“Kamu ingin ke rumah Siska? Sekarang?” Rendi membeo pada perintahku tadi. Kujawab keraguan itu dengan sebuah anggukan kepala. “Rumahnya di daerah Cikao, tak jauh dari Danau Jatiluhur. Dia memang tinggal di pedesaan.” Pemuda itu hanya melongo. Aku nyaris tertawa melihat ekspresi di wajah Rendi. Seakan seluruh kerutan di alis itu mencecar sejuta pertanyaan, seperti; bagaimana? Naik apa? Yakin Siska ada di sana? Pulangnya bagaimana? Dan lain-lain. “Tenang saja, kamu cukup menyeludupkanku keluar dari sini. Selebihnya aku berangkat sendiri.” Rendi tentu tak puas dengan keinginanku itu. Ia membuka mulut hendak memprotes. “Tapi—,” Kubentak saja pemuda itu. “Rendi!” Secara ajaib dia mendadak diam menunjukkan kepatuhan, persis seperti hewan peliharaan. “Good boy,” ucapku memuji. Berikutny

