9

1352 Words
May terdiam di atas kasur sambil mengusap perutnya yang terasa masih lapar. Andai tadi Darka tidak mengejeknya, pasti itu makan sudah dia makan habis. Entah kenapa hari ini May ingin makan banyak. Perutnya seperti karet yang terus membesar tanpa ada kata batas maksimal. “A-ah! Dasar harimau benggala, bukannya minta maaf, malah marah-marah.” May menatap miris pergelangan tangannya yang memerah akibat cukup kencangnya Darka memegangnya tadi. “Andai saja tadi__” Mata May langsung membulat dia ingat apa yang akan di lakukan Darka padanya. “Iiih, jangan sampai itu terjadi.” May langsung menyilangkan tangan di d**a. 2 jam yang lalu May akhirnya menemani Darka makan. Tapi dia hanya makan sedikit, awalnya, dan akhirnya Maylah yang memakan semua makanan yang sudah dia ambil untuk Darka yang hanya menjadi mandor. Awalnya May malas untuk makan, tapi pas dia makan, “Ternyata makanan ini enak.” Ucap May sambil tersenyum. Akhirnya dia pun makan cukup lahap. May terus saja makan, perutnya merasa lapar terus dan terus sampai semua makan yang ada di hadapannya ingin dia lahap sampai habis. Tapi apa daya, dia masih malu dengan Darka karena tadi dia menolak habis-habisan. Alhasil hanya bisa menatap dengan wajah tergoda. “Kalau masih lapar, makan lagi saja.” Ucap Darka sambil tersenyum kecil ketika melihat May masih menatap makanan di depannya Mulanya May malu-malu. Tapi akhirnya semua itu dia lahap juga sampai hampir habis tidak tersisa bila Darka tidak mengejeknya. “Dasar ulat sutra! Tadi bilang tidak mau. Nyatanya di makan habis. Apa kamu tidak takut jadi kepompong sebelum waktunya?” ucap Darka sambil menatap May dan melipat tangan di d**a. “Masih mending ulat sutra. Daripada harimau benggala, terancam punah sih, tapi menakutkan!” cicit May sepelan mungkin. Tapi sayang, Darka pedengannya cukup tajam sampai dia menatap May yang tengah memakan buah melon yang paling besar. Berak! Meja yang terbuat dai kayu di geprak Darkla sambil menatap May garang, “Kamu menghina saya!” ucap Darka dengan jengkel. Bur! Semua makan yang tengah May kunyah menyembur dari mulut sampai ke depan Darka. Untung saja tidak terkena bajunya. “Uhuku... uhuku.” May terbatuk-batuk karena terdesak. “Darka,” hidung May terlihat memerah. “Kamu itu jorok!” Darka langsung menepuk punggung May pelan dan mengusap bibirnya yang terlihat berlepotan dengan melon yang dia semburkan. “Sebenarnya saya heran, kenapa banyak orang yang suka sama kamu, padahal cara makan kamu saja, membuat saya bergidik jijik.” Ucap Darka sambil mengusap bibir May tanpa merasa risi ataupun jijik. “Ini salah Darka jug___” May langsung berhenti bicara, sial, dia lupa kalau sudah mulai lancang memanggil nama langsung tanpa embel-embel tuan. Darka yang melihat May terdiam langsung menyeringai, dia tahu apa yang menjadi sebab May terdiam. Dia mencondongkan kepala, dan mengarahkan mulutnya ke telinga May. “Sepertinya saya harus menghukum dirimu.” May langsung menciut, dia merasa akan ada sesuatu yang membahayakan dirinya. “Dasar mulut lemes.” May menggigit bibirnya tanpa sadar, dan secara tidak langsung kesalahannya makin bertambah karena dia malah membangunkan harimau yang tengah tertidur tenang. Darka menelan saliva serat, nafsunya sudah mulai naik ke ubun-ubun ketika May tidak segera melepaskan bibirnya yang dia gigit. Sungguh, ini menjadi sesuatu yang menyiksa bagi Darka. Bibir merah merekah milik May begitu terlihat menggiurkan di matanya. Apa lagi ketika May membuka mulutnya sedikit hendak berbicara. Sungguh idah dan, Cup! Akhirnya Darka tidak bisa lagi menahan gejolak hatinya yang ingin melumat habis bibir May yang sedari tadi menggodanya. May langsung terlihat sok dengan apa yang Darka lakukan. May hanya bisa terdiam mematung, bibirnya terasa menebal dan tersedot di kala Darka menyesapnya seperti sedang menikmati air dari sedotan. Darka bukan hanya menyesap, dia pun mengulum, menjilat, bahkan menggigit bibi May sampai dia meringis karena sakit. Saat itulah Darka memasukkan lidahnya, menghitung barisan gigi May sambil meminta lidah mereka untuk bertemu. May yang di perlakukan seperti itu hanya bisa diam mematung. Dia merasakan bibirnya membesar dan bengkak tapi ciuman ini begitu membuat dia melayang dan menginginkannya lagi dan lagi. Ini memang tidak ada rasanya, tapi ini sungguh membuat dia merasa nikmat di buatnya. May ingin lagi dan lagi. Dia tidak ingin Darka melepasnya. Jujur, ini sungguh nikmat. Batin May sambil menutup mata perlahan. Darka dengan kasar melepaskan ciuman di antara mereka karena merasa tidak ada timbal balik dari May. “Apa sebegitu bencinya kamu pada saya sebagai suamimu! Sampai ciuman pun tidak kamu balas sedikit pun.” Darka mendengus. Jarinya menekan dagu May dengan kasar. May yang mendengar perkataan Darka langsung membuka mata karena kaget di campur kehilangan. Tapi akhirnya May malah tersenyum, “Jadi, May boleh mengakui Tuan Darka suami May pad__” “Ingat batasanmu jalang! Kamu hanya istri di dalam kertas dan tidak akan saya anggap depan orang lain.” Ucap Darka sambil mencengkeram dagu May dengan makin kuat. “Kamu memang pantas di perlakukan sebagai jalang.” Ucapan Darka terhenti, di ganti dengan kebrutalannya yang langsung mencium leher May dengan kasar. Dia menggigit dan menghisapnya dengan kasar sampai May kesakitan dan menjerit. May mencoba berotak dengan memukul Darka, dia tidak ingin di perlakukan seperti ini! Walaupun Darka suami sahnya. “Cukup, Aku mohon cukup Darka sialan!” May mengumpat dengan kasar. Air matanya jatuh tidak bisa ditahan. Dia bebar-benar merasa menjadi seorang jalang. Darka memperlakukan dirinya bak sampah yang tidak berharga. May menangis sesenggukan dengan mulai berhenti berontak. Tubuhnya lemas, andai Darka tidak memeluknya, pasti dia sudah terkapar dilantai. “Kamu kejam Darka, kamu kejam!” ucap May di sela tangis pilunya. Darka yang melihat dan mendengar May menangis langsung terdiam. Dia tidak menyangka kalau May akan sebegitu kecewa padanya. “Apa saya seburuk itu di mata kamu!” tangannya terkepal. Buk! Satu pukulan mengenai dinding ruangan makan. Darka melampiaskan kekesalannya dengan melukai dirinya sendiri. “Apa kamu tidak sudi menjadi jalang__” “SETOP! AKU BUKAN JALANG! Aku bukan jalang....” Ucap May dengan lirih. May melorot ke atas lantai. “Aku bukan jalang Darka.” “Kalau kamu bukan jalang, buktikan pada saya. Malam ini kamu akan melihat seberapa jalangnya kamu di atas kasur. Sampai orang-orang terus menatapmu dengan lapar.” Tatapan tajam Darka menusuk hati May. Dia terlihat berkata dengan sungguh-sungguh. Tangis May berhenti ketika mendengar yang Darka katakan. “ Tidak, May tidak akan memberikan selaput dara May pada orang sepertinya.” Ucapnya dalam hati sambil mengeratkan pegangan pada baju yang tengah dia pakai. “Jangan sok suci, saya tahu kamu bukan__” “Maaf mengganggu Tuan. Tadi, Tuan besar menelepon. Katanya ada sesuatu yang harus di bicarakan.” Seorang pelayan yang sudah berumur memotong perkataan Darka dengan menunduk. “Kapan Ayah menelepon?” ucap Darka tanpa melihat raut wajah pelayan yang sudah terlihat ketakutan karena suaranya mampu mengintimidasi orang yang ada di dekatnya. “Setengah jam yang___” Perang! Terdengar sesuatu yang pecah dari samping Darka dan May. Ternyata itu sebuah guci antik yang telah berubah bentuk menjadi pecahan-pecahan kecil akibat di lempar Darka yang langsung menatap sang pelayan dengan wajah marah. “Kenapa kau tidak berikan telepon itu langsung pada saya, HAH!” Darka seperti orang yang kesurupan. Tangannya makin mengerat karena marah. “Auuu!” terdengar rintihan May yang tengah berada di bawah kakinya. May merasa kesakitan di pergelangan tangan ketika Darka mencengkeramnya kuat. Darka langsung melepaskan cengkeramannya, sedikit mundur melihat May yang terkapar di lantai sambil bersender di dinding. Darka meremas rambut dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa. “Nona.” Pelayan yang tadi menghampiri May dan membantunya untuk berdiri. “Saya antarkan ke kamar.” Ucapnya lagi sambil memapah May yang terlihat lemah. Embusan nafas berat menjadi tanda kalau May kembali sadar dari lamunannya. Dia kembali mengusap tangannya yang memerah. May duduk, ada tanda tanya yang mengganggu May ketika ingat Darka memanggil seseorang dengan sebutan ayah. “Bukannya mamih bilang Darka itu anak yatim? Tapi siapa orang yang di panggil ayah itu?” May menggaruk pelipis. Dia merasa banyak hal yang tersembunyi dari diri Darka yang memang membuat dirinya penasaran. “Ya ampuuun! Kamu itu kenapa sih, May. Itu urusan orang lain jangan membuat kamu terlibat masalah. Sudah jangan penasaran.” May memukul kepalanya dengan sedikit kasar. “Auuu, sakit ternyata.” Ucap May sambil mengusap kepala yang dia pukul. May kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar yang putih bersih. “Andai hati Darka seputih itu, May akan mengisinya dengan kata-kata yang menyenangkan.” Ucap May sambil tersenyum geli dengan apa yang dia pikirkan. “Ini sungguh konyol, May!” tawa May akhirnya meledak. Entah kenapa hatinya kadang di buat tidak karuan ketika mengingat Darka si harimau benggala. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD