Langkah kaki Boy dan Luna bergema hampa di sepanjang koridor ruang bawah tanah Hotel Grand Pratama. Area ini adalah antitesis dari kemegahan Ballroom di lantai atas. Di sini, dinding-dinding beton yang lembap tidak dilapisi oleh wallpaper mahal, melainkan ditumbuhi lumut tipis dan rembesan air pipa yang berbau karat. Suara mesin chiller raksasa menderu konstan, menciptakan getaran yang terasa hingga ke tulang belakang. "Boy, pelan-pelan! Gue nggak bisa liat jalan," bisik Luna, suaranya gemetar tertelan kegelapan. Satu-satunya sumber cahaya mereka adalah lampu darurat yang redup dan berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti monster yang mengintai di balik pipa-pipa uap. Boy tidak mengendurkan genggamannya. Tangannya yang kuat menarik Luna melewati tumpukan mesin cuc

