Aksi saling melempar koin antara Nayya dan Rayyan berakhir dengan Nayya mengalah menerima pengembalian uang empat ratus yang dipinjam Rayyan. Karena Ghea jengah menunggu keduanya ribut, Ghea memilih meninggalkan Nayya. Akhirnya mereka berdua pulang bersama menuju asrama sambil mengobrol.
" Nay..kamu sudah makan malam?" Tanya Rayyan saat mereka melewati penjual lalapan yang dipenuhi mahasiswa mahasiswi yang mengantri sepulang kuliah.
" Belum..kenapa? Kamu mau beli makan kah? Ga papa beli aja, aku bisa pulang sendiri kok." Tersenyum menatap Rayyan.
" Kalo kamu mau kita bisa makan bareng dulu Nay, untuk ucapan terimakasihku sudah dibantuin kemarin".
" hmmmm..." Nayya menunduk terlihat bingung, menjawab iya apa ga. Mau menolak Nayya memang belum makan, Ghea yang biasanya beli makan bareng juga sudah pulang duluan. Mau menerima Nayya ragu karena masih canggung saat harus dekat Rayyan.
" Gimana Nay? Jadi makan atau kita lanjut pulang aja ke asrama? Kalo kamu ga makan ga papa aku temenin kamu pulang ke asrama". Ulang Rayyan saat melihat Nayya kebingungan dan kurang nyaman.
" eh..hmmm...iya Ray, makan aja ga papa".
" Alhamdulillah kalo gitu Nay, aku pesankan ya? Kamu mau makan apa?" Tersenyum menenangkan seperti biasa. Yang membuat Nayya semakin canggung karena Nayya merasakan ada yang berdebar di dalam dadanya.
" sama seperti kamu aja Ray.." jawabnya canggung dan malu.
Rayyan masuk ke dalam mencari tempat duduk yang kosong untuk mereka tempati berdua. Nayya mengikutinya dari belakang.
" Duduk Nay" Rayyan mempersilahkan Nayya duduk. Kemudian Rayyan duduk tepat didepan Nayya. Sambil menunggu pesanan datang Rayyan membuka obrolan agar mereka tidak canggung. Awalnya Nayya sedikit canggung, tapi keramahan Rayyan membuat suasana menjadi nyaman dan santai. Saat asik mengobrol, datang pelayan yang membawa pesanan mereka berdua. "Ini mbak..mas..pesanannya.."
" terimakasih" reflek Nayya menjawabnya.
Rayyan yang melihatnya tersenyum. Nayya mengangkat salah satu piring, menyajikannya didepan Rayyan lengkap dengan segelas es teh.
" Makasih Nay, yuk makan". Sambil tersenyum. Entah kemana hilangnya sifat angkuh dan juteknya Rayyan saat ospek. Rayyan yang Nayya kenal sekarang adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan.
Hening..tidak ada obrolan sampai keduanya selesai makan dan menghabiskan minumnya. Rayyan beranjak menuju kasir yang diikuti Nayya dibelakangnya. Setelah Rayyan selesai membayar Nayya sedikit maju ke tempat Rayyan tadi bermaksud ingin membayar makanan dan minumannya, tetapi..
Rayyan menarik tangan Nayya kesisi kasir, "sudah aku bayar Nay, untuk yang kemarin". Nyengir sambil nggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" oooh iya Ray..Makasih banyak ya"
" sama-sama Nay."
Mereka berdua berjalan berdampingan keluar dari warung makan. Diperjalanan menuju asrama mereka mengobrol saling bercerita tentang diri masing-masing. Sesekali tertawa seakan sebelumnya tidak pernah terjadi apa-apa.
Disamping asrama yang Nayya tinggali mereka berpisah, Rayyan menuju asramanya begitupun Nayya.
"Makasih ya Nay untuk malam ini.." Masih dengan senyum khasnya.
" sama-sama Ray.., aku masuk dulu ya" sambil berbalik menuju pintu asramanya. Rayyan juga berjalan menuju asramanya.
**
Baru membuka pintu kamar, Ghea duduk tepat lurus menghadap pintu. Menatap Nayya dengan tatapan penuh keingintahuan alias kepo dengan kondisi Nayya terkini setelah ribut dengan Rayyan selesai kelas bahasa dikelas tadi.
"kamu ga kenapa-napa kan Nay?" Menyelidik seperti orang yang mengintrogasi.
" Alhamdulillah Ghe aku baik-baik aja, bahkan menjadi semakin baik" sedikit menunduk sambil tersenyum.
"Ciyeee..ada sesuatu Nay?cerita dong"
Ghea berdiri menghampiri Nayya menyenggol bahunya berharap Nayya menceritakan semuanya setelah Ghea tinggalin dikelas.
"Aku tadi pulang bareng sama Rayyan, sekalian makan juga di warung lalapan depan kampus. Ya ngobrol..cuma gitu aja sih".
" Lah..tapi kok pas cerita wajahmu jadi merah gitu Nay? Kamu suka Rayyan?"
"Engg..gak kok Ghe, ih..aku duduk dulu ya..capek berdiri. Baru pulang sudah ditanyain macam-macam". Mengerucutkan bibirnya, menggantungkan tasnya di samping meja belajar lalu duduk ditepi ranjang.
"Eh tapi ga papa juga loh Nay kalo kamu suka Rayyan. Anaknya baik dan..."
"Apain sih Ghe..baru aja kenal". Nayya memotong omongan Ghea.
" Nay..cerita dong.."
" Males Ghe..aku kebelet pipis, hihihi.."sambil berlalu keluar kamar menuju kamar mandI sekalian membersihkan diri. Selesai melakukan semuanya, kembali kekamar, segera naik keranjang dan merebahkan diri. Baru rebahan ponselnya berdering. Ghea melihat nama pemanggilnya "Rayyanka Sakya".
" Assalamualaikum..ada apa Ray?"
" Waalaikumsalam..ga ada apa-apa sih, cuma pengen tahu aja kamu lagi ngapain?"
Terdengar tawa Ray dan beberapa orang diseberang walaupun kurang jelas.
" sudah rebahan, mau tidur. Kok dibelakangmu rame? Kamu dimana?"
" Berdiri dibalkon asrama, sambil nyari angin, dikamar pengap. Daripada ga ada kerjaan aku telpon kamu Nay, kamu ga keberatan kan?"
" ohh..iya gapapa", jawab Nayya singkat.
Hening...karena Nayya ga tahu apa yang harus diobrolin.
" kok sepi? Kamu masih disana kan Nay?kamu sudah ngantuk? Apa aku ganggu aktivitasmu?" Sederet pertanyaan keluar dari mulut Rayyan.
" maaf Ray..aku ga tahu apa yang mau diomongin hehehe.., aku belum ngantuk kok, kamu juga ga ganggu. Aku cuma rebahan aja. Aku seneng kok...." Nayya menggantung kalimatnya.
" Hehehe..kok ga diterusin Nay?hmm.."
" Hehehe.." Nayya tersenyum, tersipu. Untung ga terlihat oleh Ray. Jika itu didepan Ray pasti Nayya sudah dibully habis-habisan.
***
Nayya menggeliat, terdengar samar suara adzan subuh dari toa masjid kampus. Membuka matanya malas, membalik badan mencari hp. Meraih hp yang ada sisi bantal sebelah kirinya membukanya berharap ada pesan singkat yang masuk untuk sekedar menyapanya. "Haduh..kenapa juga jadi gini, kenapa aku jadi seneng karena ditelpon Ray dan malah berharap dapat pesan singkat juga".batinnya.
Sikap Rayyan yang memberi perhatian membuat Nayya merasa mempunyai sosok kakak yang selama ini selalu diimpikannya. Nayya merasa nyaman dekat dengan Rayyan.
Turun dari ranjang, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lanjut menunaikan kewajibannya. Selesai dengan kegiatan rutin pagi hari, Nayya bersiap untuk kuliah pagi difakultas saintek. Memakai hem lengan panjang garis-garis warna cream bawahan rok plisket hitam dengan hijab warna senada. Nayya berdiri didepan cermin melihat sekali lagi penampilannya pagi ini.
Ghea yang duduk ditepi ranjang menatap penampilan Nayya yang sudah terlihat rapi. " Seger banget Nay, hmm..semalam yang nelpon Rayyan ya? Kamu mulai dekat sama dia, kalian mulai saling menyukai?" Selidiknya.
Nayya kaget mengerutkan keningnya. " kok kamu ngomong gitu Ghe, apa sikapku berlebihan?, Ray nelpon karena iseng aja nyari temen ngobrol kok".
" Ooo....aku kira kalian lebih dari itu"
" Ga lah..baru tadi malam makan dan pulang bareng" Nayya geleng-geleng kepala. " Ghea..Ghea..pagi-pagi udah suudzon ke aku".
" Maaf Nay...."cengar cengir sambil garuk kepala.
" Iya udah dimaafin, aku berangkat kuliah dulu ya...sana cepetan mandi. Bau.." Tertawa sambil berlalu keluar dari kamar asramanya.
***
Siang harinya seperti biasa Nayya bersiap kembali untuk kuliah bahasa. Ghea sudah siap untuk berangkat.
" Cepet dikit Nay..kita terlambat loh. Lima belas menit lagi masuk".
" Bentar Ghe..rasanya badanku capek, bawaannya pengen rebahan aja".
" Waduuuuhhhhh..Nayya mana semangatnya, nanti dicari Rayyan kalo kamu ga muncul dikelas"
" Ga bakalan Ghea...aku ga ada hubungan apa-apa sama Ray" tepuk jidat lalu lanjut pasang jarum pentul untuk merapikan jilbabnya.
" Yuk ah segera berangkat, nanti yang diomongin kegigit n jungkir balik dijalan" Nayya terkekeh geli. Menggandeng Ghea keluar kamar.
" kamu bisa aja Nay..hehehe.."Ghea juga terkekeh disamping Nayya.
Baru sampai depan pintu kelas, Rayyan yang sudah duduk dibangku favoritnya tersenyum ke arah Nayya. Nayya membalas senyumannya dan langsung duduk ditempat biasa, disusul Ghea yang selalu duduk berdampingan dengannya.
Pembelajaran hari ini lancar. Rayyan dan Nayya juga menunjukkan sikap biasa saja. Ghea yang memperhatikan malah jadi bingung, sedikit mendekat kemudian berbisik ketelinga kiri Nayya " Nay..kok kalian berdua biasa aja, ga saling ngobrol juga walaupun tadi ada jam kosong?"
" Maksudnya?" Nayya balas berbisik ketelinga kanan Ghea.
" Di telpon kaya akrab gitu Nay, kok dikelas beda."
" Nurut kamu..aku harus ngajak ngobrol Rayyan?" Nayya memutar bola matanya malas.
"Ghea ih..ada-ada aja".
Beberapa saat kemudian Nayya tanpa sengaja menoleh, ternyata Rayyan sedang melihat ke arahnya sambil tersenyum. Nayya kaget dan langsung menatap kedepan lagi.
Bel tanda selesai perkuliahan berbunyi, semua bersiap untuk keluar kelas. Nayya dan Ghea masih duduk ditempat agar tidak berdesakan saat keluar kelas. Rayyan tersenyum menatap Nayya tetapi terus berjalan berlalu bersama teman laki lakinya.
Nayya dan Ghea juga ikut beranjak untuk segera menuju asrama. Sampai dikamar, Nayya langsung membersihkan diri, berganti pakaian dan naik ke ranjangnya. Nayya ingin segera beristirahat. Direbahkannya badannya, tarik selimut bersiap untuk tidur.
Hpnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Dilihatnya layar yang tertera nama sang penelpon. Matanya membulat " Rayyanka..."