7

1170 Words
May sampai di depan semua orang yang tengah terduduk sambil menikmati makanan yang sengaja sudah di sediakan mamih untuk acara pernikahan ini. "Akhirnyaaa, pengantin kita datang juga.” Ucap mamih, langsung mendekati May yang masih tertunduk malu, gugup dan perasaan cemasnya makin menjadi. Apalagi ketika salah satu anak asuh mamih bertanya panggilan apa yang akan May berikan pada sang suami. May benar-benar di buat bingung, pasalnya dia masih ingat akan apa yang Darka katakan malam itu. “Walaupun kita sudah menikah, kau jangan lancang, panggil saya tuan.” Perkataan itu tidak akan May lupa. Apalagi Darka bicara diiringi dengan cacian pada diri May. “Sudah-sudah! Kalian ini. Kasiha anak mamih yang cantik ini.” Mamih menengahi dengan menarik May dan memeluknya erat. Darka yang dari tadi hanya diam, sempat melirik May sang istri yang satu setengah jam yang lalu mulai menyandang gelar tersebut dengan ujung matanya. Dia cukup tercengang ketika melihat kecantikan May. Dia tidak menyangka kalau May akan secantik itu. Darka makin merasa bangga ketika May sudah menjadi miliknya. Bibir Darka terangkat beberapa detik. Namun, kembali hilang ketika dia ingat apa yang seseorang katakan tentang sipat May yang asli. Raut wajahnya kembali mengeras, tangan kembali terkepal. “kesengsaraanmu sudah ada di depan mata, jalang.” Gumam Darka sambil menatap May tajam. May merasa bulu kuduknya berdiri ketik matanya bertemu dengan mata Darka yang menatapnya tajam. “Apa keputusan May untuk menerima pernikahan ini jalan yang benar?” May berbicara dalam hati dengan meremas tangan Kia yang sejak tadi dia pegang. Kia yang merasakan kecemasan May malah tersenyum. Hatinya merasa bahagia ketika mendapati May gelisah. Tanpa dia tahu, ada seseorang yang dari tadi menatap Kia dengan kerutan di kening, sepertinya dia merasakan dan melihat sesuatu yang aneh dari sahabatnya itu. “Kia, May merasa tidak enak. Apa akan ada yang__” May meremas tangan Kia dengan cukup kuat “Sudahlah May, kamu itu hanya cemas karena....” Kia mendekat ke telinga May, “Menunggu malam pertama yang pastinya, sungguh itu akan menguras tenagamu, May” Plak! May memukul lengan bagian atas Kia dengan mulut yang terbuka lebar dan mata melotot. “Kamu selalu menjijikkan!” ucap May sambil tersipu malu. “Waaa, pipi kamu langsung memerah May. Dasar, seperti wanita yang tidak pernah di sentuh saja!” ucap Kia sambil mendengus. May langsung menegang ketika mendengar apa yang Kia ucapkan. Mulut May akan berbicara tapi, bibirnya kembali mengatup ketika mendengar Darka yang bicara lantang pada semua orang sambil meraih tangannya dan menariknya secara kasar, sampai tangan May terlepas dari Kia dan tubuhnya membentur d**a bidang Darka. Bau parfum yang khas masuk ke dalam penciuman May, membuat dia betah menatap d**a bidang sang suami yang masih terbungkus tuxedo yang warnanya senada dengan warna baju yang tengah May gunakan. “Mau sampai kapan kamu menatap dan berada dalam pelukan saya?” ucapan Darka membuat May kembali ke alam sadarnya. “Maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulut May ketika dia ketahuan sedang menatap d**a bidang Darka yang terbungkus rapi. Dengan cepat May mundur dan memalingkan kepala ke kiri untuk menghindari tatapan tajam Darka yang menakutnya dan menusuk. Sungguh, membuat bulu kuduknya berdiri takut. Darka mendekatkan kepala dan bicara di depan telinga May sambil menarik pinggangnya. “Kamu memang jalang yang bisa membuat semua orang yang melihat iba dan makin menyukaimu.” Darka menekan tubuh May yang telah menegang karena kaget dengan apa yang Darka ucapkan. “Aduuuh, May. Kamu memang cocok dengan Tuan Darka. Mamih harap kamu bahagia, sayang.” Ucap Mamih sambil mengusap tangan May yang telah di tinggal Dark entah ke mana. Mamih mengusap mata sedih karena merasa belum siap kehilangan May yang sebentar lagi akan meninggalkan May. Darka yang tadinya ingin bicara dengan jalangnya langsung melepaskan May supaya mamih bisa bicara dan melepas May dengan tenang. Rangkulan yang cukup erat sebagai salam perpisahan yang Mamih berikan. “Semoga kamu cepat menemukan orang tuamu, Sayang. Mamih percaya, Tuan Darka akan selalu membuat kamu bahagia. Jaga diri baik-baik. Sekarang, kamu sudah jadi tanggung jawabnya. Jadi hormati dan taatlah padanya. Bila ada apa-apa, pintu kamar mamih akan selalu menunggumu, Sayang.” Ucap mamih dengan derai air mata. Dia meninggalkan May ke kamar tanpa mau menunggu dan melihat May pergi. “Aku akan pergi menemuimu. Bila aku kangen ya?” ucap Kia lantang sambil memegang tangan May dengan cukup kuat. May tidak bisa menjawab, dia malah menatap Darka yang ternyata sudah menunggunya di depan mobil yang terparkir indah di depan rumah. “May, aku__” “Nanti ya, May belum bicara dengan Darka. Tapi jangan sedih, Darka pasti akan membiarkan kamu menemui May. Ingat, itu janji May, Kia.” May dengan cepat memotong perkataan Kia, sebelum sang sahabat berteriak pada Darka untuk meminta izin. “Dasar pengantin baru, aku mengerti!” Kia memberi senyuman yang di balut dengan kekesalan. Tapi dia tidak bisa apa karena saat ini dia hanya bisa diam sambil memikirkan jalan untuk mengambil alih kebahagiaan May. “Cepatlah! Saya masih mempunyai urusan.” Itulah arti tatapan Darka yang mampu May artikan. Oleh karena itu, May buru-buru pamit pada semu orang sebelum Darka sang suami marah besar. “Cih! Orang-orang itu sungguh menjijikkan. Seperti kamu mau pergi ke mana saja.” Ucap Darka setelah mereka sama-sama sudah berada di dalam mobil. “Cepat pergi!” ucapnya lagi, pada sopir. May hanya bisa terdiam. Hati dan pikirannya cukup kacau untuk saat ini. Jadi lebih baik dia diam dari pada harus mendengar cacian kembali yang meluncur indah dari mulut Darka sang suami. Satu jam lamanya perjalanan yang di habiskan mereka dengan menggunakan mobil untuk sampai di kediaman Darka yang saat ini akan menjadi tempat tinggal May sampai waktu yang belum bisa di tentukan. “Turun, Jangan manja! Kamu harus ingat status kamu di sini.” Ucap Darka sebelum dia keluar mobil. Sopir yang melihat interaksi tuannya dengan May cukup merasa iba, pasalnya dia tahu apa yang akan terjadi ke depannya pada istri tuannya itu. May yang melihat tatapan cemas dari sang sopir hanya tersenyum tanpa mau bertanya atau pun bicara. Saat ini dia harus tetap fokus untuk mengetahui apa yang akan Darka lakukan. “Selamat siang Tuan.” Ucap serempak pelayan rumah yang telah menyambut kedatangan mereka. Darka tidak menjawab sedikit pun. Dia masuk dengan angkuhnya. Namun May melihat tatapan para pelayan itu cukup terkejut, pasalnya tatapan mereka menandakan tatapan lapar akan hasrat yang tinggi untuk sang tuan. “Dia pelayan baru, saya. Jadi, bila ada yang macam-macam padanya, saya tidak akan segan untuk mengeluarkan kalian!” ucap Darka dengan tegas. May langsung terkejut ketika Darka memperkenalkannya. Dia tidak mengira kalau Darka akan memperkenalkannya sebagai pembantu. May melihat tatapan yang tidak percaya dari semua orang. Dan itu May maklumi. Karena tidak mungkin seorang pelayan datang dengan baju pengantin dan mahkota di kepalanya. Sungguh, perkataan Darka membuat May di permalukan oleh suaminya sendiri. “Antarkan dia ke kamar dekat kamar saya.” Darka memerintahkan salah seorang pelayan untuk mengantarkan May. May berjalan menunduk. Perasaannya campur aduk, pasalnya dia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi padanya setelah dinikahi Darka. “Ini kamarnya, silakan beristirahat.” Ucap pelayan itu dan pergi tanpa senyum sedikit pun. May menjatuhkan tubuh di kasur yang sangat empuk, berbeda dengan kasur yang ada di kamarnya. “Semangat May, kamu pasti bisa menjalankan semua ini.” May menyemangati dirinya sendiri sebelum dia pergi berjalan ke alam mimpi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD