Tidak bisa jujur

1124 Words
May mengusap wajah, embusan nafas lelah masih terdengar. Dia cape pun letih dengan kejadian hari ini. Ini sungguh jauh dari apa yang dia pikirkan selama ini. Dulu dia berpikir untuk bisa pergi keluar dari rumah Mamih dengan sedikit terhormat sebab masih bisa mempertahankan apa yang menjadi kebanggaan seorang wanita. Namun sekarang, May tersenyum miris. Dia yakin, bukan hanya hidupnya yang akan hancur, tapi juga hatinya. "Sebenarnya May penasaran, dari mana Darka tahu kalau May sudah barang sisa.” May bermonolog, matanya masih menatap ke langit-langit. “Ya ampun Massy! Dia pastinya berpikiran seperti itu. Secara, May-kan tinggal di lingkungan yang bisa tidak biasa!” May duduk. “Tapi lihatlah Darka, kamu akan menyesal dengan apa yang kamu katakan Karena tidak semua wanita yang tinggal di sini sudah tidak suci lagi! Akan aku buat kamu menyesal!” May mengepalkan tangan. Tidak tahu mengapa, sejak awal melihat Darka, May sudah tidak sudah dengan laki-laki itu. Apa lagi ketika mendengar dia begitu begitu mengejeknya sampai tega menurunkan May di tengah jalan. "Apa dia marah karena melihat May di antar Amar?" "Siapa yang marah?" May terlonjak, karena Kia bicara tepat di samping telinganya. "Ya ampun Kia! Amu itu mengagetkanku." May mengusap d**a. "Maaf, siapa yang membuat kamu marah?" May menggaruk leher, "seseorang yang tadi aku temui." Tanpa May ketahui tangan Kia terkepal kuat. Aku yakin, kalau itu Tuan Darka! Tidak akan aku biarkan kamu bahagia! "Oooh, tahu yang tadi kamu temui. Kenapa marah, apa kamu melakukan kesalahan?" "Tidak, Kiaaa. May tidak melakukan kesalahan. Hanya tahu itunya yang__" Perkataan May terpotong dengan suara handphone Kita yang berdering. Kia tersenyum ketika melihat siapa yang meneleponnya. Dengan cepat dia menerimanya. "Halo Tuan. ada apa, apa tuan __ oh baiklah, saya akan ke saya." Kia tersenyum. "Sepertinya kamu mendapatkan__" "Tuan Darka meminta aku kerumahnya!" Jia bersorak gembira dan jingkrak-jingkrak. Sedangkan May sok, dia merasa sudah benar-benar dianggap tidak ada artinya oleh orang yang bernama Darka. Apakah dia tidak tahu, kalau aku dan Kia teman! Atau dia sengaja! Tangan May terkepal kuat, membuat Kia yang melihat itu tersenyum, Mulai saat ini, aku akan membuat hidupmu hancur! "Maaay! Halo, Maaay!" Kia sengaja meneriaki May yang masih melamun. "Eh, ada apa? Apa yang ingin kamu lakukan?" "Bisakah aku meminjam baju milikmu?Aku ingin tampil seksi di depannya." May mengerutkan kening, "Kenapa kamu ingin __" "Aku berharap suatu hari nanti dia bisa menikahi ku dan kami bisa bersama selamanya. Kamu tahu, dia itu sangat perkasa." Kia mengecup telapak tangannya dan tersenyum. "Apa kamu tidak takut kalau-kalau dia sudah menikah?" "Tidak apa Maaay, aku akan rela menjadi yang kedua atau ketiga dan keempat sekalipun, karena dia bigitu__ aaah! pokonya sempurna!" Walaupun istrinya itu kamu May, aku tidak akan membiarkan Darka baik padamu. Senyum Kia membuat May merasa kesal. Dia ingin sekali mengatakan dan mencegah Kia pergi karena besok dia akan menjadi istrinya Darka. Tapi sayang, May tidak berani mengatakannya. Kalau kamu tahu aku akan menikah dengannya, apa kamu tetap akan pergi Kia? "May, helooo!" Kia melambaikan tangan didepan May. "Ada apa Kia?" "Aku boleh meminjam bajumu?" May terkejut, bila dia meminjamkan baju miliknya, itu akan membuat May selalu ingat kalau calon suaminya pernah tidur dengan teman baiknya. Dan itu akan membuat May semakin jijik dan tidak suka pada Darka. "Aku memakai baju ini, ya." May semakin dibuat terkejut dan hancur hatinya karena Kia memakai baju yang selama ini menjadi favoritnya dan tidak mungkin bisa May tinggalkan. Sebab itu baju yang dia beli dari hasil keringatnya yang pertama. "Maaay, kenapa kamu diam saja, apa kamu tidak mengijinkan aku memakai baju ini? Kalau begitu__" "Bu, bukan! kamu bisa memakainya, tapi jangan sampai sobek. itu baju penuh kenangan." "Siap!" Kia tersenyum dan mengacungi jempol. Dan sekarang, kenangan mu akan bertambah, Kia tersenyum. May mengusap wajah dan menjatuhkan tubuhnya. Dia kesal pada dirinya sendiri karena tidak bisa jujur pada Kia dan melarang untuk pergi. "Sepertinya aku akan semakin tidak menyukai Darka, karena menyakitiku lewat temanku sendiri. May terus saja menyalahkan Darka karena dirinya lah yang meminta Kia untuk menemuinya, padahal dia tahu Kua itu teman May. Di luar kamar, Kia tersenyum, karena dia sudah bisa membuat May terlihat menyedihkan. "Dasar bodoh! Seharusnya kamu sadar, kalau aku tengah memanas-manasi nya dan membuat hubungannya dengan Darka semakin kacau." Tanpa May ketahui Kia lah yang memberikan semua informasi yang Darka ketahui sampai dia semakin membenci May. Kia begitu bahagia ketika May merasa sedih, karena dia merasa cemburu sebab May bisa mempertahankan sesuatu yang berharga atas bantuan Mamih. Apa lagi ketika dia mendengar May masih punya orang tua dan akan di nikahi oleh orang yang selama ini Kia cintai. Kamu harus lebih hidup menyakitkan May! "Kia, kenapa kamu memakai baju milik May? bukankah itu baju yang begitu May sayangi?" Mamih menyadarkan Kita yang berdiri didepan pintu May. "Iya, Mam. Aku ada panggilan." Mamih mengerut kan kening, "tidak ada panggilan__" "Ini secara pribadi, Miiih! Mamih tahu, yang meminta aku itu ... Tuan Darka." Mamih kaget, biasanya dia akan bahagia, karena setelah itu di akan mendapatkan banyak uang. Dengan cukup kasar Mamih menarik Kia menjauh dari kamar May. "Kamu bilang, kamu di panggil Tuan Darka?" Kia tersenyum bangga, "iya. Itu benar sekali." Mamih menarik nafas dalam-dalam, "Apa Kia mengatakan semua itu pada May?" Kia kembali mengangguk, "makanya aku bisa meminjam baju ini." "Batalkan semua! Mamih akan memberikan berapa pun yang kamu mau " Kia pura-pura tidak mengerti, "apa maksud Mamih! ini itu peluang cukup besar, aku tidak mungkin melepaskan semua ini. Malahan aku berharap bisa menjadi pendampingnya." "KIA!" Mamih membentak karena Kia sudah keterlaluan. "Kamu tahu, kamu akan__" "Maaam, ayo kita bicara!" May sudah berdiri di dekat mereka berdua. Membuat Mamih merasa kesal karena May melarangnya untuk mengatakan Darka calon suaminya. Kia mendengus, tapi tetap memasang wajah tidak tahu apa-apa. Supaya dua orang di dekatnya tidak sadar kalau sebenarnya Kia sudah tahu semua itu. "Maaam, apa yang ingin kamu__" "Kamu belum pergi Kia? katanya tadi buru-buru." "Ya! Aku pergi dulu sekarang." Mamih ingin mencegahnya, tapi sayang May malah menahannya dan menggeleng. "May minta Mamih jangan mengatakan semua itu pada Kia, karena Mamih tahu, Kia begitu mencintai Darka. Jadi aku tidak ingin Kia merasa sedih " "Kalau begitu, apa kamu sanggup melihat Kia bersama dengan calon suamimu malam ini? Kamu sadar, apa yang akan mereka lt?" Mamih menatap May. May mengangguk membuat Mamih mengusap mata dan membawa May dalam pelukan. "Maaf karena tidak bisa menjaga hatimu." Akhirnya May kembali menangis, Dia merasa kecewa dengan hidupnya dan juga marah dengan Darka karena menyakitinya dengan cara kejam. Aku membencimu, Darka! sampai kapan pun aku tidak ingin berbaikan denganmu! May semakin tenggelam dalam kesedihannya karena Darka lah yang membuat semua ini terjadi. walaupun dia sadar awalnya dialah yang mengusik sang Tuan. "Ingatlah, Nak. Jangan kamu gunakan hati untuk Tuan Darka, bila kamu tidak mau merasa sedih." May mengangguk, "May tahu, Mam." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD