Sekarang kamu jorok!” May mengusap bibirnya yang terasa kebas dengan apa yang Darka lakukan.
Darka hanya tersenyum, di langsung menghadap May dengan menaikkan satu kakinya ke atas sofa. “Kamu itu cemburu ya, melihat aku dengan Zanna?”
May yang tengah mengusap bibir langsung menatap Darka dan mengerutkan kening, ”kenapa aku harus cemburu?” ucap May sambil berpaling ke arah lain.
“Heeey, kenap bicaramu seperti orang yang , mau menangis!” Darka meraih dagu May dan mengunci tatapannya supaya fokus pada dirinya.”Kalau kamu cemburu, bilang saja, aku malah senang mendengarnya. Tapi kamu jangan sedih, karena Zanna itu adik aku. Jadi tidak mungkin aku berselingkuh atau pun suka pada adikku sendiri.” Darka meraih kepala May supaya bersandar di dadanya.
“Bagaimana dengan Kia?” ingin sekali May berkata demikian, tapi hatinya tidak akan kuat ketika nanti Darka tidak menjawab apa yang dia tanyakan. Jadi lebih baik, May diam tidak bertanya semua itu.
“Iya Mbak, aku itu adik Abang , jadi Mbak jangan takut aku akan menikung Mbak dari belakang. Malahan ya, andai Abang melakukan itu, aku akan membela Mbak dan melulu lantahkan wanita selingkuhan Abang.” Ucap Zanna yang baru saja kembali setelah sekian lama di air.
“Bagai mana kalau orang itu kakakmu sendiri?” May kembali ingin bicara, tapi dia urungkan karena dia tahu jawaban apa yang akan dia dapatkan.
Ketika tengah bicara,handphone May berbunyi dan ternyata itu Amar. May lupa kalau dia punya janji dengan Amar.
“Siapa yang menelepon?” Darka menatap May yang tengah menatap handphonenya dengan serius.
May menggeleng,”dia hanya bilang ‘istri Pak D apa kita jadi bertemu?’ hanya itu yang dia katakan sebelum menutup telepon.” Ucap May sambil tersenyum dan berdiri merapikan rambut juga kembali mengelap mulutnya yang belepotan setelah makan.
“Aku pergi dulu, ya. Soal perkenalan itu, tadi juga sudah cukup. Sekarang aku akan menghabiskan uang suamiku yang tidak pernah aku sentuh sedikit pun.” ucap May sambil melenggang pergi tanpa mau mendengarkan apa yang akan Darka katakan.
Darka tidak bisa mencegah apa yang May inginkan, karena dia sudah mengiyakan tadi malam. Andai bisa, sebenarnya Darka menginginkan May menemaninya sampai dia pulang nanti sore. Namun sebelum May benar-banar pergi, Darka meraih tangan sang istri,
“Kalau begitu, sebelum pergi, berikan dulu aku___” Darka tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena May sudah memberikan apa yang dia inginkan.
“Sekarang aku bisa pergi bukan?” Ucap May yang benar-benar pergi tanpa bisa di cegah lagi.
May menghembuskan napas berat, “May tidak termasuk membohongi dia kan! Soalnya May bicara seperti yang Amar katakan sebelum menutup telepon tadi.” May hela napas panjang karena merasa tidak enak hati sebab bisa jujur pada Darka.
Ddrrrt …. ddrrrt … handphone kembali berbunyi.
“Sepertinya itu dari Amar.” Gumam May tanpa melihat siapa yang menelepon, tanpa berpikir May langsung saja menjawab kalau dia tengah ada di jalan. Namun hatinya kembali resah di kala dia tahu kalau orang yang meneleponnya ternyata Darka.
“Siapa yang akan kamu temui?” Nada suara itu membuat bulu kuduk May berdiri. Dia tidak menyangka kalau Darka akan menelepon, sebab baru saja mereka bertemu.
“May, siapa orang yang akan kamu temui!” Darka kembali bertanya dengan intonasi yang sedikit meninggi, membuat May terlonjak kaget.
“Hati-hati Nona, nanti kepalanya bisa terjedot pintu mobil.” Ucap sang sopir ketika melihat sang Nona malah melamun di depan pintu mobil.
Darka yang mendengar itu langsung sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia menghembuskan napas berat untuk meredam amarahnya yang tengah cemburu karena sang istri. “Kamu hati-hati di jalan, nanti kita bicara lagi.’ sambungan telepon pun terputus seketika.
May menatap layar telepon, dia mengusap muka, menghembuskan napas kasar, “maafkan aku, seharusnya kan aku jujur, tapi ini bukan waktu yang tepat.” Gumam May dengan menyandarkan kepala di jok dan mengatakan tujuan dia saat ini pada sang sopir. May benar-benar melamun sampai dia tidak sadar kalau sudah sampai di tempat tujuan.
“Maaf, Non. Kita sudah sampai dari tadi, apa kita jadi turun, atau Nona mau saya antar ke tempat lain?” Ucap sang sopir menatap tuannya di balik kaca spion depan.
“OH, maaf. Aku barusan tertidur.” bohong May sambil tersenyum, tanpa mau melihat sang sopir yang pasti sedang menertawakan kebodohannya karena berbohong.
Ya, siapa yang akan percaya kalau dirinya sedang tertidur, apa lagi dengan mata terbuka lebar. Sungguh itu kebohongan yang cukup fatal bukan!
May turun dengan wajah lemas, di iringi sang sopir yang akan terus berada si sampingnya, selama dia pergi karena itu perintah Darka. Sebenarnya May cukup merasa kesal, karena dia tidak akan leluasa ketika bicara dengan Amar bila sang sopir masih ada di sampingnya.
Namun, ketika tengah melamun, May dikejutkan dengan orang yang menepuk pundaknya. Ternyata itu Kia yang kelihatannya tengah berbelanja karena terlihat asistennya begitu banyak membawa barang.
Melihat itu May merasa ada sedikit cemburu ,tapi cepat dia hilangkan karena itu tidak akan merubah apa pun, kalau sebenarnya Kia itu mempunyai orang tua yang kaya.
“Kamu mau belanja juga May?” ucap Kia dengan wajah sumringah karena ternyata May ada di sini, jadi dia akan bisa memamerkan apa yang bisa dia lakukan setelah mendapatkan orang tua yang kaya.
“Yaaa, seperti yang kamu lihat. Tapi, aku sangat lapar, dan kebetulan ada kamu, apa kita bisa makan bareng?” ucap May sambil menaik turunkan alis.
“Sebenarnya, aku ingin mengambil cincin, yang sudah aku pesan dua hari yang lalu, tapi karena kamu sudah mengajakku untuk makan, biarkan asistenku saja yang mengambilnya.” Ucap Kia sedikit angku, sambil memanggil asistennya dan menyuruhnya untuk mengambil barang yang dia pesan. Setelah itu, dia menggandeng tangan May untuk mencari makanan yang biasa dia pesan di tempat ini.
Kia benar-benar memperlihatkan siapa dirinya sekarang, dengan terus mengoceh mengatakan apa saja yang telah dia lakukan dengan teman-teman sosialitanya, “kapan-kapan kamu harus ikut, supaya tidak terlihat kampungan, apa lagi kamu istri Mas Darka yang cukup di kenal di kota ini.” Ucap Kia menatap saingannya itu.
May hanya tersenyum, mendengar apa yang Kia katakan sebab dari tadi dia tidak benar-benar fokus dengan yang Kia katakan. Dia tengah memikirkan cara sedikit punya waktu untuk bisa pergi tanpa di ikuti sang sopir yang sekarang tengah ikut makan di meja lain dengan asisten Kia.
“May, kenapa kamu terlihat melamun?” Kia menatap May yang terus terdiam.
May tersenyum, dia akan sedikit berbohong pada sang sahabat supaya dia tidak curiga kalau May dari tadi tidak mendengarkannya.
“Maaf Ki, sebenarnya dari tadi aku ingin ke kamar mandi, tapi kamu terus saja bicara, perutku sedikit sakit. Sepertinya aku sudah tidak tahan, apa kamu bisa bicara pada sopirku, supaya tunggu di sini? Tidak mungkin aku membiarkan dia mendengar ketika aku sedang___”
“Kamu jorok sekali, cepat pergi sana!” Kia benar- benar di buat kesal oleh sang sahabat.
Tanpa banyak bicara, May pun mengangguk sambil memegang perut supaya apa yang dia rencanakan terlihat benar adanya. Setelah dekat dengan kamar mandi, May berbelok ke tempat yang sudah dia janjikan dengan Amar.
“Maaf ya, aku telat, nih.” Ucap May sambil duduk di depan Amar yang akan pergi.
“Ya ampuuu, untung saja aku belum pergi!” ucap Amar yang kembali duduk.
***