21

1321 Words
           May menatap pantulan tubuhnya dibalik cermin, “Apakah Darka benar-benar sudah mencintaiku? Kalau tidak, kenapa dia terus memperhatikanku dari layar laptopnya?” May menunduk.               Beberapa menit sebelumnya. May masuk ke kamar kerja untuk melihat Darka dan membawakan sesuatu untuk dimakan sang suami sebab dia tahu, Darka belum memakan apa pun dari tadi. Perlahan May membuka pintu, tanpa mengetuk terlebih dahulu. May melihat Darka tengah menutup mata.               “Apa Darka tertidur?” ucap May dalam hati sambil terus mendekat perlahan, takut mengganggu. Ujung matanya, melihat layar laptop yang masih menyala. Keningnya berkerut, “Bukankah itu ruang makan, dan itu, kenapa mengarah pada tempatku dudukku tadi?” hati May terus bicara sambil menatap Darka yang masih anteng menutup mata.             May meletakan makanan di meja, ketika dia ingin beranjak, dia melihat Darka yang gelisah dan bergumam tidak jelas. Peluh bermunculan dari seluruh wajahnya. May ingin pergi, tapi hatinya tidak mengizinkan dan memerintahkan untuk menolong sang suami, Darka. Tangannya terulur untuk mengusap wajah Darka, tapi sebelumnya dia mematikan laptop yang masih menyala. Dia akan berpura-pura kalau tidak tahu apa-apa dengan apa yang Darka lakukan karena itu lebih baik.               Setelah itu, kejadian pun berlanjut sampai Darka melumat bibirnya dan saat ini dia tengah di depan cermin karena ada gangguan dari adik sang suami.           “Haaahhh ....” Terdengar helaan nafas, “Aku tidak menyangka kalau Kia adik Darka yang menghilang.” May kembali mencuci muka, hatinya terasa sakit, kenapa bukan dirinya yang menjadi adik Darka. Sehingga ibu dan ayah Darka bisa menjadi ibunya juga.             “Ya ampun Maaaay, jangan terlalu berharap! Selama ini kamu juga belum pernah di kenalkan dengan orang tuanya secara resmi, kan? Jadi sadarlah Maaay, sadar akan posisimu.” May kembali menunduk dan suaraannya makin terdengar gumaman ketika ingat posisi dia saat ini.              Tok tok tok, suara pintu menyadarkan May untuk segera ke luar. Dengan gerakan cepat May mencuci muka kembali, merapikan baju, juga mengikat rambut yang acak-acakan. Setelah merasa cukup rapi, May keluar tanpa melihat orang di depannya yang menarik dia dalam pelukan.                 “Teruskan, yuk!” kepala May seketika menempel di d**a Darka.                May mendengar detak jantung itu dengan jelas, dia baru sadar, kalau detak jantung Darka begitu cepat, seperti orang yang___,                 May mendongak, dia melihat tatapan yang tidak asing dari seorang laki-laki yang tengah terbakar birahi, “sepertinya Darka sudah tidak bisa menahan sesuatu yang selama ini ditahan.” Ucap May dalam hati sambil membelai pipi Darka.                “Kita teruskan yaaaa,” matanya maki sayu.                Tangan May di pegang dengan begitu erat sambil sesekali Darka bawa ke depan bibirnya. “kita teruskan yaaaa.” Darka menutup mata merasakan elusan tangan lembut May.                   May tidak bodoh dengan yang Darka ucapkan, tapi dia belum siap memberikan apa yang selama ini dia jaga, apalagi ketika dia ingat omongan Darka yang cukup menyakitkan.                       Namun, tanpa bicara, Darka langsung membawa May menuju meja kerja. Darka mengurung May dengan mata terus menatapnya lekat.                   “Sepertinya enak kalau kita melakukannya di sini? Supaya menjadi kenangan yang cukup berbeda dari yang lainnya.” Darka membawa tangan ke balik baju yang May gunakan                  “Darka, di luar ada Kia yang mengpppttt ...” Perkataan May tidak terselesaikan karena Darka langsung melumat habis bibir May.                      May yang terkejut langsung memukul dengan sekuat tenaga supaya dilepaskan. Namun, dengan cepat Darka menangkap tangan May dan memenjarakannya di atas kepala. Dia memberhentikan aksinya dan menatap May dengan nafas memburu.            “Aku ingin kamu saat ini juga.” Ucapnya dengan senyum.                   May langsung terkejut, “Tidak, aku tidak mau Darka mengambil haknya saat ini, aku masih ingin tahu apa yang ada dalam pikirannya, dan sosok seperti apa aku dalam hatinya.” Hati May terus berucap, sambil diam.                Melihat itu Darka terdiam. Apa dia menakutkan dirinya, sampai May terlihat enggan memberikan apa yang menjadi haknya.              “Kenapa? Apa aku___”                 Dor dor dor! Suara pintu digedor dengan cukup kencang, membuat May tersenyum. Pasalnya dia terselamatkan dari sesuatu yang tidak diharapkan.             “Sepertinya kamu merasa senang, kalau begitu,” cup! Bibir Darka melumat cepat bibir May. “Aku melepaskanmu hari ini, tapi tidak dengan waktu yang akan datang, karena saat kamu menolakku lagi, aku pastikan kamu memberikannya secara suka rela pada akhirnya.” Ucap Darka setelah kembali mendaratkan lumatan di bibir dan pergi untuk menemui sang yang cukup mengganggu.               Darka membuka pintu dan menatap Kia yang sudah berada di depan pintu sambil berjongkok.              “Mas, ke mana saja! Aku menunggumu dari tadi, aku ingin makan setelah___” Darka langsung menutup mulut Kia cepat, dia tidak mau May salah padam padanya, apalagi mereka baru saja berbaikan.               “Sekarang ayo temani aku makan. Dari tadi aku belum makan,” ucap Darka sambil membawa Kia menjauh dari kamar supaya May tidak banyak bertanya dan Kia kembali bicara yang tidak-tidak.                  May menatap kepergian suaminya dan sahabat baiknya yang sekarang sudah menjadi adik iparnya. Dia menatap dengan nanar, pasalnya selama ini Darka belum pernah memperlakukannya dengan baik, walaupun saat ini dia sudah berubah, dan itu karena kesabaran yang harus May perjuangkan selama beberapa bulan ini. Andai tidak sabar dan berlaku sedikit nakal padanya, mungkin Darka saat ini masih memperlakukannya seperti awal mereka menikah.               “Itu hal wajar, May. Mereka itu kakak adik yang sudah lama terpisah, jadi pantas mereka berlaku masih.” May tersenyum pahit. Rasa sedih di hatinya kembali dia tekan supaya tidak terlalu menyakitkan dan menjadi besar sampai dia melupakan apa yang paling utama dari pernikahan ini.                    Mai mendesah, karena hampir melupakan apa yang lebih penting dari pada rasa sedih hatinya. Mencari keberadaan orang tua, ya inilah yang paling utama dari pernikahan yang dia jalani untuk saat ini, karena dengan menjadi istri Darka dia masih bisa mencari informasi tanpa harus meminta bantuan laki-laki yang mungkin akan membahayakan hidupnya sendiri.                   May melangkah mengikuti Darka dan Kia yang katanya akan ke ruang makan. Padahal tadi dia melihat Darka sudah makan makanan yang dia bawa ke kamar. Namun tidak tahu kenapa, Darka malah bilang belum makan sama sekali. Untung saja tadi dia tidak membuang makan yang di masak.                  “Kamu ke mana saja, May! Sampai Mas Darka kamu terlantarkan.” Ucap Kia ketika melihat May yang baru datang.                     May yang awalnya tersenyum langsung diam membeku ketika mendengar panggilan Kia pada Darka. “Mas” kenapa itu sangat terasa intim.                  “May, aku__”                “Sudahlaaah, aku lapar. Cepat ambilkan nasi ke sini.” Ucap Darka dengan menyodorkan piringnya pada Kia.                    May yang awalnya akan mengambil alih langsung mengulurkan tangannya ketika Darka langsung memberikan piring itu ke depan Kia. Sepertinya dia tidak di butuhkah di sini, karena semua kegiatannya yang biasa di lakukannya diambil alih Kia dengan tersenyum bangga. May mengusap tengkuk dan memalingkan kepala searah lain ketika melihat Kia dengan beraninya mengusap bibir Darka hanya dengan tangan kosong.                      Jujur, kebersamaan ini membuat May sedih. May merasa mereka makin dekat dan tidak seperti adik juga kakak. Apa lagi sikap Kia yang terlihat kelewatan, dia seperti memperlakukan seorang suami dari pada seorang kakak.                   “Sepertinya aku sudah mengantuk. Jadi aku akan pergi tidur lebih dahulu, apa itu boleh?” May langsung beranjak tanpa menunggu jawaban.                    “May, apa aku bisa tidur di kamarmu? Kamu kan tidur dengan Mas Darka!” ucap Kia sambil menekankan kata Mas Darka, karena yang dia tahu kalau sebenarnya May tidak pernah sekamar dengan Darka, dan ini dia lakukan untuk membuat May merasa terpojok di hadapan Darka.             “Pakai saja, kamar itu sudah tidak di pakai juga. Tapi mulai sekarang bisakah kamu memanggil istri Mas dengan sebutan Mbak? Bagaimanapun juga dia istriku.” Ucap Darka sambil menatap Kia yang langsung terkejut.                 “Maksud Mas, May tidur bersama Mas di satu kamar?”                   “Apa yang aneh dengan itu, dia istri Mas. Wajar kalau dia tidur dengan Mas.” Ucap Darka sambil mengernyitkan kening, dia merasa kalau Kia tahu sesuatu yang tidak seharusnya.               Kia yang merasakan Darka mulai curiga kalau sebenarnya dia suka mengorek kehidupan rumah tangganya langsung menundukkan kepala. Tangannya terkepal dengan wajah langsung tersenyum menatap Darka, “Kalau begitu, aku akan menggunakan kamar kakak ipar sesuka hati.” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD