Pelampiasan kemarahan

1055 Words
Di tempat lain, Darka tengah duduk sambil menunggu wanita panggilannya. Ya, hari ini Darka membutuhkan wanita untuk meredam amarah setelah melihat May tengah berduaan dengan laki-laki lain. Dia sudah meyakinkan diri kalau dia tidak cemburu atau pun apa itu, Katena yang dia miliki perasaan ingin menghancurkan orang yang sudah membangkang terhadapnya. Selepas pulang kantor, Darka menerima laporan dari seseorang kalau saat itu, May, wanita yang dia inginkan, tengah bersama laki-laki lain. Awalnya dia biasa saja, tapi selang beberapa menit, Darka langsung pergi ke tempat May dan laki-laki itu. Dan benar saja, dia melihat May begitu akrab dengan si laki-laki tanpa terlihat wajah sinis. Tangan Darka terkepal erat. Hatinya marah dan merasa ada yang panas di d**a. Dia langsung memerintahkan bawahannya untuk menjemput May. Namun, alangkah terkejutnya Farka ketika May bukannya terlihat takut, tapi dia malah membuat Farka jengkel karena May kembali memasang wajah tidak ramah. Karena kesal, Darka menurunkan May ditengah jalan, dan berharap May memohon padanya untuk tidak diturunkan. Akan tetapi, Darka kembali dia buat kesal sehingga dia melempar uang dan pergi. Setelah hampir 2 kilo jauhnya, Darka memerintah sopirnya untuk kembali ke tempat May karena dia merasa kasihan. Awalnya dia merasa bangga karena May pasti mengucapkan terima kasih atas apa yang dia lakukan, tapi nyatanya semua salah. May malah masuk kedalam mobil yang dia baru tahu kalau itu mobil laki-laki tadi. Darka meremas rambut, "Sebenarnya apa yang terjadi padaku!" Dia melempar gelas yang tengah di pegang. "Maaf, Tuan. Ada telepon dari Mamih." Mendengar siapa yang menelepon, Farka tersenyum, "akhirnya ikan akan masuk kedalam bubu." Darka berdiri dan menatap kota yang dihiasi kelap-kelip lampu yang menyala di setiap rumah, toko bahkan bangunan tinggi pun mampunya terlihat memberi warna malam itu. "Kamu sudah tahu untuk memberikan nomor rekeningnya?" "Maaf Tuan. sebenarnya saya__" "Apa kamu lupa, kalau saya tidak suka penolakan?" "Maaf, maaf Tuan. saya bukan menolak. Tapi apakah Tuan bisa memberikan lebih dari uang itu?" Darka tersenyum, "dasar wanita sok suci! " "Baiklah, aku tambahan satu setengah lagi, walaupun aku merasa merugi. karena dia bekas orang lain dan hanya akan aku jadikan wanita tidak ada harganya." Ucap Darka yang sebagian dia ucapkan di dalam hati. "Terima kasih __" "Dan aku ingin pernikahan dilakukan esok pagi!" Darka menutup telepon sepihak. itulah sebabnya mengapa Darka majukan pernikahan itu. Senyum di bibirnya tidak luntur kecuali ketika merasakan ada tangan kecil melingkar di pinggangnya. "Hai Mas,” seorang wanita langsung duduk di pangkuan Darka dengan mengangkang. "Akhirnya kamu datang juga!" Darka langsung menerjangnya tidak memberi waktu untuk bernafas. Biasanya Darka tidak akan melakukan kegiatan ranjang dengan wanita yang sama dua kali, apa lagi sudah pernah di gunakan orang lain. Tapi wanita ini, ada kecuali nya karena dia banyak memberi informasi tentang May. “Puaskan saya! Besok rekening mu bertambah!” Sebelum itu Darka memanggil seseorang yang langsung membawa barang yang dia minta beserta segelas air. "Kenapa aku harus meminumnya!" Si wanita protes ketika tahu apa yang dibawa. Darka tidak menggubris, “Minum obat itu dan langsung temui saya di kamar biasa.” Ucap Darka sambil mendorong kasar si wanita, dia pergi untuk menunggunya di kamar pribadi. “Jangan coba-coba mengelabuhi saya, kalau sampai kamu tidak benar meminumnya, saya pastikan keluar dari sini kamu akan langsung jadi santapan laki-laki lain dengan berbagai macam jenis.” Darka memandang si wanita ketika dia melihat ada gelagat aneh dari sang wanita. Si wanita mengangguk dan menelan saliva serat karena siasatnya malah ketahuan. Dan dengan satu tegukan, obat yang tadi di bawa pelayan langsung habis. