2

897 Words
Morning." Shween dan Nana -sapaan Angel dan Shween pada nenek mereka- yang ada di meja makan menoleh. Dan Shween yang sedang meminum susunya terbatuk melihat wajah kusut Angel. Dengan kantung mata dan rambut pirangnya yang acak-acakan. Angel kelihatan makin imut walau belum mandi. Shween pura-pura menutup hidungnya saat Angel mengambil tempat duduk disebelahnya. "Bau. Mandi sana." Shween mendorong-dorong bahu Angel pelan. Angel cemberut, mengendus ketiaknya. "Nggak bau kok." Shween tertawa, begitu juga Nana. Gemas, Shween mencubit pipi tembem Angel. Angel menepis tangan Shween. "Sakit!" Gadis itu membelalakkan matanya. Shween makin tertawa. Mencium pipi Angel setelah tawanya reda. "Gemesin sih." Angel mendengus kesal. Sementara Nana hanya menggeleng melihat keributan kecil diantara cucu-cucu cantiknya. Sungguh sebuah pemandangan indah untuk mata tuanya. "Sudah, makan dulu. Lanjutin nanti berantemnya." Angel mengerucutkan bibirnya. "Nana apaan sih?" Dengan kesal gadis itu menggigit roti selai coklatnya langsung separuh bagian. Shween terkikik. Gadis itu menghabiskan susunya. "Ngel, mau shopping nggak nanti siang. Nggak ada kuliah kan?" Angel menoleh setelah menelan rotinya. "Biar nggak galau lagi." Shween mencubit lagi pipi gembil sepupunya. Dan Angel kembali menepis tangan jahil yang menyakiti pipinya itu. "Boleh." Gadis berambut pirang itu mengangguk antusias. "Bete di rumah." "Kalo gitu habis ini kita pergi ya." Angel mengangguk lagi. "After you take a bath." Shween tertawa. "Laperrrrrr." Gilang mengelus perutnya untuk menenangkan cacing-cacing di dalamnya yang berdemo karena belum diberi nutrisi. Ken menatap sahabatnya itu jijik. "Lebay lu!" Ken mendorong bahu Gilang pelan. Bukannya marah, Gilang malah tertawa keras. Membuat Ken menaikkan sebelah alisnya. "Udah gila lu ya karena kelaperan?" Ken berdiri kesal. Gilang ikutan berdiri. Kuliah sudah bubar, dosen mereka sudah meninggalkan ruangan. Waktunya makan siang sekarang. "Ada bule bilang lebay." Gilang menjawab setelah tawanya reda. Ken menghiraukan perkataan teman sinting-nya itu. Dia terus berjalan tanpa peduli Gilang yang memanggil-manggilnya. Cukup Angel saja yang membuatnya kesal sejak kemarin, jangan ditambah Gilang lagi. "Ken!" Gilang mengejarnya. "Marah lu?" Tanya Gilang setelah disampingnya. "Kagak lah." Ken terus berjalan. "Kata lu tadi laper kan, let's lunch." "Ayo!" Gilang semangat. "Di cafe langganan gue ya." "Serah lu." Ken menatap gadis yang duduk di dekat jendela itu. Keningnya berkerut samar, berusaha mengingat apakah dia pernah bertemu gadis itu. Karena wajahnya tampak familiar. Kalau pernah bertemu, dimana? Ken menyipitkan matanya, menajamkan penglihatan. Nihil. Dia tak pernah merasa kenal dengan gadis berambut pirang itu sebelumnya. Tapi... "Angel! Jorok deh." Ken terbatuk mendengar nama itu disebut. Gilang menatapnya bingung, menyodorkan air mineral kemasan yang baru saja dibuka segel penutupnya. "Thanks." Ken langsung meminum setengah dari isi botol. "Angel gemesin banget sih. Lagi galau aja masih imut..." Ken menoleh ke meja dekat jendela kaca itu, dimana gadis yang sejak tadi menyita perhatiannya duduk. Gilang mengikuti arah pandang sahabatnya. Dua orang gadis cantik berbeda warna rambut duduk disana. Gilang terkekeh melihat betapa serius-nya Ken memperhatikan mereka. "Kalo naksir deketin aja." Fokus Ken beralih ke sahabatnya yang tampan itu. Ken membelalak kesal. Pemuda berambut pirang itu meminta Gilang diam dengan meletakkan telunjuknya di depan bibir. Membuat Gilang mengerutkan keningnya tak mengerti. Ken kembali memperhatikan kedua gadis itu. Fokusnya tertuju pada gadis pirang dengan pipi chubby-nya. Ken masih berpikir kalau mereka saling mengenal. "Udah dong galaunya." Gadis berambut hitam terus berbicara, sementara si pirang menggembungkan pipinya. Gooossshhhh, dimana dia pernah melihat gadis itu? "Angel!" Sentak si rambut hitam. Dan Ken terbelalak ketika menyadari sesuatu. Apa mungkin? Tapi, pipi itu, bibir itu, mata itu, rambut pirang itu mengingatkannya dengan Angel-nya. Atau itu memang dia? Angel! "Oh s**t!" Makian samar keluar dari mulut Ken. Kenapa dia tidak menyadarinya sejak tadi? Tentu saja wajah dengan pipi chubby itu tampak familiar. Karena gadis itu Angel-nya. Tapi tunggu dulu. Tidak mungkin gadis itu Angel. Karena setahunya Angel tinggal di Makassar bukan di Jakarta, jadi gadis itu bukan Angel. Oh Ken how stupid you are! Ken merutuki kebodohannya dalam hati. Pemuda itu tersenyum masam mengingat kalau Angel itu fake. Jadi Angel memakai foto gadis itu. "Angel ihh dasar!" Ken menoleh ke arah kedua gadis itu lagi mendengar seruan itu. Bertepatan dengan si pirang yang juga menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu. Ken menatap gadis itu datar. Sementara mata sewarna madu milik gadis pirang itu membelalak, menatapnya horor. Cepat gadis itu merapikan barangnya, berniat pergi. Sebelum gadis yang satunya menahannya. "Mau kemana?" Kening gadis itu berkerut tanda bingung dengan temannya yang tiba-tiba ingin meninggalkannya. "Umm Shween, Angel baru ingat kalo Angel ada kuliah hari ini." Ken berdiri, mendekati kedua gadis itu. Membuat si pirang makin gelisah. "Kok buru-buru?" Ken bersedekap. Untung cafe sudah sepi, tinggal mereka dan beberapa pengunjung lain yang kelihatannya tidak ada kesibukan. Kalau tidak, Ken jamin, mereka akan jadi pusat perhatian. Gadis berambut pirang menunduk. Tampak dia memainkan kedua  telunjuknya. Sementara si rambut hitam menatapnya dengan kening yang semakin mengkerut. "Ba-baby honey..." Si pirang meringis, menatapnya takut-takut. "Damn!" Ken mengusap wajahnya kasar. Dia benar. Ini Angel-nya! Tidak ada seorangpun yang memanggilnya dengan panggilan alay itu selain dia. "Ngel, dia..." Gadis berambut hitam tidak meneruskan kata-katanya. Gadis itu berdiri di samping temannya. "Hiks..." Ken menghembuskan nafas melalui mulut. Entah kenapa ada kelegaan yang menyeruak di hatinya. Angel-nya bukan fake. "Maafin Angel hiks." Ken menatap Angel luruh. "Why?" Tanyanya lirih. "Why you do this?" "I'm sorry hiks." Angel masih terisak. Shween yang sejak tadi mematung segera memeluk sepupunya begitu sadar kalau Angel menangis. Gilang juga mendekat ke arah mereka. "Why you lie to me?" Tidak ada jawaban hanya suara isak yang terdengar. Ken menggeleng kemudian merengkuh Angel ke dalam pelukannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD