Tanpa bicara apa-apa, tangan Darka terulur memegang kening May, dan terlihat ada seulas senyum di pipi, “akhirnyaaa, suhu badanmu sudah normal. Sekarang, cepat makan dan setelah itu, minum obatnya.” Ucap Darka sambil memberikan sepiring bubur yang tadi dia bawa dengan nampan.
“Ko makan bubur, roti ke, atau buah-bahan begitu. May kan tidak sakit lambung. Teruuus, kenapa May harus minum obat juga.” Ucap May sambil mendesah, tapi bubu itu tidak dia biarkan dan habis tanpa tersisa.
“Katanya bukan orang sakiiit, tapi buburnya habis juga ternyata.” Darka mengambil mangkuk sambil tersenyum dan memberikan segelas air putih. Setelah itu, memberikan obat vitamin supaya May tidak sakit besok pagi.
“Ini bukan obat, tapi Vitamin, supaya kamu besok tidak demam.” Ucap Darka sambil Vitamin tersebut di bibir May.
May tidak bicara, dia malah menatap Darka yang masih anteng menyimpan Vitamin di mulut May, “ayo sayaaang, di minum obatnya. Kalau tidak, aku akan memaksamu dengan cara yang cukup indah.” Darka menggigit bibir seperti menggoda.
May yang mengerti dengan apa yang akan di lakukan Darka langsung meraup Vitamin tersebut dan mengunyahnya sampai terasa rasa asamnya.
“Eeeh, kenapa di kunyah. Tuuuh, kan. Terasa asamkan. Cepat minum.” Darka menyodorkan minum ke mulut May, dan kembali dapat penolakan.
Darka yang sudah kesal langsung meminum air tersebut dan menempelkan bibirnya di mulut May. Alhasil May pun dengan terpaksa meminum air tersebut.
“Apa yang kamu lakukan!” May mengusap mulut dan dagunya yang basah.
“Tidak ada, hanya melumat bibir sambil memberikan minum secara spesial.” Ucap Darka sambil tersenyum.
“Kalau begitu, boleh minta lebih! May ingin sekalii.” Ucap May sambil menggigit jari menggoda sang suami dengan cara yang tidak biasa.
“Yaaah ....” Darka mendesah dan segera pergi dari hadapan sang istri yang terlihat tidak waras.
May tersenyum ketika melihat Darka pergi , dan langsung membaringkan tubuh di atas kasur sambil terus menatap Darka yang tergesa pergi keluar sambil membawa mangkuk dan gelas kosong. May tersenyum sambil bergumam dan berdoa supaya dia masih bisa bahagia hidup dengan Darka sampai dia merasa bosan pada waktunya, upaya May bisa bebas dan tenang juga ketika sedikit dengan sedikit menghilangkan perasaannya pada Darka, walaupun semua itu tidak akan berguna sebab cinta May pada Darka sudah dalam walau pun dia tahu tidak akan mendapat balasan.
“Aaah … untung berkas dari Amar tidak sempat Darka lihat. Sekarang semua sudah aku simpan di tempat aman, kalau terlambat sedikit saja, pasti akan jadi masalah.” Ucap May sambil membalikkan badan dan tengkurap memainkan handphone karena bosan, apalagi rasa kantuknya malah hilang di telan waktu malam.
“Apa yang kaji masalah?” Darka langsung mengungkung May yang tengah tengkurap, “kenapa diam? Apa ada yang aneh!” Darka memainkan rambut May yang di biarkan tergerai setiap kali akan tidur.
“Emmm …” May sedikit susah mencari alasan, tapi ketika dia menatap Darka, dia langsung ingat alasan apa yang baik untuk keluar dari rasa curiga Darka.
“Mandi tadi, kalau saja kamu tidak masuk kamar dan melihat May di kamar mandi, pastinya saat ini akan jadi masalah___”
Cup! Darka langsung mencium bibir May sekilas, hanya untuk membungkam bibir itu bicara yang tidak-tidak.
“Kalu saja itu terjadi, aku pastikan jasadmu akan aku awetkan selama mungkin, sampai kita bisa di kubur bersama-sama.” Ucap Darka sambil kembali melumat bibir sang istri yang kadang membuat dia cemburu karena suka tersenyum pada orang lain sembarangan.
Jujur, sebenarnya kadang hati Ma tidak bisa mengerti dengan sikap Darka yang sering berubah-ubah apalagi ketika Kia ada d samping mereka berdua, pastinya Darka akan terus bicara dengan Kia tanpa menghiraukan May yang sudah sakit hati.
“Iii, iiih! Sudah, katanya suruh May istirahat, tapi terus saja dicium. Bisa-bisa May bukan mati karena bunuh diri di bawah shower, tapi di bawah sang suami yang terlalu lama mencium May.” Ucapan May membuat Darka tidak bisa bicara lagi, dan hanya melotot kaget Dengan apa yang istrinya katakan.
Tangan Darka terulur dan mencubit pipi yang sudah terlibat tembam. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Sang istri, karena tidak mung ada yang meninggal karena ciuman yang lembut seperti yang dia lakukan barusan.
“Aaawwh! Skit, iiih … kalau nanti aku tidak cantik lagi bagaimana? May kan pasti hidup lebih lama, jadi May harus tetap menjaga kecantikan, supaya tetap lalu sama berondong.” Ucap yang langsung mendapat jitakkan di kening.
Darka hanya tersenyum, dia benar-benar seorang pelawak, pasalnya hari ini May selalu bicara yang cukup aneh di ucapkan oleh seorang wanita. “Kalau tidak mau seperti itu, jangan sok-sokan madi shower dengan air dingin.”
“Lah. Apa hubungannya mandi di bawah shower dengan keadaan cantik tidaknya.” Ucap May sambil menatap sang suami.
Darka menggaruk kepala yang tidak gatal, menghembuskan nafas. “Sepertinya kamu butuh istirahat, sayang. Bicaramu benar-benar sudah tidak nyambung.” Darka memiringkan tubuh sang istri dan memeluknya dengan membawa kepala May ke dalam hangatnya d**a.
Cup, cup! Darka memberikan ciuman bertubi-tubi di kepala May sambil terus mengusap punggungnya.
“Sekaraaang, tidur dulu ya. Besok kita bicara lagiii.” Ucap Darka sambil mengusap pipi May yang mendongak dan menatapnya.
“Cium dulu bibir, May.” Ucap May sambil manyun di depan Darka.
Darka langsung mencium dan memberi lumatan cukup dalam di sana. “Aku tidak tahu ada apa denganmu sayang, tapi untuk menghiburmu, aku akan melakukan apa yang kamu inginkan.” Ucap Darka dalam hati.
“May harap, sebelum hati ini puas berada di dekatmu, May ingin kenyataan kalau kamu tidak mencintai May jangan dulu kamu katakan. Karena hati ini tidak akan pernah bisa menerima kenyataan itu dalam waktu dekat.” Ucap May dalam hati sambil mengalungkan tangan di leher Darka.
“Sayang, aku ingin___” tatapan Darka tertuju pada netra milik May yang sama menatapnya dalam.
“Bolehkan aku ingin___”
“Tidak! May sudah mengantuk. Jadi May hanya ingin di peluk saja.” May langsung menyelusupkan kepala ke d**a Darka untuk mencari kehangatan dan tertidur pulas.
“Maaf, May minta maaf.” Terdengar May bergumam di pelukan Darka, membuat dia menatap sang istri yang sudah terlelap.
“Aku akan memaafkanmu, sayang. Sebab aku tahu kamu masih ragu. Tapi percayalah, aku sudah mencintaimu, tapi masih belum bisa bicara jujur padamu. Aku harap kamu sabar sampai saatnya tiba dan tidak akan meninggalkanku.” Ucap Darka sambil mengusap kepala dan kembali memberikan kecupan.
Matanya tidak akan bosan menatap pahatan indah wajah sang istri yang sedikit-sedikit telah merubah pandangannya terhadap wanita setelah kejadian keluarganya. Setelah puas menatapnya, Darka pun ikut tertidur sambil memeluk erat tubuh May yang begitu pas dalam dekapannya.
***