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi. Walaupun tadi sebelum datang ke rumah itu dia sudah mandi, tapi Darka mengharuskan dia mandi lagi. Walaupun merasa kesal, tapi demi mendapatkan Darka, dia akan melakukan itu. Lima menit berlalu, si wanita baru datang menemui Darka yang tengah meminum cairan yang tidak asing baginya. "Mas, aku kangen.” Ucap si wanita kembali memeluk Darka yang kebetulan baru selesai mandi. Darka tidak bicara, dia berbalik badan dan mendorong si wanita ke tempat tidur setelah itu menerjang sang wanita tanpa mau melakukan pemanasan. Darka benar-benar menjadikannya pelampiasan kemarahan sampai dia meringis kesakitan. "Mas, pelan-pelan. Sakit!" Ucap si wanita yang berusaha mendorong Darka. "Jangan harap! inilah yang harus kamu dapatkan. Kalau kamu tidak suka, saya akan mencari__” "Teruskan, Mas!" Usap si wanita akhirnya. Dia tidak akan membiarkan Darka mencari wanita lain, apalagi ini demi balas dendamnya pada orang yang begitu dia benci. Darka pun tersenyum, tanpa rasa kasihan dia semakin kasar untuk melampiaskan kekesalannya pada May yang sudah berani bermain dengan laki-laki lain di belakangnya. Darka benar-benar membuat kekerasan sampai sang wanita pingsan karena kebrutalannya. Setelah puas, Darka menyuruh bawahannya untuk membawa sang wanita pergi tanpa lupa memberi perintah untuk mencari dokter guna memeriksa keadaannya. Darka mengambil minum dengan terus menatap keluar kamar lewat jendela yang saat ini masih menampakkan indahnya kota dengan kelap kelip lampu malam. Ketukan pintu membuat Darka terdiam, setelah itu, seorang laki-laki masuk dan mendekati Darka. Dia memberikan sebuah amplop besar. “Dia teman Nona. Umur dan keluarganya sudah bisa Tuan lihat di sana.” Ucapnya sambil menunduk. Darka membuka hasil penyelidikan bawahannya tentang laki-laki yang tadi bersama May. Alangkah terkejutnya dia, karena laki-laki itu anak dari saudara angkatnya yang waktu kecil selalu Darka bawa jalan-jalan. "Tuan, apa saya harus__” "Tidak, usah.” Hanya itu yang Darka katakan. Sang bawahan mengangguk dan pergi dari hadapan Darka. "Kamu akan merasakan akibatnya karena sudah main-main di belakangku.” Ucap Darka sambil mengusap foto May yang tengah tersenyum pada laki-laki yang tadi makan bersama dan mengantarkan wanita itu pulang. Darka kembali memanggil orang yang tadi masuk dan meminta bagaimana persiapan untuk hari esok. "Maaf Tuan, awalnya kami akan melakukan semua itu di rumah Mamih, tapi beliau memerintahkan kami untuk memindahkan semua." Darka mengerutkan kening, "apa sebabnya?" "Emmm ... beliau bilang, belum bicara dengan Nona masalah ini, jadi dia tidak mau kalau nantinya Nona malah kabur." Darka mengangkat kepala, matanya semakin tajam, kepalan tangannya semakin kuat, "awasi wanita itu! jangan sampai dia pergi! Laporkan semua yang dia lakukan dan beri tahu aku siap saja yang bertemu dengannya!" Sang bawahan mengangguk dengan gemetaran, karena baru kali ini dia melihat Tuannya begitu marah. Sepertinya Tuan sudah menemukan orang yang begitu berarti dalam hidupnya. "Kenapa kau malah diam! Cepat katakan apa yang aku perintahkan!" Darka membentaknya. Sang bawahan langsung pergi dengan cepat. "Tidak akan aku biarkan kamu pergi kemana pun! Karena kamu __" Darka tersenyum. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD