26

1134 Words
Setelah berbicara panjang lebar, akhirnya May memutuskan untuk pergi membeli semua kebutuhan yang sekiranya dia butuhkan saja, karena dia tidak suka menghambur-hamburkan uang, uang yang dia gunakan pun uangnya sendiri karena dia berpikir untuk apa menggunakan uang Darka kalau dia masih mempunyai simpanan dari hasil kerjanya ketika Darka masih menganggap dia sebagai pembantu. Ya, waktu dia di jadikan pembantu, dia menerima bayaran dari kepala pelayan dengan jumlah yang tidak besar seperti pembantu lainnya, namun May masih mensyukuri apa yang dia dapatkan.  Lalu, apa sebabnya May malah meminta bantuan Amar untuk mencari titik terang siapa orang tuanya? Jawabannya karena Saat itu, May tidak ingin anak Mamih tahu kalau sebenarnya May itu bukan anak yang di buang, May takut, teman-temannya tidak mau mengenalnya lagi karena merasa mereka jauh dari May. Padahal itu semua belum tentu kebenarannya. Apa lagi saat itu May mengetahui kalau Kia sudah menjadi adik angkat Draka. Oleh sebab itu, May lebih berani meminta bantuan Amar yang saat itu merasa May banyak melamun ketika tengah menelepon tanpa di ketahui Darka. Padahal waktu itu May sudah benar-benar yakin akan bicara pada Darka. Sedangkan saat ini, May begitu bersyukur karena dia tidak jadi meminta bantuan Darka, sebab bisa saja Darka mengatakannya pada Kia yang telah menjadi adik yang dia sayang. May menghembuskan napas, setelah dia sadar dan kembali membeli barang yang ternyata cukup banyak. Namun barang itu bukan barang milik May seorang, tapi itu barang milik semua pelayan di rumah yang selama ini selalu baik pada May, sampai sopirnya pun dia belikan sesuatu.  Setelah bosan dan merasa lelah, barulah May pulang. Sampai rumah ternyata Darka tengah makan dengan di temani Kia yang terus tersenyum dan bersikap layaknya seorang istri, sampai dia menyajikan minuman yang biasa May siapkan untuk Darka ketika selesai makan. Melihat itu, May hanya bisa tersenyum, dan tanpa berkata apa-apa, May melewati mereka. “Kamu baru pulang jam seginiii?” Kia lah yang bertanya dengan sedikit kaget pasalnya baru kali ini seorang May pergi belanja sampai pulang malam. May mengangguk sambil menatap sang suami Darka, dengan berharap dia menyapa atau pun setidaknya melihat padanya sambil memberikan senyuman. Namun tidak, semua itu tidak terjadi dan membuat May menjatuhkan pundaknya. “May ke kamar dahulu ya, cape, ingin mandi dan istirahat.” “Nona tidak makan dahulu?” kepala pelayan menatap May dengan terlihat khawatir. May tersenyum, “May sudah makan barusan sebelum pulang.” Ucapannya membuat sang sopir yang dari tadi hanya menunduk dan mendengarkan, mengangkat kepala, karena dari tadi dia tahu kalau sang Nona tidak banyak makan dan hanya pergi ke sana kemari sambil membeli barang dan melamun. Tapi dia tidak bisa bicara ketika mendapat gelengan dari May. Darka yang melihat interaksi sang istri dengan sopirnya langsung mengepalkan tangan. Dia ingin sekali marah saat ini, tapi tidak bisa karena merasa tanggung sebab dari tadi sudah mengacuhkan May sang istri. May melangkah pergi ke kamar dengan hanya membawa satu kantong belanjaan karena hanya itu kebutuhannya, sedangkan yang di bawa sang sopir, itu kebutuhan semua pelayan. May masuk kamar, lalu pergi ke kamar mandi setelah menyimpan amplop yang Amar berikan tadi. May mengguyur tubuhnya di bawah shower, dia ingin mendinginkan pikiran dan melupakan semua masalah hari ini yang sedikit membuat dia merasa cape dengan apa yang terjadi. Setengah jam, May hampir setengah jam mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower yang dingin, hingga membuat dia menggigil kedinginan. Andai saja Darka tidak masuk, mungkin saja dia telah pingsan di kamar mandi. “Apa yang kamu lakukan, hah!” Darka membentak May setelah membungkus tubuhnya yang menggigil dengan selimut tebal dan memeluknya erat. “Kalau kamu ingin mati, jangan sekali-kali melakukan itu di dalam kamar mandiku!” ucap Darka dengan begitu geram. May langsung menangis, dia benar-benar cape dengan apa yang terjadi. Andai bisa, dia ingin membalikkan waktu ke waktu sebelum dia kenal dengan Darka karena Ini begitu membuat kepala May cape dan lelah. Melihat apa yang terjadi pada sang istri, Darka mengusap kepal dan menghembuskan napas kasar, “sebenarnya apa yang terjadi padamuuu, ini membuat aku pusing tahu tidak!” dia berkacak pinggang setelah itu pergi dari kamar karena melihat sang istri langsung diam setelah dia membentaknya. Berak! Suara pintu yang di banting. Membuat May terlonjak dan menatap pintu. Sebenarnya May pun bingung, kenapa dia jadi serapuh ini. Padahal kelakuan Darka yang menganggapnya tidak ada bukan hanya sekali ini. Tapi rasa sakitnya hari ini, begitu menusuk hati sampai dia berpikir ingin pergi. “Apa karena May sudah mengatakan kalau May menyukainya, dan sudah merasakan kasih sayangnya?” May mengusap wajah dan berdiri dengan susah payah karena tubuhnya menggigil sampai terasa lemas. May mengambil baju tidur bergambar daun kelapa, setelah itu memakainya dengan cepat karena sudah masih kedinginan. Setelah itu, kembali menggulung tubuh dengan selimut tebal sambil mengambil amplop yang tergeletak di kasur. “Untung saja tidak terkena air dari tubuh May yang basah. Kalau itu sampai terjadiii, May yakin Amar akan marah. Apalagi tadi dia bilang sudah mengeluarkan uang begitu banyak.” Ucap May sambil mengeluarkan isi amplop tersebut. [Kamu jangan kaget May, karena ada sesuatu yang berhubungan dengan orang tua angkat Kia.] May mendapatkan pesan seperti itu yang tertulis di sebuah kertas, May mengerutkan kening, dia penasaran dengan apa yang Amar tulis. Dengan cepat, May membuka amplop tersebut. Pertama dia melihat ada sebuah foto yang memperlihatkan seorang anak yang tengah di gendong seorang laki-laki yang begitu cakap, baju yang di kenakan anak itu, sama persis dengan baju yang di berikan mamih pada May saat menceritakan siapa May sebenarnya. May kembali mendapat sebuah tulisan di kertas yang di tulis Amar, [laki-laki itu, ayah angkat Kia saat ini, dan kalau tidak salah, itu pun ayah angkat om aku, om Darka.] Kening May mengerut, ketika matanya terus tertuju pada anak yang ada di foto tersebut. “Apa sebenarnya yang harus jadi anak angkat mertua itu, May?” ucap May sambil mengusap wajah karena bingung sambil terus menatap anak dalam foto tersebut. May beranjak mendekati laci di lemari karena dia penasaran dengan baju tersebut. May membuka kotak tempat baju tersebut dan membandingkannya. Semua sama, bahkan sebuah bros yang melambangkan huruf awal namanya di waktu kecil. Tanpa berpikir panjang, May mencari gambar bros tersebut di handphone pintarnya, dan benar-benar keluar juga di sana di katakan kalau bros tersebut di buat khusus untuk seseorang. Namun sayang, tidak di katakan sia yang punya bros tersebut dan untuk siapa itu di buat. “Kalau memang benar, kenapa Mamih malah memilih Kia? Apa jangan-jangan____, tidak May, Kia tidak akan berbuat kejam pada Mamih.” May langsung menyangkal apa yang dia pikirkan. “Sepertinya besok May harus bertemu Mamih.” May membereskan semua dan kembali menyimpan di tempat yang begitu tertutup supaya tidak di ketahui siapa pun. Setelah itu dia pergi tidur. Namun sebelum dia sempat memejamkan mata, May mendengar pintu di buka dan menampilkan Darka yang membawa sebuah nampan yang tidak tahu membawa apa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD