Pintu ruangan tertutup rapat, kini hanya ada aku dan Rendi. Pemuda itu duduk di kursi sofa dengan wajah agak tertunduk. Kulihat matanya mengerling, mengalihkan perhatian ketika pandangan kami beradu, seakan menyembunyikan sebuah kegundahan. “Kalian serius pacaran?” ucapku memecah kesunyian. Rendi menganggukkan wajah perlahan. Wajahnya seakan balik bertanya kenapa aku masih bertanya demikian. “Aku kenal Cindy luar dalam,” lanjutku meracau. Sifat asli Cindy amatlah m***m. Aku yakin dia menggoda Rendi dengan cara nakal. “Apa saja yang sudah kamu lakukan padanya?” Tenggorokan Rendi serasa tercekat, buru-buru ia menampik tuduhan. “Bukan aku! Cindy yang memulai—“ Ucapan itu terhenti, disumpal oleh punggung lengannya sendiri. “Oh, sudah mengakrabkan diri dengan kenikmatan seks? Selamat ya,”

