May terbangun karena suara ribut. Padahal semalam dia tidur sudah sangat larut, malah mendekat pada pagi buta. Suara ketuk pintu yang cukup keras membuat May langsung duduk dan tidak lama pintu terbuka memperlihatkan wajah Kia yang sudah terlihat rapi dengan hiasan yang cukup mencolok.
"Ya ampun Maaay! Kamu belum apa-apa?” suaranya sedikit berteriak ketika mendapati My masih bergulung dengan selimut.
“Memangnya kenapa, May masih mengantuk Kia. Jadi, jangan ganggu May. Kalau Kia mau pergi, pergi saja sendiri. May masih mengantuk.” Ucap May kembali berbaring, membalikkan tubuh dan berniat menutup seluruh tubuh sampai kepala untuk kembali tidur.
Namun, tanpa May duga Kia malah membuka jendela yang kebetulan sinar mata hari langsung masuk dan membuat May terkena sinarnya. May ingin protes, tapi itu tidak penting. Makanya dia semakin menutup kepala dengan selimut di tambah bantal.
"Ya ampun, Maaay!” Kia langsung menarik selimut yang hendak May gunakan.
“Ini sudah terlalu siang. Semua sudah menunggu pengantin wanitanya turun!" Ucap Kia sambil benar-benar menarik dan menjauhkan selimut dari jangkauan May.
May mengucek mata dan kembali menguap, tangannya menggaruk kepala yang terasa gatal.
"Memangnya siapa yang... Aaah!” May menjerit ketika dia sadar akan apa maksud perkataan Kia.
Dia benar-benar melupakan kalau dia akan menikah hari ini. May terdiam mengulang perkataan Kia dan menatap temannya itu,
"Kamu tahu kalau __"
"Alaaah, itu tidak penting! Sekarang cepat bangun. Aku tidak menyangka, kalau sahabatku akan menikah. Aduuuh, sepertinya aku akan berjauhan sama kamu, May.” Ucap Kia sedikit memperlihatkan kesedihan. Sambil tangannya terkepal.
"Kamu tidak tahu alasannya. Aku bukan pengantin” ucap May sambil turun dari kasur dan mengikat rambut secara asal.
"Tapi itu panggilan untuk wanita yang sudah menikah, May. Kamu pun sudah sah jadi istri Tuan Dar__”
"APA!” Teriak panjang May sampai Kia menutup telinga.
Kia mengangguk, “Pernikahan kalian baru saja beres May. Aku kemari hanya ingin mengajak kamu turun dan menemui suamimu yang sudah dari satu jam yang lalu menunggu istri tercintanya turun,” Ucap Kia sambil mempersiapkan segala sesuatu yang akan gunakan May.
"Sepertinya aku harus bekerja dengan ekstra, pasalnya matamu terlihat bengkak. Apa kamu menangis semalaman?"
Mendengar itu May hanya menaikkan pundak dan pergi mandi
“May, jangan lupa, langsung kompres mata dengan ini.” Kia memberikan satu kantong es batu supaya May menggunakannya.
May masih terdiam, pasalnya dia masih terkejut dengan kabar yang dia bawa Kia.
“Jangan melamun terus May, cepat mandi, supaya suamimu tidak murka," Ucap Kia sambil menekan kata suami yang langsung menyadarkan May dari rasa terkejut.
"Kia, kamu tidak berbohong kan, kalau Tuan Darka benar-benar sudah menikahi ku?” ucap May masih tidak mau menerima apa yang telah terjadi.
Satu pukulan mendarat di pundak May, “Dengar, kalau aku bisa, aku ingin semua ini bohong, May. Tapi sayang, semua yang aku katakan itu benar adanya. Tuan Darka sudah menikahi mu satu jam yang lalu, saksinya semua orang yang ada di rumah ini.” Ucap Kia menahan kesal.
Apa yang di ucapkan Kia benar adanya, dia memang menginginkan semua itu bohong, karena dia tidak rela bila May menikah dengan Darka. Tapi semua sudah terlambat.
"Sekarang cepat mandi, sebelum suamimu datang langsung ke kamarmu ini.” Ucap Kia sambil mendorong May untuk cepat mandi.
May hanya bisa pasrah, pasalnya menolak pun tidak ada artinya sebab Kia pasti akan memaksanya dengan cukup ganas.
Butuh waktu 20 menit May mandi dan mengenakan baju yang sudah Mamih persiapkan untuk acara ini, walaupun dengan rasa yang cukup risi sebab baju yang dia gunakan cukup terbuka.
"Akhirnya, aku akan hidup tenang karena kamu tidak akan menggangguku," Ucap Kia sambil merangkul May yang sudah dia poles sedemikian rupa sehingga kecantikannya benar-benar terlihat.
“Oooh. Jadi kamu tidak sedih aku tinggalkan! Lagian siapa yang selama ini sudah direpotkan?” May kesal dibuat-buat karena dia tahu yang Kia ucapkan itu hanya pengalihan kesedihannya.
"Yaaaa, aku tahu, selama ini akulah yang merepotkan. Oh iya, May. Kamari ini, bisa kan__”
"Iya, iya. Kamu bisa menggunakan kamar ini mulai sekarang. Karena kata Mamih, aku akan langsung pindah ke rumah Tuan Darka hari ini juga," Ucap May dengan lesu.
Hatinya sangat ragu untuk ikut pindah. Tapi karena Darka sudah menjadi suaminya, dia pun tidak bisa apa-apa. Selain melakukan apa yang Darka inginkan.
"Maaf Kak Kia, Kak May. Mamih bilang cepat turun, orangnya sudah terlalu lama menunggu.” Seorang anak yang berdiri dengan kepala menunduk membuat keduanya sadar kalau tengah di tunggu.
“Oh, Ok. Sebentar lagi aku akan membawa pengantin ini turun.” Kia merangkul May yang tengah tersenyum pada anak yang di suruh Mamih.
Kia kembali membereskan pekerjaan yang tadi sedikit tertunda.
“Akhirnya, selesai sudah," Ucap Kia setelah menyimpan sebuah mahkota yang cukup sederhana tapi dengan harga selangit di kepala May.
“Ayo kita turun. Suamimu sepertinya sudah tidak sabar," Ucap Kia yang kembali menggoda May yang terus terlihat gugup.
"Kia, apa May bisa kabur?” May berkata sambil menggenggam tangan Kia erat.
"Kabur!” May mengangguk ketika mendengar respons Kia.
“Baiklah. Tapi aku tidak mau menolong mu, karena takut... Krek!” Kia memeragakan sebuah tangan di leher May dan menariknya seperti isyarat.
May langsung merinding dengan apa yang Kia perlihatkan. Dia masih ingin hidup. Untuk apa dia kabur kalau memang tetap akan mati.
"Bagai mana, apa kamu siap May?” Kia menatap May.
Dalam hati Kia, Kia berharap May akan setuju dan hidup May akan menjadi buronan Darka selama-lamanya. Ada senyuman yang sedikit mengembang di bibir Kia.
Namun sayang, May malah menggeleng. Dia memang ingin kabur, tapi kalau harus membayarnya dengan kematian, May akan berpikir dua kali.
"Kalau begitu, ayo kita cepat turun. Suamimu menunggu lama, May.” Kia sedikit kesal dengan apa yang May putuskan. Padahal tadi dia berharap May benar-benar akan pergi.
Dengan langkah gontai May pun menuruti perintah Kia untuk menemui Darka.
Mungkin ini sudah jadi nasibku.
"Oh iya, dari mana kamu tahu kalau aku akan__"
"Setelah semalaman menemani Tuan itu, dia mengatakan kalau dia akan menikahi mu."
May berhenti melangkah, "Maaf karena aku sudah__"
"Tidak apa. Karena Tuan masih bilang kalau aku masih bisa menemuinya walaupun sudah menikahi mu."
Hati May rasanya sakit, dia ingin menangis dan marah dengan apa yang Darka katakan melalui mulut Kia. tapi dia tidak bisa apa-apa dan hanya menahan kesedihan.
"Kalau seperti itu, kita pasti masih bisa bertemu, kan." Kia mengulas senyum tanpa berasa bersalah sedikitpun.
Ini hanya awal, May. Kamu akan mendapatkan hadiah yang lebih baik dari pada ini.
Kia tersenyum, dengan masih memegang tangan May.
***