bc

Undercover Housekeeper : S2 London di Balik Sapu

book_age18+
7
FOLLOW
1K
READ
dark
HE
heir/heiress
blue collar
drama
bxg
serious
campus
office/work place
like
intro-logo
Blurb

"Jika kau ingin menangkap tikus, kau harus masuk ke dalam lubangnya. Bahkan jika lubang itu kotor dan berbau sampah."Boy Pratama (25) punya segalanya: gelar master dari London, wajah rupawan, dan tahta Pratama Group yang menantinya. Namun, kepulangannya disambut sebuah misi rahasia dari kedua orang tuanya. Hotel Bintang 7 milik keluarganya sedang sekarat, digerogoti oleh "tikus korporat" yang lihai bersembunyi di balik jas mahal.Dalam satu malam, Boy kehilangan segalanya. Mamahnya melucuti kunci mobil mewah, kartu kredit, hingga jam tangan bermerek miliknya. Ia "dibuang" ke sebuah rusun kumuh dan dipaksa memegang gagang pel sebagai staf housekeeping rendahan di hotelnya sendiri.Di sana, Boy bertemu Luna (22), gadis rusun yang keras kepala dan hobi adu mulut dengannya. Hidup Boy yang semula rapi berubah menjadi kekacauan penuh cekcok, aroma karbol, dan kencan murah di pasar malam. Namun, di balik seragam birunya yang kotor, Boy tetaplah pemangsa. Dengan bantuan Paman Romi (sang auditor pusat), ia mulai melacak jejak Pak Danu dan Angeline, supervisor licik yang mengorbankan siapa saja demi ambisi—termasuk mengancam Jennifer, rekan kerja yang nyawa anaknya sedang dipertaruhkan.Saat penyamaran Boy mulai terancam oleh insiden berdarah di Gudang Blok C dan siasat pemeriksaan fisik yang mematikan, ia harus memilih: Tetap menjadi "Boy si Tukang Pel" yang dicintai Luna, atau kembali menjadi Sang Pewaris yang dingin demi menghancurkan musuh-musuhnya?Satu hotel kena tipu. Satu koruptor kena ratu. Karena terkadang, kebenaran paling bersih justru ditemukan oleh tangan yang paling kotor.

chap-preview
Free preview
Bab 1. Pangeran London dan Kasta Terendah
Pesawat Boeing 777 itu membelah awan Jakarta yang mulai mengabu. Di dalam kabin First Class yang sunyi, Boy Pratama menyandarkan kepalanya ke kursi kulit yang sangat empuk. Di tangannya melingkar jam tangan Patek Philippe seharga satu unit apartemen di Sudirman. Ia baru saja menyelesaikan studi S2 Manajemen Perhotelan di London dengan hasil gemilang. "Akhirnya, back to the game," bisik Boy pada dirinya sendiri. Pikirannya sudah melayang jauh. Ia membayangkan dirinya berdiri di lantai teratas Hotel Pratama Grand, menunjuk-nunjuk laporan keuangan, dan memecat orang-orang yang tidak kompeten dengan satu jentikan jari. Ia adalah pewaris tunggal. Raja kecil yang baru saja pulang dari medan perang pendidikan. Begitu mendarat, Boy melangkah keluar dari Terminal 3 dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Namun, ada yang aneh. Tidak ada limosin hitam yang menunggu. Yang ada hanya dua pria berbadan tegap ajudan Papanya yang langsung menggiringnya ke sebuah kantor kecil di sudut bandara yang tersembunyi. "Lho, kok ke sini? Mobil gue di mana? Gue udah laper banget mau makan steak," tanya Boy bingung. Di dalam ruangan itu, Tuan Pratama dan istrinya sudah duduk menunggu. Wajah sang Papa terlihat kaku, seperti sedang menahan amarah yang sudah berkarat setahun lamanya. "Duduk, Boy," perintah Tuan Pratama. "Pa, ada apa sih? Kenapa mukanya horor gitu? Gue lulus lho, nilai gue terbaik satu kampus!" Boy mencoba mencairkan suasana. Tuan Pratama melemparkan sebuah amplop cokelat ke meja. "Omzet hotel turun tujuh puluh persen tahun ini. Kamar privat selalu penuh di akhir pekan, tapi laporan keuangannya nol. Ada yang mencuri uang keluarga kita dari dalam, Boy. Dan mereka semua adalah orang-orang kepercayaan yang licik." Boy mengangguk-angguk. "Ya udah, kasih gue kursi Direktur Utama. Besok gue audit semuanya. Gue sikat mereka pakai sistem yang gue pelajarin di Inggris-London." "Gak semudah itu, anak muda," sela Mama dengan nada sedih namun tegas. "Kalau kamu datang sebagai Direktur, mereka akan pakai topeng paling manis. Kamu nggak akan pernah bisa lihat siapa tikusnya. Kamu harus masuk ke sana tanpa identitas." Mama meletakkan sebuah plastik hitam di depan Boy. Isinya bukan jas tailor-made, melainkan seragam kain poliester biru dongker yang kaku. Di dadanya ada bordiran putih: HOUSEKEEPING. Boy terdiam lima detik, lalu tawa pecah dari mulutnya. "Hahahaha! Bagus, Pa! Lucu banget prank-nya! Mana kameranya? Papa kerjasama ama YouTuber siapa? Ini konten 'Pewaris Jadi Babu' ya?" Wajah Tuan Pratama tetap datar. "Ini bukan konten. Ini kenyataan. Besok pagi kamu melamar ke hotel sebagai Boy. Bukan Boy Pratama. Kamu akan tinggal di tempat yang sudah Papa siapkan. Semua asetmu... Papa ambil." "Maksud Papa?!" Boy berdiri, suaranya naik satu oktav. "Kunci mobil, kartu kredit, jam tangan, dan ponselmu. Serahkan sekarang. Kamu hanya boleh bawa baju-baju murah dan ponsel Android lama ini," kata Tuan Pratama sambil menyodorkan ponsel dengan layar yang sudah agak retak. "Pa! S2 London gue buat apa kalau cuma buat bersihin kloset?! Ini gila! Ini pelecehan terhadap intelektualitas gue!" Boy berteriak frustrasi. "Intelektualitas tanpa realitas itu nol, Boy. Kalau kamu keberatan, silakan balik ke London sekarang juga, tapi sebagai gelandangan. Kamu bukan lagi anak Papa sampai kamu berhasil membongkar siapa tikus di hotel itu," ancam Papa. Dengan tangan gemetar dan harga diri yang hancur berkeping-keping, Boy melepas jam tangannya, menyerahkan kartu kreditnya, dan merelakan dompet kulitnya. Ia merasa seperti seorang pangeran yang baru saja dieksekusi mati di depan rakyatnya sendiri. Malam itu, Boy berdiri sendirian di depan Rumah Susun Harapan Bangsa. Bangunan itu tampak seperti monster beton yang kehausan cat. Bau sampah dari bak besar di depan gerbang menyapa hidungnya yang biasanya hanya menghirup aroma parfum Jo Malone. "Gue pasti lagi mimpi. Ini pasti mimpi buruk akibat jetlag," racau Boy saat menaiki tangga yang becek menuju lantai empat. Ia membuka pintu kamar 402. Ruangan itu hanya seluas tiga kali tiga meter. Kasurnya hanya busa tipis di atas lantai. Ada satu lemari plastik yang pintunya sudah miring, dan satu kipas angin besi yang bunyinya seperti mesin giling padi. KRIEK... KRIEK... KRIEK... Boy duduk di pinggir kasur, menatap ponsel Android-nya yang loading-nya minta ampun lamanya. "Gue laper... tapi duit gue cuma tinggal seratus ribu buat pegangan..." TOK! TOK! TOK! Pintu diketuk dengan tidak sopan. Boy membukanya dan mendapati seorang pemuda dengan kaos kutang putih yang sudah menguning di bagian ketiak. Di belakangnya, ada seorang gadis remaja yang rambutnya dikuncir asal-asalan. "Penghuni baru ya? Gue Jody, kamar 401. Ini adek gue, Mira," kata pemuda itu tanpa basa-basi. "Gue... Boy," jawab Boy singkat, berusaha tetap terlihat berkelas meski hatinya perih. Mira, sang adik, menatap Boy dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Masnya ganteng banget sih, kayak artis Korea. Tapi kok mau tinggal di sini? Abis kena tipu pinjol ya? Atau kabur karena buntingin anak orang?" "Mira! Mulut lu dijaga," tegur Jody sambil tertawa kecil. "Sori ya, Boy. Emang gini nih kalau tinggal di rusun, nggak ada privasi. Lu mau kerja apa besok?" "Gue mau melamar di Hotel Pratama Grand," jawab Boy, berusaha menahan gengsi. "Wih, gaya lu! Jadi manager?" tanya Jody. "Jadi... Housekeeper." Hening sejenak. Lalu, ledakan tawa Jody dan Mira terdengar sampai ke ujung lorong. "Hahahaha! Muka model kayak lu jadi tukang pel? Mas, mending lu daftar jadi figuran sinetron aja! Nyiksa diri banget sih!" Boy menutup pintu dengan kasar, mengabaikan tawa mereka. Ia berbaring di kasur tipis itu, menatap langit-langit yang berjamur. "Satu tahun di London belajar strategi bisnis global... sekarang gue harus belajar strategi gimana caranya supaya nggak muntah nyium bau sampah di sini. Mama... Papa... kalian bener-bener jahat." Pagi itu, Jakarta seolah ingin menguji kesabaran Boy. Sinar matahari sudah menyengat sejak pukul tujuh, menambah aroma debu dan asap knalpot yang menyesakkan d**a. Boy berdiri di depan gerbang belakang Hotel Pratama Grand jalan masuk khusus karyawan dan pengiriman barang. Seumur hidupnya, ia selalu masuk lewat lobi depan yang harum aroma melati dan dingin oleh AC pusat. Sekarang? Ia berdiri di antrean yang memanjang di samping bak sampah besar. "Gila, ini antrean mau melamar kerja atau mau bagi-bagi sembako? Panjang bener," gumam Boy sambil mengelap keringat di dahi dengan sapu tangan sutra satu-satunya barang yang tersisa di saku jasnya semalam. Di depannya, seorang gadis berdiri dengan tegak. Gadis itu memakai kemeja putih polos yang sudah agak menguning di bagian kerah, tapi disetrika sangat rapi. Rambutnya dikuncir kuda, menampakkan leher jenjang dan profil wajah yang sebenarnya sangat cantik meski tanpa riasan tebal. Gadis itu menoleh saat mendengar gerutu Boy. "Kalau nggak sabar, mending pulang aja, Mas. Masih banyak yang lebih butuh pekerjaan ini daripada Masnya yang sibuk ngeluh," ucap gadis itu datar. Suaranya jernih tapi terdengar sangat ketus. Boy menaikkan alisnya. "Gue cuma bicara fakta. Antrean ini nggak efisien. Kalau mereka pake sistem registrasi online dengan QR code, nggak bakal ada penumpukan kayak gini." Gadis itu, Luna, akhirnya berbalik sepenuhnya. Ia menatap Boy dari ujung sepatu sampai ujung kepala dengan tatapan merendahkan. "Online? QR code? Mas, ini lowongan buat Housekeeper, tukang bersih-bersih. Kebanyakan orang yang antre di sini jangankan kuota internet, buat makan siang nanti aja masih mikir. Jangan bawa gaya hidup elit lu ke sini." Boy terdiam. Ia baru tersadar bahwa map yang ia pegang adalah map kulit Montblanc seharga lima belas juta rupiah. Sementara di tangan Luna, hanya ada map cokelat murah seharga dua ribu perak yang ujungnya sudah agak tertekuk. "Nama gue Boy. Dan gue ke sini karena gue punya alasan sendiri," ujar Boy, berusaha mengembalikan wibawanya. "Gue nggak nanya nama lu. Tapi kalau lu mau tahu, nama gue Luna," jawab Luna sambil kembali menghadap depan. "Dan saran gue, mending kacamata hitam lu itu disimpen. Lu mau melamar jadi tukang pel atau mau audisi jadi anggota Boyband gagal? HRD di sini nggak suka orang yang kebanyakan gaya." "Heh, kacamata ini Ray-Ban asli, ya! Buat ngelindungin mata dari radiasi UV Jakarta yang parah ini," balas Boy sewot. "Radiasi UV?" Luna tertawa hambar. "Sombong banget bahasa lu. Di sini yang ada cuma radiasi bau got dan asep kopaja, Mas Boy. Mending lu siapin mental. Lu liat tangan lu itu," Luna menunjuk tangan Boy yang bersih dan halus. "Sekali kena cairan pembersih porselen yang keras, kulit lu bakal ngelupas. Yakin masih mau lanjut?" "Jangan remehin gue. Gue lulusan perhotelan... eh, maksud gue, gue pernah belajar soal ini," Boy hampir saja keceplosan soal gelar S2-nya di London. "Belajar dari YouTube? Atau belajar dari ngeliat pembantu lu di rumah?" Luna mendengus. "Kerja di sini itu otot, bukan teori. Kalau lu pikir hotel bintang tujuh ini tempat yang indah buat kerja, lu salah besar. Di balik kemewahan kamar-kamarnya, ada keringat orang-orang kayak kita yang diperas sampai habis." Setelah menunggu dua jam, akhirnya nama mereka dipanggil bersamaan. Mereka dibawa ke sebuah ruangan basement yang lembap. Di sana, seorang staf HRD bernama Pak Bowo sudah menunggu dengan dua buah ember besar berisi air keruh dan dua buah alat pel manual yang beratnya bukan main. "Sederhana saja. Kalian berdua harus membersihkan area koridor ini sampai mengkilap. Waktu kalian sepuluh menit. Siapa yang bersih dan cepat, dia yang saya ambil," perintah Pak Bowo tegas. Luna langsung bergerak. Tanpa banyak bicara, ia menyingsingkan lengan kemejanya, memperlihatkan lengan yang ramping namun tampak kuat. Ia mencelupkan kain pel, memerasnya dengan teknik puntiran yang sangat kuat sampai airnya kering sempurna, lalu mulai mengepel dengan gerakan angka delapan yang sangat lincah. Boy terpaku. Ia menatap ember itu seolah itu adalah limbah beracun. Dengan ragu, ia mencoba mencelupkan kain pelnya. Tapi saat ingin memeras, tenaganya tidak cukup kuat. Air masih menetes-netes di mana-mana. "Woy, Mas BoyBand! Itu pel atau kompres demam? Airnya masih banyak gitu malah lu taruh di lantai, yang ada tamunya kepeleset!" teriak Luna sambil terus bekerja tanpa henti. "Diem lo! Gue lagi nyari ritme!" balas Boy panik. Ia mencoba menekan alat pel itu dengan sekuat tenaga, tapi karena lantai masih terlalu basah, ia justru terpeleset sendiri. BRUK! Boy jatuh terduduk. Celana bahan custom-made miliknya basah kuyup oleh air pel yang kotor. Luna tertawa keras sampai bahunya terguncang. "Hahaha! Tuh kan, bener kata gue! Baru pegang pel aja udah cosplay jadi nangka jatuh. Udah deh, Mas, mending lu pulang. Kasihan HRD-nya kalau harus bayar asuransi kecelakaan kerja buat lu di hari pertama."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.7K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

TERNODA

read
200.7K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook