannya. Nanti Nona pasti di bawa Tuan ke sana. Karena itu tempat yang sangat Tuan jaga seumur hidupnya.” Suara kepala pelayan menyadarkan May yang tengah terbawa arus indahnya bunga-bunga dari gambar buku yang dia baca.
“Oh, maaf. May sudah lancang melihatnya.” Ucap May sambil menutup dan menyimpannya ke tempat asal.
“Nona tidak usah sungkan. Semua ini sudah menjadi milik Nona setelah Tuan mengucapkan ijab kabut didepang penghulu. Jadi silakan bila mau membaca dan sarapannya jangan lupa di makan. Saya pergi dulu Nona.” Sang pelayan kembali pergi tanpa menunggu jawaban.
May terdiam sejenak, setelah itu, dia kembali mengambil buku tadi. “Aku akan membaca sambil sarapan.” May tersenyum di sela suapannya.