May terdiam di tempat tidur. Kakinya ia lipat sebelah dan yang satunya tetap menjuntai berpijak di atas lantai.
Tidak tahu kenapa, hatinya merasakan ada yang salah dengan sikap Kia pada Darka, seperti ada ketertarikan pada lawan jenis. Padahal mereka-kan saudara, walaupun itu bisa saja terjadi karena mereka hanya saudara angkat.
Tapi apakah Kia tega, karena dia kan tahu kalau Darka itu suami May. Apakah dia akan setega itu!
Hati May terus meracau sampai dia pusing sendiri.
“Aaah!” May mengacak rambut, menumpukan sikut di kasur sambil membenamkan kepala ke bantal “Kenapa ada pikiran seperti ituuu!” Dia memukul-mukulkan kepala ke atas bantal sampai pusing sendiri.
Ddrrt ... ddrrrt ... suara handphone di atas kasur memaksa May mengangkat kepala dengan rambut acak-acakan.
“Halo?” May menempelkan benda pipih itu di telinga sambil menggaruk kepala yang tidak gatal, karena pikirannya masih saja pada kelakuan yang di tunjukan Kia pada Darka suaminya.
“Halo, May. Apa kabar?” suara yang sudah tidak asing lagi membuat bibir May sedikit naik dan melupakan apa yang terjadi.
“Aku, baik. Bagaimana sebaliknya? Kamu sudah lama tidak menghubungiku.” Ucap May, menjatuhkan kaki yang terlipat ke bawah ranjang, dan menjatuhkan tubuh di kasur sambil mendongak ke atas langit-langit kamar.
“Hahaha ... maaf, maaf. Aku sedang sibuk akhir-akhir ini. Keadaanku baik, May. Malahan saat ini aku ingin mengajakmu keluar untuk berenang.”
“Dasar manusia edan! Ini tuh malam. Sehat sih sehat, tapi jangan melakukan hal bodoh juga.” Ucap May sambil menggelengkan kepala.
“Hahaha ... aku kangen omelanmu, May. Mentang-mentang sudah menikah, sampai tidak mau menghubungiku lebih dahulu.”
“Maaf, maaf. Namanya juga pengantin baru, aku harus lebih mementingkan keluarga, bukan?”
“Inilah gadisku, eh temanku! Dia pasti mementingkan keluarga.” Ucap Amar dengan tawa yang tidak pernah luntur.
“Oh iya, May. Aku mempunyai sebuah informasi yang mungkin akan membawamu pada titik terang tentang __” Amar tidak berani melanjutkan perkataannya.
“Penculikan! Bebarkah!” May langsung terduduk dengan wajah semringah.
“Inilah yang harus kamu pikirkan May, karena ini hal yang paling penting dalam hidupmu. Andai nanti Darka melepaskanmu, kamu sudah bisa pergi tanpa harus merepotkan mamih lagi.” May menyugar rambut ke belakang, dan mangut-mangut sendiri dengan apa yang dia pikirkan.
“Maaay, kamu masih ada di sana, bukan?” suara Amar menyadarkan May dari lamunan.
“Eh, iya. Aku masih di sini. Bagaimana, apa yang kamu dapatkan?” May kembali antusias dengan apa yang tengah mereka bicarakan.
“Aku tidak bisa bicara lewat telepon, bisakah besok kita bertemu?” ucap Amar yang harap-harap cemas, pasalnya dia selalu gagal membawa May untuk bertemu sekalipun setelah May menikah.
“Alaaah, bilang saja kamu ingin bertemu karena rindu, banyak alasan saja. Tapi akan aku usahakan. Besok, sebelum pergi aku kasih kabar kamu dulu. Jangan lupa, bawa uang yang banyak. Aku akan menguras habis uangmu.”
“Hahaha ... sekali mendayung pulau terlampau kan bisa juga May. Boleeeh, boleh. Asal jangan sampai memaksa untuk beli gedung saja.”
“Dasar bangke! Kalau begitu selamat bertemu besok, ya. Aku tutup dulu. Sudah mengantuk, dadah lain waktu, Amaaar.” May menutup telepon tanpa mendengar jawaban apa yang akan Amar berikan.
Dia meletakan handphone di atas meja setelah itu kembali menjatuhkan tubuh di atas kasur, menutup tubuhnya dengan selimut yang cukup tebal. Pikirannya sudah tidak lagi ingat pada Kia karena yang dia pikirkan saat ini, berita apa yang akan Amar berikan padanya di hari esok.
Ceklek! Suara pintu terbuka, dan tidak lama setelah pintu itu tertutup, May merasakan getaran kasur dari sampingnya.
“Aku tahu, kamu belum tidurkan?” sebuah tangan basar membelai pipi May dengan lembut. “Barusan kamu telepon sama siapa? Kelihatannya asyik banget, sampai aku masuk tidak di hiraukan.”
Mendengar itu, May langsung membuka mata. Hal yang pertama dia lihat, senyum manis Darka yang sudah mengungkung dirinya.
“A, apa, apa yang kamu lakukan?” May tergagap sambil melihat ke arah bibir Darka. “Sial, kenapa mataku malah menatap ke sana!” May menggerutu sambil menelan saliva seret.
Darka yang paham dengan apa yang dia lihat, langsung mendorong kepalanya supaya bibir mereka berdua saling berhadapan atau hampir saja beradu.
May benar-benar tidak bisa berkutik, pikiran liarnya tentang sang suami yang menciumnya dalam bergelayut manja dalam otaknya, membuat May menggigit bibir tanpa sadar.
Melihat itu, Darka buas langsung melumat habis bibir itu dengan cukup lama.
“Jangan pernah menggigit bibir ini di depan orang lain. Kalau sampai itu terjadi, aku akan membuatmu tidak bisa jalan.” Ucap Darka setelah melepaskan pagutannya, dan menggulingkan tubuh ke samping.
May di buat gugup olehnya, sampai dia hanya bisa mengangguk dan menatap Darka yang tengah menatapnya juga dengan kepala di topang tangan sambil menyamping.
“Ok, sekarang, jelaskan! Siapa yang baru saja meneleponmu, sampai kamu bisa mengabaikanku.” Darka menyentil hidung May dengan gemas.
“Emmm, dia Amar teman May, dia mau___”
Tangan Darka langsung menarik tengkuk May dengan paksa dan kembali melumat bibir dengan kasar sampai May terasa sesak juga sakit akibat gigitan kasar Darka.
“Jangan sekali-kali menyebut namanya dengan bibir ini, ataupun dengan yang lain, karena ini hanya milikku seorang.” Darka terlihat murka.
Mendengar itu, May langsung mengulurkan niatnya meminta izin untuk bertemu dengan Amar. Namun, ini sangan penting baginya.
May menghembuskan nafas kasar sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Kenapa diam, Apa aku salah bicara?” ucap Darka sambil meraih dagu May untuk bisa menatap netra matanya.
May hanya bisa diam, dia tidak tahu harus melakukan apa-apa, karena Darka kalau sudah marah suka susah untuk baik kembali.
“Maaay, saya paling tidak suka di abaikan!” Darka menatap May tajam.
“Apa, apa boleh May besok pergi__”
“Tidak! Kalau kamu ingin bertemu dengan Amar, aku tidak akan memberi izin.”
May langsung mengerjapkan mata. Dia benar-benar takut. Tapi ini harus dia lakukan.
“Tidak, May tidak akan bertemu dengan A__” May langsung berhenti bicara karena dia langsung ingat dengan apa yang Darka katakan barusan.
Darka memicingkan mata, tetapi setelah itu, “baiklah. Tapi jangan pergi sendiri. Sopirmu akan terus berada di sampingmu.” Darka mencium kening May dengan lembut.
“May, bolehkan aku me__”
“Huaaam.” May menguap lebar, “May mengantuk, bisakah kita tidur sekarang?” Ucap May memotong apa yang akan Darka katakan.
Dia tahu ke mana arah tujuan perkataan Darka. Sebelum dia menolak dan melihat Darka marah, lebih baik dia membuat alasan yang bisa di terima walaupun dia tahu, kalau Darka merasakan apa yang May pikirkan.
“Heeemmm, baiklah! Sekarang, ayo kita tidur.” Darka membawa May dalam pelukan.
May yang sudah terbiasa mendapatkan perlakuan itu, langsung saja masuk dan menyenderkan kepala di d**a bidang Darka, menghirup bau tubuhnya sebelum nanti suatu saat mungkin akan kehilangan bau tersebut.
Masalah besok untuk bertemu Amar, biarkan jadi urusan besok. Di pikirkan juga hanya akan membuat dia pusing. Jadi lebih baik dia tidur dalam dekapan Darka yang menghangatkan tubuhnya saat ini.
***