Bab 7: “Hari-Hari Seperti Ini”

1229 Words
“Seru hingga tak tahu lagi apa yang harus digambar,” jawab Lina. “Bu Guru sampai bingung kertas besar dari mana.” Kamu memang anak yang aneh, sahut ibunya Sulastri sambil tertawa pelan dalam hati. “Besok lebih besar lagi!” ujar Lina penuh semangat. Ia membayangkan lingkaran yang lebih besar dari hari ini, kertas yang lebih penuh dari hari ini. “Jadi kamu senang bersekolah hari ini, ya, apakah karena teman baru mu itu?” goda Ibunya Sulastri. “Dira bilang, besok kita gambar sampai papan tulis!” sahut Lina. kini ia beranjak pulang, sesampainya pulang. Nenek, dan Rendi sudah menunggu dirumah. Lina berlari menyambut mereka, Abu mengekor di belakangnya. “Kakak, kakak!” teriak Rendi sambil mengacung-acungkan mainan baru. Lina memeluk adiknya erat, seakan baru pulang dari tempat yang jauh sekali. Lina tahu Ibu dan Nenek saling bertukar pandang penuh arti, tapi tak dipedulikannya. “Lina bagaimana sekolah mu hari ini” kata neneknya sambil menggeleng pelan, seakan penuh pertanyaan. “sangat seru sekali, nek” sahut Lina. “ Lina pun bertanya pada neneknya, nek apakah rumah kita boleh ramai?” “Wah, ramai seperti apa?” tanya ibunya Sulastri pura-pura heran, sambil menguping percakapan antar Lina dan neneknya. “Seperti di sekolah!” sahut lina Nenek tertawa, senang melihat Lina begitu ceria. “Bila itu buat kamu senang, Bagaimana kalau ajak teman mu kerumah untuk bermain, atau kita buat gambar besar juga? Tapi tempel di ruang tamu?” Lina mengangguk, wajahnya berseri-seri. “Boleh banget!” Hari itu, rumah terasa lebih hidup. Lusa yang Lina khawatirkan kemarin ternyata ada di sini, dan lebih penuh dari dugaannya. Keesokan paginya, Lina bangun lebih pagi dari hari sebelumnya. “Wah, ada apa ini?” kata Ibunya Sulastri, setengah terkantuk ketika ia melihat Lina sudah siap dan menunggu di depan kamar ibunya. Lina tertawa kecil. “Gak sabar mau lihat kertas besar kemaren disekolah, bu.” Kali ini Abu lebih tenang. Ia duduk manis di pangkuan Lina, seolah tahu bahwa Lina lebih gelisah dari dirinya. Kotak bekal hari ini lebih besar, penuh dengan biskuit dan buah-buahan kering. “Yasudah, Jangan sampai ada yang kurang,” kata Ibunya sambil tersenyum. akhirnya Lina pun sampai disekolah, ia berpamitan pada ibunya Sulastri karena sudah mau mengantarkan nya. menjelang beberapa saat, Lina pun duduk dikelasnya dan bertanya: “Kamu yang bawa kertas ini?” tanya Lina tak percaya. “Tidak! Itu dari Bu Guru,” sahut Dira, muncul dari balik kursi. “Biar kita bisa gambar lebih banyak.” Lina tersenyum lebar, lebih lebar dari garis kertas itu. Hari itu mereka tak berhenti menggambar. Lingkaran yang sudah besar, makin membesar, makin penuh. Binatang-binatang terbang dan berlarian di sepanjang dinding. Abu dan Tori seekor kucing yang sangat aktif tersebut sesekali mengejar bayangan di kertas itu, mengundang tawa anak-anak. Tak ada yang mau berhenti meski tangan sudah mulai pegal. Bagi Lina, ini lebih dari sekadar menggambar. Ini mimpi yang menjadi nyata. “Besok kita cat seluruh ruangan ini!” teriak Ando penuh semangat. Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika akhirnya bel istirahat berbunyi, tak ada yang beranjak. Mereka duduk di lantai, membuka bekal makan siang, dan meneruskan menggambar dengan tangan kiri. “Kalian tidak istirahat?” tanya Bu Guru sambil mengamati. “Enggak,” jawab Lina. “Kami mau lanjut!” Bu Guru tertawa senang. “Baiklah, kalau kalian tidak lapar.” “Gak lapar, Bu guru!” sahut anak-anak bersamaan. Waktu pulang, kertas di dinding tetap penuh, gambar tetap padat. Mereka pergi dengan janji-janji di udara, janji mewarnai lebih banyak dan membuat ruangan itu berkilau. Lina pulang dengan tangan kotor dan hati riang, dan kali ini tak lupa terima kasih pada Ibu guru sebelum berpamitan. “akhirnya aku puas melihat kertas penuh warna, bahkan dira pun ikut senang” sahut Lina sambil berpuas diri. lalu Ibunya menatap Lina dari pinggir, ia tersenyum. “Lalu, bagaimana besok?” “Besok lebih ramai lagi!” ujar Lina, mata berbinar mantap. Kali ini, Lina tak sabar menunggu pagi. Ia terbangun lama sebelum alarm Ibu berbunyi. Semuanya masih sepi, bahkan Abu masih tidur meringkuk di kaki tempat tidurnya. Lina berjinjit keluar kamar, membuka pintu perlahan agar tak ada yang terbangun. Di dapur, ia mencuci apel dan memasukkannya ke kotak bekal. “Sudah bangun?” suara Nenek tiba-tiba mengagetkannya. “Nenek!” Lina bangga sekali bisa menyiapkan bekal sendiri. “Hari ini kami mau mewarnai!” Nenek tersenyum lembut. “Harus banyak-banyak ya, supaya selesai.” Ia membantu Lina memasukkan jus ke dalam tas. Lina pun bertanya pada neneknya “nek, Rendi kemana, crayon Lina yang dipake Rendi dimana? ” “Pasti. Rendi masih tidur,Nenek yang akan cari.” “Terima kasih, Nek!” Lina melompat memeluk Neneknya. “Lina sudah siap?” suara Ibu terdengar, setengah terkejut, setengah bangga. “Bangun lebih pagi dari alarm!” teriak Lina sambil berlari ke depan. Kali ini Lina berpamitan kepada neneknya, dan berterimakasih karena nenekna sudah mau membantu menemukan crayon milik Lina, Ia pun segera berlari membawa bekal dan tas yang penuh dengan crayon yang pinjamkan oleh adiknya Rendi saat sedang bermain kemarin. sesampainya disekolah, Dira sudah menunggunya di depan gerbang. “Bawa crayon banyak?” “Banyak sekali!” Lina membuka tasnya. “Kertas kita harus penuh hari ini!” Dira mengangguk puas. “Aku bawa cat air juga.” Lina membayangkan dinding kelas yang penuh warna, warna yang lebih cerah daripada kemarin, lingkaran yang lebih besar dari kemarin dan membesar sampai seluruh ruangan. Senyum di wajahnya tidak hilang sepanjang hari. Ketika jam pulang tiba, tangan mereka berselimut warna, dinding kelas berselimut gambar. Semua takjub melihat hasil pekerjaan itu, berkilauan bak pelangi. Dan bukan hanya gambar di atas kertas, mejikuhibiniu melayang-layang di seluruh ruangan, menempel di dinding, pintu, dan lantai. Tak ada ruang yang tersisa. “Besok kita gambar sampai plafon!” teriak Dira di tengah keramaian, disambut tawa anak-anak. Mereka berlari keluar kelas, bahagia dengan hari ini dan bersemangat untuk besok. Teriakan dan tawa menggema. “Seisi kelas hari ini sudah warna-warni, ya. ” lapor nya dira. Lina pun menjawab “ ia sangat seru” lalu ibunya Lina pun datang, “sepertinya kamu semakin hari semakin senang ya?” sahut kata Ibunya. Lina pun menjawab, “iya bu hari ini aku, sangat senang sekali karena penuh warna-warni.” tambahnya sambil tersenyum. “Terus Besok lebih ramai lagi tidak!” sahut ibunya, sambil penuh pertanyaan kepada Lina. Hari-hari berlalu seperti ini, dan terus seperti ini. Lingkaran yang sudah besar tak pernah mengecil; selalu menjadi lebih penuh, lebih ramai. Dan janji-janji yang melayang di udara tak pernah kosong. Setiap hari, mereka mengecat, menggambar, menempel. Setiap hari, mereka mewarnai kertas, dinding, bahkan tangan dan wajah teman-teman. Seminggu kemudian, kertas sudah melingkari ruangan, gambar sudah menjalar ke lantai, langit-langit, dan jendela. Ketika bel pulang berbunyi, tak ada yang beranjak. Bu Guru mengamati seisi kelas dengan bangga. “Jangan lupa bawa pulang gambar kalian!” sahut ibu gurunya. serentak para murid pun menjawab “baik ibu guru!” sesampainya dirumah, Rendi adiknya Lina menghampiri nya, dan ia bertanya “Kakak, lihat!” Rendi memamerkan gambar mainan di kertas besar yang digulung. Nenek tertawa mendengar ceritanya. “Rumah kita kalah ramai,” katanya mengulang, dan senang melihat Lina begitu ceria. Lina tidak perlu cemas lagi tentang hari esok. Lusa yang dulu menakutkan ternyata lebih penuh, lebih hidup, lebih seru dari yang pernah terbayangkan. Kertas tak pernah habis, gambar tak pernah tuntas, dan ramai tak pernah berkurang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD