23

1215 Words
        Selepas Darka pergi bekerja, May pun bersiap untuk pergi ke luar dengan berbagai macam skenario yang sudah dia susun supaya bisa bertemu Amar tanpa di ketahui Darka.            “Mudah-mudahan ini berhasil! Bagai mana pun juga May, harus bertemu Amar untuk mendapatkan informasi itu.” May mengepalkan tangan dan menghembuskan napas. “Kita ke___” Dddrrrt ... Ddddrrrt ... handphonenya berbunyi, Darka yang menelepon. “Ya halo?” “Kamu jadi ke luar hari ini?” ucap Darka dari seberang sana dengan napas tersengal-sengal, membuat May terkejut. “Apa dia sedang___ Kamu sedang apa?” May langsung bicara dengan nada curiga. Di seberang sana Darka tersenyum, “pasti dia mengira aku sedang__” senyum itu makin mengembang. Dengan jahil Darka malah mematikan telepon tanpa memberi jawab. May dibuat kesal, bagai mana pun juga, dia mulai tidak suka jika Darka main perempuan lain, karena saat ini Darkanya hanya milik dia seorang walaupun kebutuhan batinnya belum bisa May penuhi. “Kita ke kantor Tuan dahulu!” ucap May pada akhirnya, dia ingin tahu, apa yang di lakukan Darka sampai bersuara seperti itu di pagi hari dan langsung menutup telepon. “Pantas saja tidak mau sarapan, ternyata sudah  di tunggu seseorang. Katanya mau rapat, ternyata rapat di berkeringat.” May terus saja bergumam sambil mengepalkan tangan. Tidak butuh waktu lama, May sudah ada di depan kantor Darka yang mewah dan asing karena ini pertama kalinya dia menemui Darka dengan status sebagai istri di luar rumah. Ya, kali ini May akan menggunakan status itu supaya bisa langsung bertemu Darka yang membuat dia kesal. Namun, sebelum niatnya terlaksana, keberanian May kembali menciut di kala melihat orang-orang yang ada di sana. Karyawan wanitanya begitu rapi dan terlihat cantik-cantik. Tapi ketika melihat dirinya yang hanya memakai kaos kebesaran dengan bagian bawahnya diikatkan,dengan tangtop di dalamnya, celana yang hanya sebatas betis bagian atas, dan juga jangan lupa rambut yang di kuncir kuda, menandakan begitu bodohnya dirinya dan begitu jauh dari kata modis juga anggun,apalagi rapi. “Maaf, Non. Kita sudah sampai di kantor Tuan.”Ucap sang sopir yang telah membukakan pintu. “Oh, iya. Kalau begitu May tinggal sebentar ya.” Ucap May sambil turun dan tersenyum sebelum dia melangkah pergi. “Mbak May!” seseorang memanggil May dari samping. May mengerutkan kening, pasalnya dia baru melihat orang tersebut, tapi kenapa dia sudah kenal padanya. “Ya ampuuun, ini benar Mbak May, istri Bang Darka, iya kan!” ucapnya dengan sumringah namun matanya terus menatap May dengan lekat. May hanya bisa mengangguk tanpa bertanya apa pun karena orang itu langsung menggandeng tangan dan membawanya untuk masuk bertemu dengan Darka. “Selamat pagi Nona Zanna, mau bertemu dengan Bapak?” sapa seseorang dengan membungkuk hormat. Orang yang dipanggil Zanna tersenyum, namun ada kerutan di keningnya. “Key, kenapa kamu hanya menyapa saya, apa kamu tidak menyapa istri Bosmu!” ucap Zanna dengan lantang membuat orang yang ada di sana terkejut begitu juga dengan May. May tidak menyangka kalau Zanna orang yang baru dia kenal akan memarahi salah satu karyawan yang hanya tidak menyapanya. “Ma, maaf, maaf Non. Saya tidak tahu kalau, ini istrinya Pak Darka. Soalnya selama ini, kami belum di beri tahu.” Ucapnya dengan terbata-bata dan menunduk. Zanna membulatkan mata sambil menatap May.  “Yaaa, begitulah dia.” Ucap May sambil menaikkan pundak. “Ya ampun Bang Darkaaa!” Zanna menarik May ke tengah-tengah ruangan. Setelah,itu, dia bicara dengan lantang di depan semua orang. “Dengar semua, ini itu Mbak May, istri dari Bapak Darka,Bos kalian. Jadi mulai saat ini, perlakukan dia dengan baik. Karena dia pun Bos kalian juga.” “Ada apa ini!” suara yang tidak asing masuk ke pendengaran  May, membuat semua orang yang berkumpul ke samping untuk memberi jalan pada orang tersebut. “Zanna, apa yang kamu___ ya ampun sayaaang, kapan kamu datang ke sini?” Darka langsung mendekati May. Merangkul membawanya dalam pelukan setelah itu mendaratkan ciuman di bibir sang istri yang baru kali ini dia lihat di poles dengan lipstik. Semua orang yang ada di sana menutup mulut tidak percaya dengan apa yang Darka lakukan. Karena baru kali ini mereka lihat sang Bos memperlakukan seorang wanita cukup lembut dengan senyum yang tidak pernah luntur. “Ayo ikut! Mungpung kamu ada d sini, sekalian saja aku perkenalkan kamu pada semua orang. Tapi sebelumnya, temani aku makan terlebih dahulu.” Tanpa menghiraukan persetujuan sang istri dan sang adik yang dari kemarin sudah membuat janji padanya, Darka menarik tangan sang istri menuju lift untuk ke ruangan pribadinya. Zanna yang tidak di hiraukan, tanpa meminta undangan langsung saja ikut mengekor di belang sang Abang. “Aaaah, rasanya aku ingin tidur saja.” ucapnya sambil menjatuhkan tubuh di sopa panjang yang ada di ruangan itu. “Hey, apa yang kamu lakukan!” Darka menggoyangkan tubuh Zanna dengan pelan ketika melihat sang adik malah tertidur di tempat yang akan di duduki sama sang istri. “Apaan sih, Baaang1 aku cape, tidur dahulu sebentar. Aku itu sudah tidak punya tenaga gara-gara Abaaang.” Zanna bicara sedikit merajuk supaya Darka mengasihani juga mengizinkan dirinya untuk tidur di sana barang sebentar. Tanpa mereka sadari, May sudah menekuk dan wajahnya cukup menyedihkan. Awalnya dia merasa di anggap dengan perkataan Darka yang menginginkan di perkenalkan-nya May sebagai istri Darka. Tapi ketika melihat keakraban dua orang manusia di depannya ini, May merasa itu tidak ada gunanya karena bagai mana pun, itu tidak akan merubah sikap Dark yang selalu mengabaikannya. “Maaf, sepertinya lebih baik May pergi saja. Maaf, sudah menggganggu kalian.” Ucap May yang sudah mau pergi, namun langsung di cegah Darka dengan memegang tangannya. “Kamu itu mau ke mana? Sudah aku katakan untuk menemaniku makan. Dari tadi aku belum makan. Apak kamu tidak ingat, kalau aku langsung pergi karena ada rapat mendadak.” Ucap Darka sambil membawa May duduk. Zanna seorang wanita, dia  langsung peka dengan apa yang terjadi, dia langsung duduk dan menatap sang Abang dengan cukup garang. “Apa Abang tidak pernah bicara kalau punya adik?” Darka mengerutkan kening tanda tidak mengerti tentang apa yang Zanna katakan. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?” Darka malah balik bertanya. “Ya ampuuun, jadi selama ini, Abang tidak pernah bicara kalau Abang mempunyai adik secantik aku!’ Zanna membulatkan mata, “pantasajaaa, Mbak May mau pulang. Abang itu tidak peka banget sih jadi laki-laki!” Zanna terus saja mengoceh, membuat Darka yang akan makan terganggu. “Jangan bicara lagiii, cepat makan!” Darka memberikan se kotak makanan yang sengaja dia pesan karena dia hafal apa yang sang adik inginkan. “Ini aku ambil, tapiii,” Zanna mendekati Dark dan berbisik,”abang tahu tidak, Mbak May itu sedang cemburu dengan kedekatan kita.” Darka yang akan menyuap makanan langsung menatap Zana yang terlihat senyum sambil mengangguk. Setelah itu, matanya melihat May yang tengah makanan tanpa bicara. Dia melihat ada raut kesedihan di wajah itu, sampai membuat dia merasa bahagia karena istrinya ternyata merasa cemburu. Tanpa banyak bicara, Darka langsung mengulurkan tangan dang meraih tengku May yang tengah mengunyah makanan, setelah itu meraup habis mulut  May yang penuh untuk berbagi makanan. “Hueeek! Abang jorok!” Zanna langsung pergi mencari minum, ‘Abang benar-benar JOROOOOK!” “Ini makanan paling enak yang aku makan selama hidupku.” Ucap Darka sambil mengusap bibirnya yang penuh dengan minyak dari kuah sayur yang May makan. ***           
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD