Empat

979 Words
Dylan terkejut saat menemui Prof.Siregar melihat sesosok perempuan yang tadi berangkat ke kampus bersamanya. Ya, Dylan melihat Bianca berada di deretan paling depan. Dylan sempat tertegun beberapa saat waktu menyadari Bianca tengah memperhatikannya. Walau hanya beberapa saat, tapi itu cukup untuk membuat Dylan tersenyum puas. Dia tak pernah menyangka jika seorang Bianca Alisia akan memperhatikannya. Setelah keperluannya dengan Prof. Siregar selesai, Dylan berlalu dari ruangan Prof Siregar. Tubuhnya memang berlalu, tapi matanya tak pernah berlalu dari sosok perempuan cantik yang berada di kelas Prof.Siregar. Bruk...Dylan tanpa sengaja menabrak seorang pria paruh baya yang berjalan berlawanan arah dengannya. "Maaf saya tidak sengaja," kata Dylan menyadari bahwa itu adalah kesalahannya. "Ada apa kau ke sini Dylan, mau ngulang kuliah sarjana kau?" tanya pria yang di tabrak Dylan, yang ternyata Pak Silalahi, salah satu dosen Dylan saat menempuh kuliah sarjananya beberapa tahun. "Eh...Pak Silalahi. Enggak Pak, saya tadi hanya bertemu dengan Prof. Siregar di kelasnya," "Lalu kenapa kau jalan kagak pakai mata?" "Jalankan pakai kaki, Pak, bukan pakai mata," "Saya tahu itu, tapi mata kau tu pakai buat liat ke depan jangan meleng gitu kau!" "Maaf, Pak, tidak sengaja," "Halah, kau pasti lihat wanita cantik jadi kau tak fokus sama jalan kau," Dylan tersenyum kuda saat mendengar perkataan Pak Silalahi yang tepat mengenai hatinya. Dia memang tengah terpaku pada kecantikan Bianca yang masih dapat di lihatnya secara samar dari jendela di dekatnya. "Siapa yang kau lihat?" tanya Pak Silalahi sambil melongok ke jendela dan melihat sosok Bianca di dalam kelas. "Jangan kau pikir mau dekati Bianca, dia tak suka lelaki macam kau," "Lho kok Bapak tahu saya memperhatikan dia?" "Dia kembang kampus yang selalu jadi buah bibir karena kecantikannya. Kau tu sudah tua Dylan, cari lah perempuan lain yang seumuran," Lagi, perkataan Pak Silalahi tepat mengenai hati Dylan. Memang, usia Dylan dan Bianca terpaut cukup jauh, tapi hal itu tak menyurutkan Dylan untuk tetap menyukai Bianca. "Saya Permisi, Pak, ada keperluan dulu," kata Dylan berpamitan. "Hati-hati kau dan cari yang seumuran," kata Pak Silalahi. Walau kata-kata Pak Silalahi tepat mengenai jantungnya, namun Dylan tak sakit hati dengan perkataannya, dia sangat tahu bagaimana sifat Pak Silalahi. Dylan menyandarkan punggungnya di mobil sport miliknya. Dia selalu melihat setiap kali ada mahasiswa yang berjalan ke pelataran parkir. Lama dia menanti seseorang, tapi yang dia nanti tak kunjung juga datang. Bahkan batang hidunynya pun tak dilihatnya. "Shit...dia kan gak bawa mobil bagaimana mau ke pelataran parkir?" gumam Dylan pelan. Akhirnya Dylan masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya menuju gerbang dekat fakultas ekonomi, fakultas dimana gadis yang telah memikat hatinya berada. Tak perlu waktu lama untuk menemukan gadis yang di carinya, karena dia tengah berjalan ke arah gerbang dan siap keluar dari kampus. "Bi...," panggil Dylan. "Kok kamu di sini?" "Ya Bi, kamu mau pulang?" "Ya, kenapa?" "Bareng aku saja," "Tak usah biar naik taksi saja," "Sudahlah barenga aku saja," Setelah dipaksa oleh Dylan, akhirnya Bianca pun mau pulang bersama Dylan. Mereka berjalan bersama menuju mobil Dylan yang di parkir di depan fakuktas. Beberapa mata memandang aneh karena Bianca masuk ke dalam mobil Dylan, sesuatu yang tak pernah terjadi sama sekali. *** Bianca merebahkan badannya di atas tempat tidurnya yang nyaman. Mata indahnya berbinar seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Dan bibirnya tersenyum sangat indah. Kembali Bianca mengingat kejadin yang dia alami hari ini. Walau ada rasa bingung, tapi Bianca senang dengan semua kejadian hari ini. Dia tak pernah bersikap seperti ini, tapi entah kenapa Dylan berhasil membuatnya berubah menjadi gadis lain, gadis yang sempat ada beberapa tahun lalu. Kring...ponsel Bianca berbunyi dan dia segera mengambil pobselnya yang tergelat di atas tempat tidur. "Ada apa Dyl?" tanya Bianca setelah bersay hello dengan Dylan. "Gak ada apa-apa, aku cuma mau mastiin kalau ini memang nomor kamu," "Ya kan aku gak mungkin kasih nomor orang lain Dyl," "Kali saja," "Makasih ya sudah antar saya pulang," "Mobil kamu sudah betul?" "Kata bengkel besok di antarkan," "Besok aku antar kamu ke kampus ya?" "Jum'at aku gak ada kuliah," "Mau gak jalan-jalan sama aku?" "Hhhhmmm...," "Ayolah Bi," "Baiklah, jemput aku jam 9," "Ok" Setelah telpon di tutup, Bianca segera pergi ke balkon kamarnya dan menatap taman di belakang rumahnya. Ada rasa senang di hatinya saat Dylan mengajaknya jalan-jalan. "Ada apa denganku?" guamam Bianca pelan. Bianca masih bingung dengan perubahan sikapnya kepada Dylan. Dia tak pernah bersikap semanis itu kepada siapa pun, bahkan kepada orang yang telah lama dikenalnya. Tapi kepada Dylan, entah kenapa hatinya merasa nyaman berada di dekat Dylan walau mereka baru aaja kenal. Ada sesuatu dari Dylan yang dapat merubah sikapnya. Bianca menghirup dalam-dalam wangi bunga yang di terbangkan angin. Ada rasa yang sudah lama tak di rasakan menyeruak di dalam hatinya. Tok...tok...tok...sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunan Bianca. Dia segera berjala ke arah pintu dan membukanya. "Mama," teriak Bianca saat melihat mamanya berdiri di depan pintu kamarnya. Bianca langsung memeluk tubuh ibunya yang begitu di rindukannya. Dia tak pernah menyangka jika mamanya akan pulang secepat ini. "Mama kenapa gak bilang Bianca kalau mama mau pulang?" tanya Bianca sambil melepaskan pelukannya. "Mama mau ngasih kamu surprise sayang," "Bia kangen banget sama mama," "Mama juga kangen kamu sayang. Ngobrol di bawah yuk," Bianca dan mamanya berjalan beesama menuju lantai dasar. Tangannya tak pernah lepas dari lengan mamanya seolah dia tak dapat memegang lengan mamanya lagi. Akhirnya mereka sampai di sebuah gazebo di dekat kolam renang. Tiupan angin sepoi-sepoi mengiringi canda dan tawa anak dan ibunya. "Bunga itu sangat indah, dari siapa?" tanya mamanya kepada Bianca. "Gak tahu, Ma, gak ada nama pengirimnya," "Wah putri mama sudah besarnya hingga sudah ada yang mengiriminya bunga," "Mama bisa saja," "Oh iya, bagaimana kabar Arlan, kekasihmu?" Deg...Bianca langsung terdiam saat mendnegar nama itu di ucapkan oleh mamanya. Bianca tak pernah menyangka jika dia akan mendengar seseorang menyebut nama Arlan lagi. Ya, mamanya sudah terlalu lama pergi hingga tak tahu apa yang terjadi pada putrinya. Dia terlalu sibuk dengan semua dunia bisnisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD