May terbangun dengan seluruh tubuh yang terasa berat akibat tubuh Darka yang seenaknya menindih dan memeluk sepertinya menganggap May sebuah guling yang tidak mau di bagi dengan siapa pun. May mendesah pelan , pasalnya dia sudah kebelet ingin ke kamar mandi untuk menuntaskan kewajibannya sebagai tanda begitu sehat tubuhnya.
“Banguuun, May sudah tidak tahan mau ke kamar mandiii.” May mencoba membangunkan Darka dengan cara menggoyangkan tubuhnya.
“Diamlah Sayaaang, ini itu pagi hari, apa kamu tidak tahu kalau seorang laki-laki begitu besar keinginannya bila menjelang pagi. Atau jangan-jangan kamu ingin aku___”
Pelak! Keberanian May langsung datang, ketika mendengar Darka bicara macam-macam. Sampai dia berani menggeplak wajah Darka yang tengah menatapnya. “May, mau mau ke air. Bukannya minta yang begituan. Cepat___”
“Begituan seperti apaaa?” Darkja menatap May sambil tersenyum. Dia tidak merasa marah sedikit pun ketika sang istri menggeplaknya di pagi hari.
“Iiih … apa sih! Bicaranya tidak jelas. Cepat awaaas, May sudah tidak tahan.” Ucap May sedikit merengek pasalnya hasrat yang biasa datang di pagi hari untuk bercinta dengan kloset sudah tidak tertahankan lagi.
Akhirnya Darka melepaskan May walau sebelumnya mencuri sebuah kecupan di bibir yang tengah manyun itu. “Jangan lama-lama, aku mau mau mandi.”
“Di kamar kerja saja laaah, jangan mengganggu May berduaan dengan kloset.” Ucap May sambil berlari terbirit-b***t masuk kamar mandi.
Darka menggeleng tidak percaya mendengar perkataan May yang sepertinya tidak mau di pisahkan dengan sang kloset. “Ya ampuuun, apa pesona seorang Darka tidak bisa sebanding dengan sebuah kloset, sampai-sampai sang istri lebih cinta dan lebih bahagia berlama-lama dengan nya.” Ucap Darka sambil mengusap kepala dan menggaruknya. Kakinya melangkah keluar untuk mandi di kamar kerja seperti yang istrinya katakan, dari pada dia cemburu hanya pada kloset.
Setelah menuntaskan hasratnya, May keluar dengan masih memakai baju tidur yang semalam, dia melangkah menelusuri lantai untuk menemui sang suami yang sepertinya melakukan apa yang dia perintahkan. Jadi sebagai balasannya, May akan membuatkan sarapan untuknya setelah tadi menyiapkan baju untuk dia pergi bekerja di kamar tidur.
Namun sebelum langkahnya sampai di dapur, telinga May mendengar ada orang yang tengah tertawa lepas sepertinya tengah bahagia. Di sana, di meja makan, terlihat dua manusia yang berlainan jenis tengah bercengkerama dengan sang wanita terus berbicara pada yang laki-laki sambil sedikit-sedikit memegang tangannya.
May melihat Darka memakai baju yang belum pernah dia lihat, tetapi setelah mendengar sesuatu, May baru tahu kalau itu baju yang di sediakan orang lain untuk sang suami.
“Mas cakep banget memakai baju itu. Tadinya aku ragu untuk memberikannya, tapi tidak menyangka kalau Mas mau memakai baju yang aku siapkan di kamar kerja tadi.” May menutup mulut, dia tidak percaya kalau Kia dengan beraninya masuk ke kamar kerja sang suami ketika Darka suaminya tegah mandi.
Tangan May terkepal menghembuskan napas perlahan untuk menormalkan deru napasnya. Setelah bisa menguasai diri, May berbalik badan langsung menuju garasi untuk meminta sang sopir membawanya keluar, atau mungkin ke rumah Mamih saja. Namun sebelum sampai di garasi, entah mengapa hatinya mengatakan untuk memesan ojol terlebih dahulu.
“Nona, Nona mau ke mana?” sang sopir yang tengah sarapan nasi goreng langsung berdiri menghampiri May yang tengah celingukan sepertinya mencari dirinya.
“May mau keluar, antar___”
“Maaf Nona, tuan sudah memerintahkan saya untuk tidak mengizinkan atau membawa Nona ke mana pun hari ini, sebab kata tuan, Nona masih perlu istirahat.” Ucap sang sopir sambil membungkuk hormat.
May mendengus , tanpa bicara dia melangkah keluar dan meminta satpam untuk membuka gerbang. Tanpa banyak bertanya, sang satpam melakukan apa yang Nonanya inginkan.
May melihat ojol yang dia pesan sudah ada di depan rumah. Setelah memastikan kalau itulah ojol yang dia pesan, May langsung naik untuk pergi ke rumah Mamih. Namun sebelum pergi, May tidak lupa memberi kabar pada sang sopir, kalau dia akan pergi sebentar ke rumah Mamih.
Sang sopir yang tegah mengunyah langsung tersedak dengan apa yang May tulis untuk dirinya. Dengan langkah tergesa-gesa, dia pergi menemui sang tuan yang tengah makan.
“Ma, maaf, maaf Tuan, itu, emmm … itu Nona , Nona, Nona pergi ke rumah mamihnya degan ojol, tanpa bisa saya cegah.” Ucap sang sopir gugup sambil menunduk karena dia malu telah gagal menjaga Nonanya.
Darka yang tengah menyuap makanan yang sedikit lagi sampai di pulut, langsung menjatuhkan sendok dengan cukup keras dan melotot pada sang sopir. Dari semalam dia ingin memarahi sopir tersebut, tapi tidak tahu alasannya, dan dengan kejadian ini, dia bisa sedikit memarahinya dan mengatakan kalau dia tidak bisa menjaga sang istri dengan seenak jidatnya.
“Kamu memang tidak bisa bekerja! Andaikan saya tidak melihat ISTRIKU begitu nyaman dengan sopir sepertimu, saya pastikan kamu akan saya pecat dan I pindahkan ke tempat lain.” Ucap Darka dengan mata melotot dan sedikit berteriak sambil menekankan kata istriku, supaya dia sadar kalau May miliknya.
Ddrrrt … ddrrrrt … handphone Darka berbunyi dan terlihat nomor sang istri. Tanpa banyak bicara, dia langsung berdiri hendak pergi.
“Maaas, kamu belum makan, katanya mau menemani aku makan.” KIa meraih tangan Darka dan menatapnya.
“Maaf, sepertinya aku harus pergi sekarang, untuk melihat Mbakmu sampai tidaknya di rumah Mamih, aku khawatir karena dia tengah sakit dan sepertinya masih memakai baju tidur perginya.” Ucap Darka sambil melepaskan pegangan Kia.
“Kamu makan yang bayak, ya. Oh iya, kalau mau pulang minta dia untuk mengantarmu ya, jangan pulang sendiri, aku tidak mau Ayah menyangka kalau aku tidak memperhatikanmu.” Setelah itu, Darka pun pergi dan kembali pada May yang masih belum bicara ketika dia tengah bicara dengan Kia, padahal sambungan telepon terhubung.
Ketika Darka sudah jauh, KIa langsung membanting sendok yang tegah dia pegang dan hampir saja terkena salah satu pelayan yang tengah berdiri membereskan alat makan yang tadi di gunakan Darka.
“May, kamu memang wanita ular! Sampai tidak bisa memberikan sedikit saja kebahagiaan padaku yang ingin makan bersama dengan Darka!” Kia memukul meja sampai piring yang ada di hadapannya jatuh tidak berbentuk dengan makanan yang masih belum dia sentuh sedikit pun ikut berantakan.
“Lihat saja, May! Aku tidak akan membiarkan kamu bahagia dengan Darka karena aku tidak rela bila kamu bahagia!” Ucapan Kia terdengar sang sopir yang langsung makin tertunduk untuk menyembunyikan kekesalannya pada adik tuannya yang ternyata dialah yang menjual namanya untuk melihat tuanya marah pada Nonanya di waktu itu.
“Apa yang kalian tunggu, HAH! Cepat bereskan semua ini, aku tidak akan membiarkan kalian untuk mengadu pada Mas Darka. Ingat, kalian itu hanya pembantu, jadi jangan sok jadi pahlawan.” Ucap Kia yang mendelik pada kepala pelayan yang tengah mengisyaratkan bawahannya untuk membersihkan apa yang Kia perbuat.
***