Bab XXXII : Bertandang

966 Words

Bulan purnama berpendar temaram menerangi malam. Pohon-pohon yang berdiri rapi di halaman sekolah terlihat mengukir bayangan di atas tanah. Detail dedaunan seakan bergoyang mengikuti irama tiupan angin dalam kegelapan. Petugas keamanan yang berjaga tampak tak acuh meski ada murid sekolah berseragam—datang bertiga membawa kendaraan—dengan sengaja berkeluyuran tepat jam sepuluh malam. Entah sejauh mana kuasa Lenka hingga sanggup datang dan pergi ke tempat ini, kapan pun sesuai keinginan. Mataku jelalatan memandangi sekeliling. Tempat ini sepi dan terasa mati. Derit nyanyian jangkrik seharusnya terdengar ramai dari berbagai sisi. Namun, hingga detik ini, telingaku gagal menangkap apa pun selain suara embusan angin. Aku tak sengaja menginjak ranting kering. Suara nyaring yang tercipta seaka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD