“Apa maksudmu?” ucapku menahan kesal. Lenka menggelengkan kepalanya. “Meski kamu ikut, kamu tak bisa berbuat apa pun. Ini ada di luar ranah alam fisik. Orang biasa tak akan pernah sanggup memahami kerumitan dunia astral.” Perhatianku lantas beralih pada Maria, menuntut sebuah penjelasan. “Kami percaya jiwa Siska ditahan oleh jin—makhluk halus yang menjaga [kotak] hingga mengutukmu menjadi perempuan—penunggu hutan di sana,” jawab Maria. Mendadak aku teringat pada imaji acak sore hari tadi. Kukira itu tak lebih dari mimpi, rupanya memang benar-benar terjadi. Benakku merekonstruksi kembali kengerian di wajah Siska. Gadis itu telentang tak berdaya, hendak digauli oleh makhluk besar berbulu dengan wujud buruk rupa. Hatiku menjadi semakin tak tenang. Keringat dingin mengucur dari pelipis.

