“Hahaha … maaf,maaf, karena tadi ada sedikit gangguan, jadi May telat. Untung kamu tidak bosan menunggu.”
“Bukan tidak bosan, tapi terpaksa karena aku tidak mau melihat kamu sedih, dan akhirnya bisa menelorku setiap saat karena aku pergi dan ingkar janji juga karena kamu penasaran. Padahal kamu yang salah, tapi akhirnya aku yang tersakiti. Makanyaaa, aku dengan sabar menunggu. Tapi barusan sudah di batas kesabaran, jadi aku mau pergi.” Ucap Amar sambil memberikan sebuah amplop coklat yang berukuran cukup besar.
Tanpa bayak bertanya, May membuka amplop tersebut, melihat apa yang Amar dapatkan. Namun ketika akan mengeluarkannya, Amar mencegah dengan memegang tangan May dan menggeleng. May langsung mengerti, mengurungkan niat setelah menatap sekeliling dan baru sadar ternyata banyak CCTV.
“jangan sampai hilang, karena aku memerlukan uang besar untuk mendapatkannya.” May merengut dan mengangguk. Karena sahabatnya menyinggung masalah uang.
Amar tersenyum mengerti mengapa May langsung kesal. Namun senyum itu langsung tergantikan dengan wajah sok, “Ya apuuu, apa yang kamu lakukan! Apa kamu tidak membawa tas?” ucap Amar menatap sahabatnya yang melakukan hal di luar akas sehat seorang wanita.
“Kamu bilang May harus menjaganya, dan jangan sampai hilang. Inilah tempat yang paling aman.” ucap May kembali membuka kancing baju dan memasukkan amplop coklat tadi.
“Aku tahuuu, tapi tidak di sana juga kali, May.” Amar menggeleng tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Sudahlah, yang terpenting berkas ini aman kan!” ucap May setelah merapikan baju.
Amar hanya menggeleng, setelah itu memanggil pelayan dan menatap May yang terlihat akan pergi kembali. Tanpa berpikir panjang, Amar menarik tangan May sampai di kembali duduk. “Kita makan dahulu, anggap saja aku meminta itu sebagai bayaran apa yang di dapat.”
May menarik napas panjang, sebenarnya May ragu untuk mengiyakan apa yang Amar inginkan, dan ingin menolak, tapi ketika ingat bantuan yang Amar berikan, May hanya bisa pasrah dan mengangguk dengan apa yang Amar inginkan, membuat Amar senang.
Sekitar seperempat jam, mereka berdua baru selesai makan sambil bertukar cerita yang cukup menyenangkan. May melihat jam dan May pun pamit pergi. Jujur, hati May cukup resah karena dia takut Kia dan sopirnya curiga dengan kebohongan yang dia lakukan.
Dengan langkah gontai, May kembali ke tempat makan yang tadi dia tinggalkan dengan terus menunduk dan menyatukan kedua tangan yang saling meremas.
“Kamu dari mana saja, separah itukah sakit perutmu? sampai menghabiskan waktu hampir setengah jam!” ucap seseorang yang langsung menatap May dengan penuh kecurigaan.
“Kamu, kenapa kamu ada di sini?” May menatap orang itu dengan sedikit resah karena takut ketahuan.
“Aku ke sini ketika mendapat laporan kalau istriku begitu lama di kamar mandi, membuat aku sedikit khawatir. Untung saja tepat kalian bertemu tidak jauh dari tempat aku bertemu seseorang, jadi dengan cepat aku datang. Namun ternyata, istri yang aku khawatirkan malah tidak ada di kamar mandi mana pun” ucap Darka.
May meremas kedua tangannya, ada rasa takut dengan apa yang Darka katakan. Dengan perlahan, May duduk di tempat tadi dengan menunduk. May benar-benar tidak akan bicara saat ini, karena dia Darka memarahinya di depan banyak pengunjung. Darka yang merasa kesal, langsung kembali bicara pada Kia sampai dia lupa ada May di depannya.
May merasa di acuhkan oleh dua orang di hadapannya. Sampai mereka begitu asyik mengobrol tanpa menghiraukan keberadaannya. Membuat hati May sakit, dan bertanya kenapa Darka begitu perhatian pada Kia yang kembali bersikap manja di depannya. Apa separah itukah kesalahannya, sampai May di acuhkan olehnya.
May menghembuskan napas ketika makanan di depannya habis, May mendorong piring dengan cukup kasar sampai terdengar suara geretan piring beradu dengan meja. Membuat dua orang di depannya, menatap May dengan pikiran masing-masing.
Mlay bedaham untuk menghilangkan kegugupan karena di pandang seperti itu, dia kembali meremas kedua tangannya di bawah meja, “May sudah selesai, jadi May undur diri karena belum berbelanja apa yang diinginkan.” Ucap May tanpa menunggu persetujuan suaminya, May beranjak pergi meninggalkan kedua orang tersebut yang malah kembali asyik mengobrol tanpa mau menyahut apa yang May ucapkan.
Setelah May menjauh, Darka melihatnya dengan ujung mata dan menghembuskan napas berat. Dia tidak menyangka kalau May sang istri benar-benar pergi tanpa mengajaknya, padahal dari tadi dia berharap May meminta dirinya untuk menemani ke mana pun dia pergi. Tanpa banyak bicara, Darka kembali menyuruh sopir May kembali mengawasi sang istri.
“Mas mau pulang?” Kia yang menatap sang Abang yang sudah berdiri, langsung ikut berdiri untuk pulang bareng. Dengan tanpa sungkan, Kia bergelayut manja di lengan Darka dan memintanya untuk mengantarkan pulang. Darka mengiyakan saja tanpa banyak bicara dan berjalan lebih dahulu meninggalkan Kia yang masih terlihat sibuk dengan makanannya.
Tidak jauh dari arah Darka yang pulang, May menatap punggung suaminya yang pergi dengan Kia. Ada bulir kesedihan yang menusuk ulu hatinya yang kembali tersakiti. May mengusap wajah sedih dengan kedua tangan sambil menatap ke atas supaya bulir air matanya tidak jatuh ke pipi. Dengan menghembuskan napas kasar, May kembali menunduk.
“Kenapa Nona tidak jujur saja dengan tuan?” ucap sang sopir yang telah ada di samping May dari tadi, sampai dia menyaksikan seperti apa kesedihan yang di perlihatkan Nonanya ketika melihat sang tuan dengan adik angkatnya pergi.
May kaget dengan seseorang yang menegurnya dari belakang. Namun setelahnya, May malah tersenyum, “itu tidak akan merubah apa-apa, ‘karena Darka tidak akan mementingkan May, sebab dalam hatinya tidak ada cinta untuk May’, Tuan Darka harus tetap memperhatikan adiknya, bukan!” ucap May sambil tersenyum dan melangkah pergi.
“Tapi, Nona tidak akan tahu bagaimana tuan, bila Nona tidak mencobanya untuk jujur.” Sang sopir terus meyakinkan May untuk jujur.
May menggeleng, “Terima kasih karena sudah mau memberi saran, dan maaf karena May, tadi kamu terkena marah Darka.”
Sang sopir menggeleng, “Saya tidak kena marah tuan, malahan saya bingung karena kedatangan tuan ke tempat makan tadi, sebab saya tidak memberi tahu tuan soal Nona.” ucapnya dengan menunduk karena segan.
Mendengar itu May mengerutkan kening, “bukannya tadi Darka bilang, kalau sopir memberi tahu kalau dia terlalu lama di air!” gumam May sambil menatap sang sopir.
“Apa yang kamu katakan itu benar?” ucap May ingin benar-benar memastikan.
Sang sopir mengangguk, “menurut saya, itu tidak perlu saya katakan pada tuan karena saya melihat sebenarnya Nona tidak mau menemui orang itu, tapi karena ada hal penting Nona pun harus menemuinya.” Ucapnya dengan ragu mengangkat kepala.
May melihat ada kesungguhan di mata sang sopir, sehingga May tidak meragukannya. “Tapi siapa yang melaporkan aku pada Darkaaa.” May menggaruk leher, “apa tuan menyuruh orang lain untuk mengawasi kita?”
Sang sopir mengerutkan kening terdiam sesaat dan menggeleng, “setahu saya, tuan hanya menyuruh saya seorang untuk mengawasi Nona, karena kami bekerja tidak berkelompok, kecuali itu dalam keadaan darurat.” ucapnya.
“Kalau begitu, siapa yang melakukan itu?” May menggaruk kepala yang tidak gatal.
“Apa saya harus menyelidiki semua itu, Non?” ucap sang sopir dengan sungguh-sungguh karena ini pun menyangkut dirinya.
May mengangguk, “kamu harus menyelidikinya, keren ini pun bisa saja membuat kamu hilang pekerjaan ketika dia melakukan kesalahan, tapi kamu yang akan terkena imbasnya sebab dia menggunakan namamu.” ucap May serius.
Sang sopir mengangguk dan makn waspada karena keselamatan sang Nona ada di tangannya.
***