Tetes air meluncur jatuh dari rimbun dedaunan. Ranting basah bergoyang pelan ditiup angin sepoi. Rambut poniku tergerai lurus. Ujungnya menyapu hidung merangsang geli. Kelopak mataku terasa berat, sekelumit kantuk masih tersisa. Pikiran terasa kosong seraya telinga ditulikan suara mendenging. Butuh waktu lama hingga akhirnya kesadaranku ditarik paksa menuju realita. Pandanganku masih terasa buram. Kudapati lengan kananku terangkat tinggi. Bagian siku di atas sana terselip masuk,mengait pada cabang pohon berisi permukaan kayu kasar. Kulit seorang manusia tentu kalah telak ketika bergesekan dengan permukaan keras itu. Alhasil berbagai luka tercipta dalam bentuk goresan menyakitkan. Darah di lenganku mengalir lambat menyusuri siku hingga menuju bahu. Bau amis tercium di hidung. Aku bisa

