Bab 6: “Cahaya Kecil di Pojok Ruang”

909 Words
Hari kedua, dan ketiga, Dira masih menunggu Lina di pojokan. Menawarkan makanan, menawarkan senyum, menawarkan kehangatan yang belum pernah Lina rasakan. Dunia kecil mereka mulai memiliki titik cahaya yang membuat anak-anak lain penasaran. Yang kemarin menjauhi Lina, kini mulai mendekat perlahan, seakan menunggu giliran untuk bisa turut masuk dalam lingkaran itu. Ando yang sempat mengejek, dua hari kemudian ikut duduk dan bermain bersama. Tak ada lagi crayon yang dilempar, hanya mainan lego yang dibangun bersama-sama. > “Kucingnya lucu!” seru Ando sambil mengelus kepala Abu yang meringkuk di bawah meja. “Aku mau bawa kucingku besok.” Lina tersenyum. Bukan senyum yang ditahan, tapi senyum penuh yang mulai tumbuh alami. Lina bahkan tak lagi menyadari ketika Dira menghampiri dan menggandeng tangannya. Mereka berjalan bersama-sama, lalu duduk saling berhadapan, saling berbagi warna. “Kamu suka kucing?” tanya Dira, sambil menyerahkan sebatang krayon jingga. “Aku suka semua hewan,” jawab Lina. Suaranya kecil, tapi kali ini terdengar mantap. Pagi berikutnya, Abu tak lagi meringkuk sendirian. Di sudut ruangan, Ando menepati janjinya; ia membawa seekor anak kucing hitam-putih yang terus-menerus mengeong. “Namanya Tori!” teriak Ando penuh bangga. Anak kucing itu melompat dan berguling-guling, mengundang tawa yang menggema di ruang kelas. Hari itu, hampir semua anak berkumpul di pojok ruangan. Meja-meja yang kemarin tertinggal di sisi lain perlahan ditarik mendekat. Lingkaran mereka membesar, penuh suara dan warna. Tak ada seorang pun yang merasa tersisih. Lina melihat semua itu seperti melihat keajaiban. Abu dan Tori berkejaran di lantai. Kegembiraan yang nyaring, bercampur riang, hampir membuat Lina tak percaya. Seakan ia takut semua ini hanya mimpi, dan ia akan bangun sendirian lagi. Tetapi, Dira ada di sana. Selalu tersenyum, selalu memastikan bahwa Lina tak merasa terpinggirkan. Kali ini, Dira menggambar sepasang burung, dan di atasnya menulis besar-besar: “Lina dan Dira.” >“Boleh aku lihat?” tanya Lina. “Kamu mau tambah apa?” sahut Dira. “Boleh aku gambar semua teman?” Dira tertawa. “Boleh. Tapi nanti tidak muat di semua kertas!” Lina tersenyum makin lebar, lebih dari ia pernah bayangkan. Matahari pagi masuk lewat jendela dan tumpah ke dalam kertas mereka. Ruang kelas terasa hangat. Setiap anak, bahkan yang biasanya pendiam, ikut menyumbang sedikit warna. Mereka menggambar Tori dan Abu, bunga, dan truk mainan. Anak-anak itu mengelilingi meja, berceloteh seakan-akan tak pernah ada yang berbeda di antara mereka. Di pojok, Lina duduk diam-diam, terpaku oleh kebahagiaan yang baru. Ketika Ibunya menjemput, Lina berjalan keluar dengan langkah ringan. Abu melompat mengikuti, dan Dira melambai seperti biasa. Lusa, pikir Lina, apakah semua ini masih ada lusa? Dua hari terakhir terasa seperti berlalu begitu cepat, secepat kertas yang tiba-tiba penuh dengan warna. Mungkin kemarin cuma kebetulan, kata sebuah suara kecil dalam hatinya. Tapi hari ini, suara itu tak lagi terasa kuat. “Ibu,” tanya Lina ketika mereka sampai di rumah, “kalau temanku datang ke sini, boleh?” Ibu menatap Lina, kaget dan senang. “Tentu saja boleh!” sahutnya semangat. “Siapa yang mau kamu ajak?” “Dira. Atau Ando. Atau siapa saja.” Ibu tertawa, memeluk Lina erat-erat. “Wah, sepertinya rumah kita akan ramai sekali!” Di kamarnya, Lina mencoret-coret kertas. Bukan gambar, hanya lingkaran-lingkaran yang menyambung satu sama lain. Abu mendekat, meringkuk, dan Lina mengelusnya pelan. Biasanya ia tak sabar menunggu hari sekolah usai, tapi kali ini ia tak sabar menunggu besok tiba. Keesokan paginya, Lina bangun lebih awal dari biasanya. Baju sudah dipilihnya sejak semalam; kaus bergambar kelinci dan celana panjang kuning cerah. Abu mengeong, ikut gelisah ingin ikut. Lina tersenyum, menggendong kucing kecil itu lalu berlari ke ruang makan. Ibu sudah menyiapkan kotak bekal dengan dua roti selai dan sebotol kecil s**u. “Siapa tahu ada yang mau kamu bagi,” kata Ibu sambil mengedip. > “Sudah siap?” “Sudah!” seru Lina sambil memasukkan bekal ke tasnya. Perasaan tak sabar sebelumnya membuat Ibunya berpikir sejenak, “mungkin anakku hari ini akan begitu ceria.” Abu lebih dulu sampai, berlari langsung ke pojok ruangan. Seperti hari sebelumnya, Abu tak lagi sendirian. Kucing hitam-putih milik Ando sudah ada di sana, asyik meringkuk di atas bantal kecil. Lina tertawa sambil mengangguk pada Ando yang baru datang. Jangan-jangan kemarin benar cuma kebetulan, pikir Lina ketika beberapa menit berlalu tanpa ada satu anak pun yang ikut bergabung. Tapi, seolah mendengar isi hatinya, Dira muncul di pintu sambil tersenyum lebar. “Aku bawa kertas yang besar sekali!” serunya. Tak lama kemudian, semua anak ikut mengerumuni sudut ruangan itu. Mereka duduk bersama, penuh semangat merencanakan gambar apa yang bisa mengisi kertas besar itu. “Sebanyak mungkin binatang!” teriak Ando. Lina heran mendengar teriakannya. Ia tak menyangka ada suaranya yang lebih mantap dari suara hatinya. Hari itu, mereka menggambar banyak sekali binatang. Ada jerapah, gajah, ikan badut dan lumba-lumba. Ada kupu-kupu, kelinci, dan sekeluarga besar kucing. Semua anak dapat tempat, semua anak merasa mendapat bagian yang paling seru. Lingkaran mereka penuh tawa, penuh celoteh, penuh warna. Kertas itu lebih besar dari yang kemarin, tapi tetap saja tak cukup besar untuk semua gambar yang mereka inginkan. > “Besok kita lanjut lagi!” Ando berseru. Tak ada yang mau meninggalkan sudut itu meski hari sudah hampir usai. Tak ada yang mau berhenti menggambar. Waktu seperti tak berarti. Ketika akhirnya bel berbunyi, mereka saling berpandangan, lalu tertawa sekaligus. “Jangan lupa bawa crayon banyak-banyak!” seru Dira sambil melambai. Di perjalanan pulang, Lina bersenandung kecil. Ibu mendengarnya, dan tersenyum. “Bagaimana hari ini?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD