Bab 5 : “Satu Cahaya di Tengah Sepi”

1081 Words
Pagi menyapa Desa Tegalsari dengan lembut. Bukan hujan, bukan panas terik, tapi semacam langit abu-abu yang menggantung diam. Rumah sederhana di ujung gang kecil itu mulai hidup. Aroma teh panas dan suara sendok bertemu gelas terdengar dari dapur. Di dalam rumah, Lina sudah duduk di tepi kasur tipisnya. Boneka Kiki ia peluk erat, dan si Abu meringkuk di pojokan dengan ekor melingkar. Sejak kemarin, Lina merasa sedikit berbeda. Ia tidak tahu kenapa, tapi rasanya... hatinya tidak terlalu berat seperti biasanya. Di dapur, Bu Sulastri, ibunya, tengah menyiapkan dagangan sederhana. Nasi bungkus dan gorengan akan dibawa ke warung kecil milik Bu Sum, tempat ia bekerja setiap pagi bersama nenek Lina. Suaranya terdengar dari luar kamar. > “Lin, kalau udah mandi langsung sarapan ya. Ibu mau berangkat duluan ke warung.” Lina tidak menjawab, hanya mengangguk. Sejak kecil, ia memang anak yang pendiam. Terlalu banyak hal yang tidak ia mengerti, dan terlalu sedikit pelukan yang bisa menghangatkannya. Ibunya pergi, menyusul nenek ke warung. Kini tinggal Lina, Kiki, dan si Abu. Kucing abu-abu itu seperti tahu betul jalan pikiran Lina. Tak banyak suara, tapi cukup duduk diam di sebelahnya untuk membuat Lina merasa tidak sendirian. Hari ini Lina berangkat sendiri ke TK Mutiara Hati. Kakinya kecil, langkahnya pelan. Tapi ada semangat baru yang tumbuh dalam diamnya. Si Abu berjalan di sampingnya, sesekali mengeong kecil seolah menyemangati. Di dalam pelukannya, Kiki ikut menikmati perjalanan pagi itu. TK sudah mulai ramai. Anak-anak berlarian, beberapa menangis karena rebutan mainan, dan suara guru memanggil anak-anak terdengar samar. Tapi yang paling mencolok adalah satu hal—Dira. Dira, anak baru yang kemarin memilih duduk bersama Lina, kini menunggunya di pojok ruangan. Tempat biasanya Lina duduk sendirian. > “Hai Lina,” ucap Dira sambil tersenyum. “Aku bawa bekal dua. Mau?” Lina menatap Dira. Pelan-pelan, wajahnya yang biasanya dingin berubah hangat. Dan untuk pertama kalinya, Lina mengangguk pelan, tanpa dipaksa. Di sudut ruangan, Bu Lely, guru baru yang menggantikan Bu Mira, sedang memperhatikan diam-diam. Tidak seperti Bu Mira yang lembut dan sabar, Bu Lely lebih tegas dan kaku. Suaranya cenderung lantang, dan sorot matanya tajam seperti selalu ingin menguji. Anak-anak belum terbiasa dengan sikapnya, apalagi Lina. Namun, meski begitu, Bu Lely cukup jeli. Ia tahu, dua anak itu tidak biasa. Terutama Lina. Dan sekarang, ada cahaya kecil yang mulai tumbuh di dunia Lina yang sunyi itu. Kelas TK Mutiara Hati mulai bergemuruh. Anak-anak bermain bebas sebelum belajar dimulai. Tawa riuh, suara mainan plastik dipukul-pukul, hingga suara tangis karena rebutan boneka. Tapi di sudut ruang yang agak redup cahaya, ada dunia kecil yang terasa tenang: tempat duduk Lina dan Dira. “Ini puding cokelat. Mama yang bikin,” kata Dira sambil membuka kotak makan kecil warna pink. Ia menyodorkan satu cup kecil ke Lina. “Aku suka bagi-bagi sama teman.” Lina menatapnya sebentar. Dulu, setiap ada yang menyodorkan makanan, biasanya hanya jebakan untuk diledek atau dijahili. Tapi Dira beda. Tak ada tawa mengejek, tak ada lirikan sinis. Hanya senyum hangat dan sorot mata yang jujur. Lina mengambil puding itu perlahan. “Terima kasih,” ucapnya lirih. Kiki dan Abu yang duduk di bawah meja seakan juga memperhatikan, seolah tahu dunia Lina mulai berubah. Di depan kelas, Bu Lely menulis di papan dengan spidol besar warna merah. Suaranya terdengar tegas saat ia berbicara, dan anak-anak langsung diam saat namanya disebut. > “Anak-anak, ayo kumpul di depan. Duduk rapi, Bu Lely mau mulai pelajaran.” Nada suaranya tidak galak, tapi ada tekanan yang membuat anak-anak enggan membantah. Berbeda dengan Bu Mira yang selalu mengajak dengan nyanyian dan pelukan, Bu Lely membawa suasana kelas yang lebih teratur, tapi lebih kaku. Dira segera berdiri dan menggandeng tangan Lina. Awalnya Lina agak kaget, tapi ia membiarkan tangannya digenggam. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa gugup di depan kelas. Anak-anak duduk melingkar. Bu Lely mulai bercerita tentang huruf dan gambar. Tapi matanya sesekali melirik Lina dan Dira di sudut lingkaran. Ada sesuatu yang membuatnya penasaran—dua anak itu seperti membawa dunia sendiri, namun justru paling fokus menyimak. Tiba-tiba seorang anak—Ando—melempar crayon ke arah Lina. > “Kucingnya bau! Bonekanya jelek!” katanya sambil tertawa-tawa. Lina terdiam. Dulu, dia pasti akan menangis atau menyembunyikan wajah. Tapi kini, Dira langsung berdiri. > “Hei, jangan ganggu Lina. Dia nggak jahat sama kamu!” ucap Dira dengan berani. Ando terkejut. Anak lain pun ikut diam. Bu Lely melihat semua itu. Ia melangkah pelan mendekat, lalu menatap Ando tajam. > “Kalau kamu ingin dihormati, kamu harus mulai dari menghormati temanmu. Ingat, kita di sini belajar bersama, bukan saling menjatuhkan.” Ando menunduk. Bu Lely berlutut, lalu memungut crayon yang dilempar tadi. Ia menatap Lina. > “Kamu tidak apa-apa, Lina?” suaranya kali ini lembut, tidak seperti biasanya. Lina mengangguk. Dalam hatinya, ia mulai mengerti: tidak semua orang dewasa dingin dan menakutkan. Kadang, mereka hanya terlalu sibuk dengan perannya. Pelajaran pun kembali berjalan. Tapi dari tempat duduknya, Lina merasa dunia tidak terlalu kelam seperti biasanya. Dira menggenggam tangannya lagi diam-diam. Si Abu tertidur di bawah meja, dan Kiki duduk tenang di pangkuan. Hari ini... dunia kecil Lina terasa lebih luas. Dan lebih hangat. *** Setelah hari yang panjang, Lina pulang membawa banyak rasa di hatinya. Puding coklat dari Dira yang sempat ia kantongi sejak siang, akhirnya dia buka di ruang kecil dekat dapur. Wangi manisnya langsung mengisi udara rumah kayu mereka yang hangat tapi sederhana. > “Kak Linaaa, itu makanan apa? Aku mau juga!” teriak Rendi, adik Lina yang berusia 3 tahun, dengan suara cempreng sambil menyeret kursi kecil. > “Nggak boleh, ini hadiah dari temen baru aku,” jawab Lina pelan sambil tersenyum, lalu menyendokkan sedikit untuk adiknya juga. “Tapi yaudah, cobain dikit, ya…” Rendi langsung senyum lebar, belepotan coklat di pipinya. Ibu Sulastri dari dapur cuma geleng-geleng, sementara nenek merapikan barang dagangan untuk warung Bu Sum esok hari. Di tengah semua keributan kecil itu, Lina merasa damai. Tidak ada pelukan hangat dari ayah yang lama menghilang, tapi ada Ibu, Nenek, dan Rendi yang selalu menunggunya pulang. > “Kak Lina, aku nanti mau sekolah juga, biar bisa dapet puding!” kata Rendi sambil tiduran di pangkuannya. Lina tersenyum lagi, memeluk Kiki bonekanya. > "Aku punya temen sekarang... dan keluargaku di sini. Gak apa-apa kalau aku harus belajar lebih keras. Dunia ini luas... dan aku baru mulai melangkah." **** Terkadang, kehangatan tak datang dari pelukan manusia, tapi dari hadiah kecil yang datang di hari yang berat. Dan bagi Lina, petualangan barunya… baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD