Boy merasakan wajahnya panas bukan main. Rasa malu ini jauh lebih sakit daripada pantatnya yang menghantam lantai beton. Ia melihat Pak Bowo menggeleng-gelengkan kepala. Namun, saat Boy melihat ke arah cermin besar di ujung koridor, ia melihat pantulan dirinya. Ia teringat kata-kata Papanya: Kalau kamu gagal, jangan pernah panggil kami orang tua lagi.
Dengan amarah yang membara, Boy bangkit. Ia melepas jas mahalnya, melemparkannya ke pojok ruangan, dan menggulung kemejanya. Ia tidak peduli lagi soal kuman atau kotoran. Ia menyambar kain pel itu, memerasnya dengan sisa-sisa harga dirinya, dan mulai menggosok lantai dengan brutal.
"Gue... nggak bakal... kalah... ama cewek cerewet kayak lo!" geram Boy sambil terus mengepel.
Luna terhenti sejenak, sedikit terkejut melihat perubahan ekspresi Boy yang tiba-tiba menjadi sangat serius. Ada api di mata cowok itu yang tidak ia lihat sebelumnya.
Sepuluh menit berlalu. Pak Bowo memeriksa hasil kerja mereka. "Luna, seperti biasa, kerja kamu sempurna. Kamu diterima."
Pak Bowo beralih ke Boy. Lantai bagian Boy sebenarnya tidak sebersih Luna, masih ada beberapa bercak. Namun, Pak Bowo menatap wajah Boy yang penuh peluh namun tetap terlihat tampan—bahkan lebih tampan saat terlihat "berantakan".
"Kamu, Boy... kerja kamu kasar. Berantakan. Tapi..." Pak Bowo mengusap dagunya. "Supervisor Housekeeping kita, Bu Angeline, lagi nyari asisten yang punya 'potensi fisik' menarik untuk area VIP.
Tamu-tamu kita banyak sosialita yang suka dilayani staf yang... yah, enak dipandang. Kamu saya terima secara percobaan satu bulan."
Boy melongo. Ia diterima karena tampang? Bukan karena usaha kerasnya barusan?
"Dih, jalur orang ganteng ternyata beneran ada ya," sindir Luna sambil mengambil tasnya.
"Selamat ya, Mas Boy. Selamat datang di neraka. Mulai besok, jangan harap lu bisa sombongin kacamata lu lagi."
Boy hanya bisa terdiam, menatap tangannya yang mulai terasa perih dan merah. Hari ini, ia belajar satu hal: di London ia adalah raja, tapi di Jakarta, ia hanyalah sebuah "pemandangan segar" yang memegang alat pel.
Pukul 04.30 pagi. Alarm dari ponsel Android murah milik Boy menjerit dengan suara cempreng yang memekakkan telinga. Boy terbangun dengan punggung yang terasa seperti habis dihantam truk kontainer.
Kasur busa tipis di Rusun Harapan Bangsa itu benar-benar tidak bersahabat dengan tulang punggungnya yang terbiasa dengan kasur king size berbahan latex premium.
"Aduh... punggung gue... ini kasur apa papan penggilesan?" rintih Boy sambil mencoba duduk.
Ia melangkah gontai menuju kamar mandi umum di ujung lorong rusun, membawa handuk putihnya yang masih terlihat terlalu mewah untuk tempat itu. Namun, pemandangan di depan kamar mandi membuatnya ingin pingsan.
Antrean sudah mengular. Ada bapak-bapak yang merokok sambil pakai sarung, ada ibu-ibu yang ngomel soal air mati, dan anak-anak yang lari kesana-kemari.
"Woy, Boy! Telat lu! Kalau mau mandi jam segini mah harus siap mental perang!" teriak Jody yang tiba-tiba muncul di belakangnya dengan handuk tersampir di bahu.
"Jod, ini beneran tiap pagi begini?" tanya Boy lemas.
"Ya iyalah! Makanya, pake nih..." Jody menyodorkan sebuah gayung plastik warna merah yang bagian bawahnya sudah ditambal pakai lakban hitam. "Gayung keramat. Air di sini lagi kecil, lu harus pinter-pinter nampung. Dan inget, mandi jangan kelamaan, atau pintu lu bakal digedor massa."
Boy masuk ke bilik mandi yang sempit dan pengap. Saat ia mencoba menyiramkan air ke tubuhnya, gayung itu bocor, menyemprotkan air ke arah yang salah. "Sial! Mandi aja harus pake perjuangan tingkat dewa! London... gue kangen shower otomatis gue," keluh Boy dengan suara tertahan agar tidak terdengar penghuni lain.
Satu jam kemudian, Boy sudah berdiri di depan pintu belakang Hotel Pratama Grand. Ia merasa gatal mengenakan seragam poliester biru dongker yang bahannya tidak menyerap keringat.
Di sampingnya, Luna sudah berdiri dengan wajah segar, meski ia pasti bangun lebih pagi dari Boy.
"Jangan digaruk terus, makin lu garuk makin kelihatan lu nggak level pake baju ginian," sindir Luna tanpa menoleh.
"Baju ini bahannya kasar banget, Lun. Kulit gue bisa iritasi," balas Boy.
"Kulit apa kerupuk? Kena udara dikit langsung melempem," sahut Luna ketus.
Tiba-tiba, seorang wanita muda dengan seragam yang lebih ketat dan sepatu high heels yang berbunyi nyaring di lantai beton mendekat. Ia memakai name tag ANGELINE - SUPERVISOR. Wajahnya dipoles make-up tebal, dan matanya langsung terkunci pada sosok Boy.
"Wah... jadi ini 'pemandangan segar' yang dibilang Pak Bowo?" Angeline berjalan memutari Boy, bahkan dengan berani membetulkan kerah baju Boy yang sebenarnya sudah rapi.
"Ganteng juga ya. Kamu, Boy kan? Jangan takut, kerja sama saya itu enak, asal kamu... penurut."
Luna memutar bola matanya, "Mulai deh drama penguasa wilayah," bisiknya pelan yang hanya didengar oleh Boy.
Angeline membawa mereka ke pantry utama Housekeeping di lantai basement. Di sana, seorang wanita yang usianya sedikit lebih tua dari Luna sedang menata troli dengan sangat teliti. Kecantikannya berbeda dengan Luna yang galak; wanita ini terlihat lembut, dewasa, dan punya tatapan mata yang menyimpan kesedihan.
"Jennifer! Sini!" panggil Angeline dengan nada memerintah. "Ini ada anak baru. Si Luna sudah tahu tugasnya, tapi si Boy ini... dia masih butuh bimbingan khusus. Kamu ajarin dia dasar-dasarnya, jangan sampai dia ngerusak barang lagi."
Jennifer tersenyum manis, sebuah senyum yang membuat Boy terpaku sejenak. "Halo, nama saya Jennifer. Kamu bisa panggil Jenn atau Kak Jenn."
"Boy," jawab Boy singkat sambil menjabat tangan Jennifer. Tangan Jennifer terasa kasar namun hangat, tipikal tangan orang yang sudah bekerja keras bertahun-tahun.
"Jangan dengerin omongan pedes Luna ya, Boy. Dia aslinya baik, cuma mulutnya aja yang perlu diservis," goda Jennifer yang dibalas dengusan oleh Luna.
Boy merasa ada sesuatu yang aneh. Jennifer secantik ini, kenapa mau bekerja sebagai Housekeeper? Dari caranya bicara, ia tampak berpendidikan. Ada yang nggak beres di hotel ini, dan gue harus cari tahu mulai dari orang-orang terdekat gue, batin Boy.
Tugas pertama Boy adalah membantu Jennifer membersihkan area VIP di lantai 8. Saat mereka sedang mendorong troli melewati lorong yang dilapisi karpet tebal bin mewah, Jennifer tiba-tiba berhenti di depan kamar 808.
"Kamar ini... jangan dibuka sebelum ada instruksi dari Manager Keuangan, Pak Danu," bisik Jennifer dengan wajah pucat.
"Lho, kenapa? Kan tugas kita bersihin semua kamar?" tanya Boy heran.
"Kamar ini sering 'disewa' tapi nggak pernah masuk daftar tamu resmi. Dan setiap hari, aku harus bersihin sisa-sisa botol minuman mahal di sana tanpa boleh lapor ke sistem," Jennifer menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang.
"Boy, kalau kamu mau aman di sini, jangan banyak tanya soal lantai delapan."
Boy mengerutkan kening. Ini dia! Kamar Bayangan. Ini alasan kenapa omzet Papanya turun. Kamar-kamar VIP ini disewakan secara ilegal oleh para petinggi hotel dan uangnya masuk ke kantong pribadi.
"Gue harus masuk ke kamar itu," gumam Boy pelan.
"Jangan gila, Boy! Kalau ketahuan, kamu nggak cuma dipecat, tapi bisa 'dihilangkan' dari hotel ini," peringat Jennifer dengan nada serius yang mencekam.
Baru saja Boy ingin bertanya lebih lanjut, suara Angeline terdengar dari radio panggil (HT) di pinggang Jennifer.
"Boy, segera ke ruangan saya di basement. Ada instruksi khusus buat kamu. SEKARANG."
Jennifer menatap Boy dengan tatapan kasihan. "Hati-hati, Boy. Bu Angeline itu... agak 'pemangsa' kalau lihat staf baru yang ganteng."
Boy turun ke basement dengan perasaan tidak enak. Begitu masuk ke ruang kerja Angeline yang sempit namun wangi parfum menyengat, Angeline langsung mengunci pintu.
"Duduk, Boy," Angeline duduk di atas meja, menyilangkan kakinya. "Saya tahu kamu bukan orang biasa. Cara kamu berdiri, cara kamu bicara... kamu bukan anak rusun biasa kan?"
Boy menelan ludah. "Saya cuma orang yang butuh kerja, Bu."
"Oh ya?" Angeline mendekat, jemarinya mengusap bahu Boy.
"Gini aja. Kamu jadi 'asisten pribadi' saya. Kamu nggak perlu capek-capek gosok toilet. Cukup temani saya, pastikan jadwal saya rapi, dan... mungkin temani saya makan malam kadang-kadang. Gajinya? Tiga kali lipat dari gaji Housekeeper biasa."
Boy teringat misinya. Kalau dia tidak menerima, dia tidak punya akses lebih luas. Tapi kalau dia menerima, dia akan mengkhianati harga dirinya. Di saat itulah, pintu ruangan diketuk keras.
"Bu Angeline! Ini laporan stok deterjen yang Ibu minta!" Itu suara Luna. Suaranya terdengar ketus dan penuh emosi.
Boy keluar dari ruangan Angeline dengan wajah tegang, berpapasan langsung dengan Luna yang menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Cepat banget dapet 'promosi' lewat jalur belakang," sindir Luna sambil membanting tumpukan kertas ke meja admin di depan ruangan.
"Gue nggak ngapa-ngapain, Lun! Dia cuma nanya soal latar belakang gue," bela Boy.
"Halah! Dasar cowok gatel. Baru hari pertama udah mau jadi piaraan atasan. Gue pikir lu punya harga diri, ternyata cuma punya muka doang!" Luna berjalan pergi dengan langkah kaki yang menghentak keras.
Jennifer yang melihat kejadian itu dari jauh hanya bisa menggelengkan kepala. Ia mendekati Boy. "Luna itu nggak suka lihat ada orang yang cari jalan pintas, Boy. Dia benci banget sama sistem 'orang dalem' atau 'asisten kesayangan' karena dia sendiri berjuang dari nol buat biayain sekolah adek-adeknya."
Malam harinya, di Rusun, Boy duduk di koridor bareng Jody dan Mira.
"Gimana hari pertama, Mas S2?" goda Mira.
"Capek, Mir. Ternyata hotel itu isinya bukan cuma tamu dan kasur empuk, tapi sarang ular," jawab Boy sambil menatap langit Jakarta yang mendung.
"Saran gue, Boy," Jody menepuk bahu Boy. "Jangan percaya sama siapapun di hotel itu. Di sana, seragam boleh bersih, tapi hati orang-orangnya... lebih kotor dari got di depan rusun ini."
Boy terdiam. Ia baru sadar, musuhnya bukan cuma para manager koruptor, tapi juga rasa cemburu Luna, godaan supervisor Angeline, dan misteri yang menyelimuti Jennifer.