eps.8

1208 Words
Nayya segera mengambil hpnya. Ada pesan yang masuk, segera dilihatnya siapa sepagi ini yang mengiriminya pesan. " Sudah bangun Nay?" isi pesan dari Rayyan. Baru baca aja hati Nayya sudah berbunga, gelisahnya berasa sudah terbang jauh dibawa angin. Segera jarinya mengetik " Alhamdulillah sudah bangun Ray. Ray...maaf ya tadi malam ketiduran sebelum mengakhiri obrolan, aku ngantuk banget. Maaf ya Ray.." Rayyan yang membaca balasannya tersenyum "iya ga papa kok Nay..maafin aku juga ya?" Sejak hari ini Rayyan dan Nayya semakin dekat. Nayya merasa nyaman dengan Rayyan, Baginya Rayyan bisa menjadi seorang kakak, teman, sahabat berbagi cerita bagi Nayya. Rasa benci saat awal sudah menguap entah kemana. Sampai suatu hari saat berangkat kuliah, Nayya bertemu dengan teman saat ospek yang kebetulan teman sekamar Rayyan. "Hai Nay..bisa ngomong sebentar?" panggil Dio dari arah belakang Nayya. Nayya yang mendengar panggilan segera menoleh melihat siapa yang memanggilnya. "Iya..ada apa?" jawab Nayya memelankan langkah kakinya. "Nanti sepulang kuliah kamu ada waktu? Ada yang mau kusampaikan menyangkut kamu". Dio menyampaikan maksudnya. Nayya yang mendengar itu mengernyitkan dahinya dan langsung berhenti, mengangkat telunjuknya ke arah d**a. " Aku??? Ada apa ya? Ga bisa ya disampaikan sekarang?" Dio yang ikutan berhenti sejenak menggelengkan kepalanya. "Nanti aja sepulang kuliah, sekarang aku lagi buru-buru". Segera melangkahkan kaki sedikit berlari menjauh dari Nayya. Nayya yang masih bingung menatap Ghea, mengambil nafas dalam-dalam kemudian dihembuskannya perlahan. " kira-kira ada apa ya Ghe? Kok kelihatan penting banget". "Ga tahu juga ya Nay, kamu pernah ngobrol sama si Dio?" "Ga juga Ghe, hmmm..kalo ga salah Dio itu teman sekamar nya Rayyan". " oooohhh...gitu" Obrolan mereka berdua mengalir sampai didepan kelas. Baru masuk kelas, Nayya sudah mendapat sambutan sebuah senyuman manis dari Rayyan. Nayya membalas senyumannya dan duduk ditempat biasa. Kuliah hari ini lancar sampai waktu pulang. membereskan alat tulisnya, "Ghe..kamu temenin aku ya? Perasaanku kok kurang enak gitu, khawatir ada sesuatu". " oke..emang kamu ga pulang sama Rayyan?" menatap Nayya sambil menaik turunkan alisnya. " ihhh..apaan sih Ghe. Emang aku apanya Rayyan?" balas Nayya sambil memonyongkan bibirnya. " Kekasih hatinya lah..masak pembantunya" jawab Ghea enteng Nayya yang mendengarnya melotot ga terima. Beranjak dari tempat duduknya menenteng tasnya sambil menarik tangan Ghea. "Udah Ghe ngeledeknya, yuk buruan ketemu Dio. Udah penasaran sama berita pentingnya". Keluar dari kelas, Nayya dan Ghea sudah ditunggu Dio didepan gedung G, gedung yang jarang dilalui mahasiswa jadi sepi. Karena itu juga Nayya ga mau nemuin Dio sendirian. " Hai Dio.." sapa Nayya Dio yang berdiri bersandar di tembok gedung sambil memainkan hpnya menoleh. " Hai Nay.., kamu ngajak Ghea?" " iya, soalnya tempatnya sepi, sudah malam juga. Ga papa kan kalo Ghea dengar juga. Ghea bisa kok nyimpan rahasia kalo memang yang mau kamu omongkan rahasia". " hmmm..sebenarnya aku mau ngomongin ini karena belakangan ini kayanya kamu dekat sama Rayyan" Nayya dan Ghea melongo aja karena ga nyangka kalo yang diomongin Dio ternyata Rayyan. " terus hubungannya sama aku apa Dio?, kami berdua hanya berteman baik, kalo kamu ga percaya boleh tanya Ghea." Nayya melirik Ghea yang juga serius menatap Dio. " iya Dio, Nayya sama Rayyan hanya berteman" " oooh syukurlah kalo kalian berdua hanya berteman. Karena aku khawatir kamu disakiti sama Rayyan. Rayyan itu sudah punya pacar, setiap malam nelpon pacarnya. Lama juga kalo ngobrol. Eh dikelas malah beri harapan Nayya. Nanti kalo Nayya suka terus kecewa karena tahu Rayyan sudah punya pacar kan kasihan" cerocos Dio panjang lebar bahkan dikali tinggi (kaya rumus volume balok aja). "Rayyan sering pulang bareng kamu kan Nay? soalnya beberapa kali aku lihat kalian berdua makan bareng diwarung lalapan depan kampus". Nayya yang masih mencerna omongan Dio hanya menganggukkan kepala. Nayya mulai memanas hatinya merasa tidak terima karena ternyata Rayyan sudah punya pacar. Tapi kenapa Rayyan masih sering bersamanya? Nayya bingung Sebenarnya ada rasa kecewa dan marah kepada Rayyan tapi mencoba tetap tenang didepan Dio. " ooohhh gitu ya..ya ga papa kalo Rayyan sudah punya pacar toh aku hanya temannya saja, ada lagi yang lain Dio?" " Ga ada Nay cuma itu aja, aku teman sekamarnya ga tega kalo sampai kamu jadi korban Rayyan" " Kalo gitu aku balik dulu keasrama ya? Terimakasih banyak infonya Dio" Tersenyum menggandeng Ghea sambil berlalu dari hadapan Dio. Sepanjang perjalanan Nayya banyak diam, hatinya marah ga terima, 'Ray Jelek sudah punya pacar masih aja sering ngajak makan bareng, nelpon juga. Dasaaarrr jelek jelek jelek' batin Nayya Ghea yang berjalan disampingnya hanya terdiam sampai mereka berdua sampai dikamar asrama. Baru saja Nayya dan Ghea selesai dengan rutinitas sepulang kuliahnya, merebahkan diri diatas kasur asrama. Hp Nayya berdering, terlihat nama penelpon Rayyanka Sakya, Nayya hanya melihatnya saja tidak ada keinginan untuk menerima panggilan. Nayya merasa marah pada Rayyan. sampai dering panggilannya berhenti dan kembali berdering beberapa kali, Nayya masih enggan menerima panggilan itu. Nayya marah dan kecewa padahal Nayya ga berhak atas apapun yang dilakukan Rayyan. Rayyan hanya temannya, tapi kemarahan Nayya memperlihatkan bahwa Nayya menganggap hubungan dengan Rayyan lebih dari sekedar teman. Nayya bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sudah benar-benar jatuh hati pada sosok Rayyan. Nayya gelisah memikirkan perkataan Dio tadi. Diseberang Rayyan juga gelisah karena panggilannya tidak diterima Nayya. Banyak pertanyaan diotaknya yang semuanya tentang Nayya. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya hpnya berbunyi tanda ada pesan masuk. Segera dibukanya karena itu dari Nayya. " Ray jelek jelek jelek..:(" Rayyan yang membacanya kaget dan segera menulis balasan " iya Nay, ini ada apa sebenarnya? terima panggilan teleponku ya..please.." " ga mau..Ray jelek jelek.." Rayyan merasa ada yang aneh dan tidak seperti biasanya. Rayyan yang tidak sabar ingin mengetahui yang terjadi sebenarnya langsung memanggil nomor Nayya berulang kali. Sampai akhirnya Nayya menerima panggilannya.. suara Nayya yang menangis sesenggukan terdengar jelas. "Assalamualaikum Nay..halloooo...kamu kenapa Nay? kok nangis?" Rayyan bertanya dengan lembut, tapi Nayya tetap dengan rasa kecewanya. masih enggan menjawab yang terdengar hanya tangisan. Hening..Rayyan menunggu dengan sabar. "Nay..kamu kenapa? apa yang terjadi? apa aku ada salah? kamu marah?" Nayya akhirnya menjawab pelan disela tangisannya "Ray jelek Nayya benci Ray". " Nayya..sudah ya jangan nangis lagi, coba jelaskan ke aku ada masalah apa. kalo aku salah, aku minta maaf Nay, tapi jangan nangis gini. iya aku jelek Nay..tolong jangan nangis ya" bujuk Rayyan. " Rayyan jelek..Nay benci..kalo sudah punya pacar kenapa Ray masih sering nelpon Nay? bener kan Ray? tadi Dio yang ngomong ke Nay." Rayyan yang mendengar penjelasan Nayya malah tersenyum.. " Nayya percaya Dio? kenapa ga nanya langsung ke aku Nay? kan aku bisa jelasin tanpa harus ada tangisan. Nayya ga suka ya kalo aku punya pacar?" " hmmmmmm..bu bu bukan gitu Ray" " lah ini Nayya nangis karena omongan Dio kan? artinya apa coba?" Rayyan menggoda Nayya sambil melanjutkan "kalo aku bener punya pacar, Nayya sudah ga mau berteman ya? atau..." Rayyan sengaja tidak menyelesaikan ucapannya, menunggu reaksi Nayya. " kalo Ray punya pacar kenapa masih sering nelpon Nay, kenapa sering ngajak makan bareng? gimana nanti kalo pacar Ray tahu kalo Ray sering nelpon Nay?" " Nay coba dengarkan baik-baik, aku belum punya pacar. aku juga ga dekat sama cewek manapun. cewek yang seeing aku telpon ya cuma kamu Nay. coba Nayya ingat lagi, saat aku nelpon jam berapa, dimana, ada suara siapa saja yang ada di belakangku?" " Iya Ray..tapi yang Dio ceritakan itu siapa?" " waduh..masih nanya lagi, nurut kamu siapa yang aku telpon jam malam gini?" Nayya mencoba mengingat, tangisnya berhenti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD