Setelah badai intrik yang pecah di pesta ulang tahun hotel semalam, pagi ini Rusun Harapan Bangsa kembali ke "setelan pabrik":
hiruk-pikuk yang jujur dan berisik.
Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah ventilasi kamar Boy tidak membawa ketegangan seperti biasanya, melainkan membawa aroma tumisan bawang putih dan terasi dari dapur para ibu di lantai bawah.
Boy terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Luka di bahunya mulai mengering, meninggalkan sensasi gatal dan kaku yang menandakan proses penyembuhan sedang berjalan.
Ia perlahan bangkit, meregangkan badan hingga terdengar bunyi gemeretak dari tulang punggungnya.
Baginya, kebisingan rusun pagi ini—suara tangisan bayi, dentingan sutil yang beradu dengan wajan, hingga suara radio Bang Jago yang menyetel lagu dangdut lawas—terasa jauh lebih nyata daripada keheningan mewah di mansionnya di London.
Saat ia membuka pintu kamar untuk menuju wastafel umum, ia hampir menabrak Bang Jago yang sedang sibuk mengelap pembatas selasar dengan kaos singletnya yang sudah berubah warna menjadi kuning kecokelatan.
"Eh, Boy! Udah bangun lu, pahlawan kesiangan?" Bang Jago nyengir, memperlihatkan satu giginya yang ompong.
Bang Jago adalah penjaga parkir rusun yang merasa dirinya memiliki insting intelijen setingkat agen rahasia. "Gue denger semalam lu bikin gebrakan di hotel, ya? Wah, gaya lu udah kayak agen rahasia di film layar tancap.
Jangan-jangan lu itu sebenernya anggota CIA yang lagi nyamar jadi tukang pel buat nyari berlian yang ilang di gedung itu?"
Boy terkekeh sambil menyeka wajahnya dengan air dingin dari keran. "CIA dari mana, Bang? Saya mah boro-boro nyari berlian, nyari kembalian lima ratus perak di saku celana aja harus ngorek-ngorek sampai dalam."
"Halah, ngerendah mulu lu! Tapi inget ya, kalau ada orang mencurigakan pake kacamata hitam di parkiran, lapor gue.
Tarif temen lah, kopi item dua gelas cukup buat info intelijen dari gue," Bang Jago menepuk bahu Boy yang luka—membuat Boy hampir melompat karena perih yang menusuk.
Bang Jago hanya tertawa tanpa dosa, tidak tahu bahwa bahu itu baru saja selamat dari maut.
Perut Boy mulai berdemo. Ia turun ke lantai dasar menuju warung Mpok Lela, "pusat informasi" alias markas gosip paling akurat di seluruh rusun.
Di sana, Luna sudah duduk manis di kursi panjang kayu, sedang meniup-niup teh manis hangatnya yang masih mengepul. Ia mengenakan kaos oblong kebesaran warna putih yang nampak nyaman, rambutnya diikat asal-asalan dengan jepit bunga kecil pemberian Boy tempo hari.
"Eh, si ganteng dateng! Sini duduk sebelah Luna, masih kosong nih kursinya," seru Mpok Lela sambil mengaduk mie instan pesanan pelanggan.
"Tumben kalian nggak berangkat bareng? Biasanya kayak sendal jepit, nempel mulu ke mana-mana."
Luna tersedak tehnya, wajahnya memerah instan sampai ke telinga. "Apaan sih Mpok! Siapa juga yang nempel sama tukang bikin masalah kayak dia?"
Boy duduk dengan canggung di sebelah Luna. Jarak mereka begitu dekat hingga Boy bisa mencium aroma sampo melati yang segar dari rambut Luna, mengalahkan bau asap gorengan di sekeliling mereka.
"Pagi, Lun. Masih marah soal motor Jody?"
Luna tidak langsung menjawab. Ia melirik Boy dari sudut matanya, melihat plester di dahi Boy yang sudah miring dan kotor.
Tanpa bicara, Luna merogoh tas selempangnya, mengambil plester baru dan sebotol kecil antiseptik. Dengan gerakan cepat, ia mencabut plester lama—membuat Boy meringis kecil—lalu mulai membersihkan lukanya.
"Diem. Jangan banyak gerak," bisik Luna. Tangannya yang mungil terasa dingin namun sangat lembut saat menyentuh kulit dahi Boy.
"Lu tuh pahlawan paling berantakan yang pernah gue kenal. Bisa-bisanya lu luka begini tapi masih kepikiran buat bantuin orang lain."
Di tengah momen romantis tipis-tipis itu, Jody datang dengan langkah gontai dan wajah ditekuk. Ia duduk di seberang mereka tanpa memesan makanan. Suasana di meja Mpok Lela mendadak berubah kaku.
"Gue udah bawa ke bengkel Bang Kumis tadi subuh," ujar Jody berat, matanya menatap tajam ke arah Boy. "Katanya sasisnya agak bengkok, bodi plastiknya pecah semua. Tiga juta kalau mau balik mulus kayak dulu. Itu harga jujur, dia nggak ngambil untung karena tau gue temennya."
Tiga juta. Bagi Boy, itu nilai yang sangat kecil, tapi bagi penyamarannya, itu adalah jumlah yang besar. "Gue bakal ganti, Jod. Gue janji. Kasih gue waktu dua minggu buat cari uangnya."
"Pake apa? Gaji housekeeper lu aja nggak sampai segitu sebulan," sindir Jody sinis.
"Gue bakal cari kerja sampingan. Apa aja bakal gue lakuin," jawab Boy dengan nada mantap yang membuat Jody sedikit terdiam.
"Tuh, Jod! Si Boy tanggung jawab!" sela Mpok Lela sambil menaruh semangkuk mie dobel telur di depan Boy. "Eh, Boy, di bengkel depan rusun itu lagi butuh orang buat cuci motor sama mobil kalau sore.
Gajinya harian, lumayan buat nambah-nambah cicilan. Daripada lu jadi CIA-CIA-an kayak kata Bang Jago, mending lu jadi kuli cuci beneran."
Luna menatap Boy dengan tatapan cemas. "Kerja di hotel aja udah capek, Boy. Lu mau kerja sampingan lagi? Badan lu itu bukan besi, lu masih luka."
"Gue nggak apa-apa, Lun. Ini gara-gara gue juga, gue harus beresin," Boy tersenyum, mencoba menenangkan kegelisahan di mata Luna.
Sore harinya, setelah menyelesaikan shift di hotel, Boy benar-benar mendatangi bengkel Bang Kumis. Ia melepas seragam hotelnya, menyisakan kaos dalam putih yang segera basah kuyup karena semprotan air selang tekanan tinggi.
Luna, yang baru saja pulang belanja dari pasar bersama Jennifer, sengaja memperlambat langkahnya saat melewati bengkel. Ia berhenti di balik pagar, memperhatikan Boy yang sedang serius menggosok ban mobil Jeep tua yang penuh lumpur.
Otot lengan Boy yang biasanya tersembunyi di balik seragam kini terlihat jelas, berkilat karena air dan peluh.
"Woy! Gosok yang bener! Itu di sela-sela bannya masih ada tanahnya!" teriak Luna dari pinggir jalan, mencoba menutupi rasa kagumnya dengan omelan khasnya.
Boy menoleh, wajahnya terciprat busa sabun. Ia menyeringai nakal, lalu menyemprotkan air ke arah kaki Luna—hanya sedikit, tapi cukup membuat Luna menjerit kaget dan melompat. "Sini bantuin kalau cuma bisa teriak-teriak doang!"
"Ih! Dasar tukang air!" Luna tertawa lepas. Ia meletakkan belanjaannya, mengambil spons cadangan, dan mulai ikut menggosok bagian kap mobil.
Mereka bekerja sambil saling bercanda, sesekali saling melempar busa sabun ke wajah masing-masing.
Di bawah sinar matahari senja yang mulai menguning, tawa mereka menyatu dengan suara air.
Untuk sejenak, Boy lupa bahwa dia adalah pewaris tahta bisnis raksasa; di sini, di bengkel kumuh ini, dia hanya seorang pemuda yang sedang jatuh cinta pada gadis rusun yang sederhana.
Malam harinya, setelah selesai bekerja sampingan, Boy mengantar Luna kembali ke koridor kamarnya. Langkah mereka pelan, menikmati angin malam yang berhembus di lorong rusun yang mulai sepi.
"Capek banget ya hari ini?" tanya Luna lirih, menatap tangan Boy yang nampak memerah karena terlalu lama terendam air sabun.
"Dikit. Tapi seneng," jawab Boy jujur. Ia merasakan kepuasan yang berbeda—kepuasan karena berjuang dengan keringat sendiri demi menebus kesalahan.
Boy merogoh saku celananya yang masih agak lembap, lalu memberikan sebuah kantong plastik kecil pada Luna. "Ini buat lo. Tadi ada abang-abang jualan di depan bengkel, gue inget lo pernah bilang suka ini."
Luna membukanya. Isinya adalah sebuah jepit rambut berbentuk bunga kecil dengan warna pastel yang lembut. Sederhana, murah, namun bagi Luna, itu terasa jauh lebih mewah daripada hadiah apa pun.
"Makasih, Boy," Luna memakainya di rambut, lalu menatap Boy dengan binar mata yang tidak bisa disembunyikan.
"Tapi inget, jangan paksa diri lu. Gue lebih suka liat lu jadi tukang pel yang sehat daripada pahlawan yang pingsan karena kecapekan."
Boy tersenyum, merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Namun, saat ia melirik ke arah parkiran bawah, ia melihat Bang Jago sedang berbicara serius dengan seseorang yang mengenakan jaket kulit hitam di kegelapan.
Naluri Boy kembali waspada. Panggung sandiwaranya mungkin sedang terasa manis, tapi bayangan musuh tidak pernah benar-benar pergi.