Chapter 22

1327 Words

Hana tengah berkaca di toilet perempuan yang kebetulan sedang sepi. Dia menatap pantulan dirinya yang dibalut niqab hitam dan sebuah hiasan perak berbentuk bunga dan dedaunan perak di atas kepalanya. Hana menghembuskan napas panjang. Tangannya dingin sekali dan dia benar-benar gugup. Di luar, Justin masih setia menunggunya sembari bersandar pada tembok. Ketika Hana keluar dengan kepala tertunduk, Justin langsung mendekati perempuan itu dan mengangkat dagunya agar Hana mendongak menatapnya. Dan agar Justin sendiri bisa menelisik mata biru kelam itu lebih dalam. “What's wrong, sweetheart?” Hana menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Tidak bisakah aku pulang saja? Kau bisa tetap di sini, tapi aku tidak kuat, aku mau pulang.” Justin menghela napas. Dia menjadi menyesal mengajak Hana ke pest

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD