Maria mendorong daun pintu dengan kedua tangan. Pandanganku tiada henti menyusuri lemari berisi benda antik. Langit-langit ruang utama ini juga tinggi. Wajahku menengadah memerhatikan lampu gantung dengan ornamen rumit terbuat dari kaca warna-warni. Lampu hias itu berpendar indah menerangi seisi interior. Rumah ini terasa seperti kastil yang dihuni para bangsawan. Langkahku berjalan melewati sofa berwarna merah, juga karpet eksotis dari bulu harimau. Ruangan Siska terletak di lantai dua, jadi kami mendaki tangga utama—lebar mengkilap terbuat dari marmer—di bagian tengah ruangan. Meski dengan segala kemegahan ini, aku bisa merasakan semacam aura kelam nan dingin yang melekat. Mungkin karena pandanganku tak kunjung menemukan keberadaan manusia lain di dalam sini. Tak ada pelayan atau pe

