"Dominic?" suara Alessa tercekat.
Bramantyo berdiri tegak, wajahnya memerah padam. "Beraninya kau ke sini! Security! Seret dia keluar!"
Dua petugas keamanan gedung mencoba mendekat, tapi mereka mendadak berhenti saat Dominic melirik tajam. Mereka mundur teratur tanpa sepatah kata pun.
"Kalian tuli? Saya bilang seret!" teriak Bramantyo.
"Maaf, Pak," manajer restoran menyela dengan suara gemetar. "Kami tidak bisa menyentuh beliau."
Pak Mahendra mengerutkan kening, menatap Dominic dengan saksama.
"Siapa pria ini, Bram? Pengawalmu?"
Dominic mengabaikan semuanya. Matanya hanya terkunci pada tangan anak Pak Mahendra yang masih melingkar di pinggang Alessa.
Pria itu menatap dengan cara yang meremehkan. Walaupun ia sempat terkejut dengan penampilannya yang mencuri perhatian.
"Siapa pun kamu, keluar dari sini. Ini urusan keluarga," ucap pria itu sinis.
Krak!
Suara patahan itu pendek dan kering.
Dominic bergerak secepat kilat, menyambar pergelangan tangan pria itu dan memelintirnya dalam satu sentakan tanpa ampun. Pria itu menjerit kesakitan, tubuhnya terpaksa menekuk hingga berlutut di lantai.
Dominic menarik Alessa ke belakang punggungnya. Sangat posesif.
"Kau akan membusuk di penjara, Dominic! Aku hancurkan hidupmu malam ini!" ancam Bramantyo dengan jari gemetar.
Dominic mengeluarkan sebuah kartu akses hitam legam dengan logo emas kecil di sudutnya, lalu melemparkannya ke atas meja. Kartu itu berdenting pelan saat berhenti tepat di depan Pak Mahendra.
Seketika, wajah Pak Mahendra pucat pasi. Ia menarik napas pendek, matanya melotot menatap kartu itu seolah melihat hantu.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa kau punya ini?"
Bramantyo bingung. "Apa itu, Mahendra? Itu cuma kartu!"
"Diam, Bram!" bentak Mahendra. Ia tiba-tiba berdiri, menjauh dari meja seolah kursi itu baru saja membakarnya.
"Kita pergi sekarang. Batalkan semuanya. Aku tidak mau berurusan dengan orang ini."
"Tapi Mahendra! Merger kita—"
"Lupakan soal merger kalau kau masih mau selamat!" Mahendra menarik anaknya yang masih merintih dan setengah berlari keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Ruangan mendadak sunyi. Dominic berbalik, menatap Alessa yang masih gemetar. Tangannya yang besar terangkat, menghapus sisa air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
"Ayo pergi," bisik Dominic.
"Dominic! Kau tidak bisa bawa dia! Dia anakku!" teriak Bramantyo dari sudut ruangan, namun suaranya terdengar sangat tidak berdaya.
Dominic berhenti di ambang pintu tanpa perlu menoleh.
"Mulai detik ini, dia bukan lagi urusanmu, Bram. Berdoalah semoga aku tidak punya alasan untuk kembali melihat wajahmu."
**
Bramantyo menatap pintu yang baru saja tertutup dengan napas memburu.
Ruangan VIP itu mendadak terasa sangat luas dan dingin. Ia menoleh ke arah meja, menatap kartu hitam yang masih tergeletak di sana.
"Sialan! Apa-apaan ini?!" teriak Bramantyo sambil memukul meja.
"Mahendra pengecut! Cuma karena satu kartu akses dia lari?"
Ia menyambar kartu itu, membolak-baliknya dengan kasar. Baginya, ini tetap hanya sebuah kartu plastik.
Tidak masuk akal jika rencana merger bernilai ratusan miliar hancur begitu saja.
Pintu ruangan terbuka lagi. Asisten pribadi Bramantyo masuk dengan wajah sepucat kertas, napasnya tersengal seolah baru saja berlari dari lantai dasar.
"Pak ... Bapak harus lihat ini," ucap si asisten dengan suara bergetar.
"Lihat apa?! Mahendra pergi! Alessa dibawa kabur oleh pengawal kurang ajar itu!" bentak Bramantyo. "Telepon polisi! Laporkan Dominic atas penculikan!"
"Jangan, Pak! Jangan telepon polisi," asisten itu menahan tangan Bramantyo, matanya melirik kartu hitam di tangan bosnya. "Bapak tahu kartu apa yang Bapak pegang itu?"
Bramantyo mendengus.
"Paling cuma kartu akses klub malam elit atau semacamnya. Apa istimewanya?"
"Itu kartu identitas The Obsidian Vane, Pak. Konsorsium keamanan internasional yang bekerja langsung di bawah perintah otoritas tertinggi lintas negara," asisten itu menelan ludah.
"Dominic bukan sekadar pemilik perusahaan keamanan lokal. Dia adalah salah satu pemegang kendali di sana. Dan logo emas di sudut kartu itu ... itu tanda Executive Command. Dia punya akses untuk membekukan aset siapa pun yang dianggap sebagai ancaman keamanan atau terlibat pencucian uang dalam hitungan menit."
Bramantyo terdiam. Tangannya yang memegang kartu itu mulai gemetar.
"Tadi... saat saya di luar, saya dapat kabar dari kantor," lanjut asistennya lebih pelan.
"Semua rekening perusahaan kita di bank utama baru saja dibekukan untuk audit mendadak. Atas permintaan pihak otoritas yang menggunakan jalur Obsidian."
Bramantyo merosot jatuh ke kursinya. Jantungnya terasa diremas. Dominic, pria yang selama ini ia bayar dan ia anggap sebagai anjing penjaga, ternyata adalah sosok yang bisa mematikan seluruh napas bisnisnya hanya dengan satu panggilan telepon.
"Jadi dia ... dia sudah merencanakan ini?" bisik Bramantyo frustrasi. Ia menjambak rambutnya sendiri. Segala taktiknya untuk menjual Alessa justru berbalik menghancurkan dirinya.
Namun, sedetik kemudian, sorot mata Bramantyo kembali menajam. Frustrasi itu berubah menjadi kemarahan yang gelap. Ia tidak bisa kehilangan segalanya. Bisnis ini adalah nyawanya.
"Dia pikir dia sudah menang?" desis Bramantyo. Ia mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. "Dia boleh punya kartu itu. Dia boleh punya akses keamanan itu. Tapi dia punya satu kelemahan."
Ia menatap pintu tempat Alessa pergi tadi.
"Dia sangat peduli pada Alessa. Dan selama Alessa masih membawa namaku sebagai walinya, orang tua kandungnya, aku masih punya celah. Cari tahu ke mana mereka pergi. Aku tidak peduli siapa Dominic sebenarnya, aku tidak akan membiarkan kekayaanku hilang begitu saja."
Bramantyo berdiri, merapikan jasnya dengan kasar meski tangannya masih sedikit bergetar.
"Kalau dia mau main kotor dengan membekukan asetku, maka aku akan pastikan dia harus memilih, hartanya, atau keselamatan gadis itu."
**
Dominic terus melangkah tanpa suara. Genggamannya di jemari Alessa terasa kokoh dan tidak terbantahkan.
Ia seolah menulikan telinga dari rentetan pertanyaan yang keluar sejak mereka meninggalkan restoran.
"Dom, jawab! Kartu apa itu tadi? Kenapa Pak Mahendra ketakutan melihatnya?" Alessa mencoba menyentak tangannya, tapi Dominic tetap menariknya masuk ke dalam lift khusus.
Pintu lift tertutup.
"Dom!" Alessa meninggikan suaranya. "Kamu bukan sekadar pengawal, kan? Siapa kamu sebenarnya? Kenapa papa bisa sebodoh itu sampai tidak tahu siapa pria yang dia sewa?"
Dominic masih menatap lurus ke depan.
Tidak ada satu pun kata yang keluar. Ia justru mengeluarkan ponsel, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menyimpannya kembali.
Pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah yang sepi. Sebuah mobil hitam besar dengan kaca gelap sudah menunggu dengan mesin menyala.
Seorang pria berbadan tegap membukakan pintu belakang dengan gerakan sangat hormat.
"Masuk," perintah Dominic singkat. Suaranya berat, sebuah titah yang tidak menerima bantahan.
"Nggak! Aku nggak mau masuk sebelum kamu jelasin semuanya!" Alessa mundur satu langkah, dadanya naik turun karena emosi.
"Aku baru saja hampir dijual papa, hampir dilecehkan anak rekan bisnisnya, dan sekarang kamu muncul dan membawaku pergi tanpa penjelasan?"
Dominic berbalik sepenuhnya. Ia menatap Alessa tajam, membuat nyali gadis itu sedikit menciut namun tetap bertahan pada posisinya.
"Alessa, masuk ke mobil," ulangnya lebih dalam.
Dominic tidak menunggu jawaban. Ia menyambar pinggang Alessa dan separuh memaksa gadis itu masuk ke kursi belakang. Mobil itu segera melaju kencang, membelah jalanan kota yang mulai sepi.
Alessa menoleh ke arah Dominic yang duduk di sampingnya, pria itu sibuk dengan tablet di tangan, memperhatikan deretan data yang tidak Alessa pahami.
"Dom! Aku bicara sama kamu!" Alessa memukul lengan Dominic dengan keras. "Kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke vila!"
Dominic akhirnya meletakkan tabletnya. Ia menoleh perlahan, menatap mata Alessa yang berkaca-kaca karena marah sekaligus bingung.
"Ke tempat di mana papamu tidak akan pernah bisa menjangkau kamu lagi," jawab Dominic datar.
"Maksudnya apa? Kamu menculikku?" Alessa tertawa sinis, suaranya bergetar.
"Tadi kamu bilang aku bebas menentukan mau tinggal di mana karena aku sudah dewasa. Tapi sekarang kamu sendiri yang menyeretku tanpa tanya aku mau ke mana!"
Dominic tidak membalas lagi. Ia kembali mengambil tabletnya, mengabaikan Alessa yang mulai memukul-mukul kaca mobil dengan frustrasi.
"Aku mau turun! Dominic, hentikan mobilnya! Aku mau dibawa ke mana?!" teriak Alessa lebih keras, benar-benar kehilangan kesabaran.
Mobil itu terus melaju, meninggalkan gemerlap lampu kota menuju area yang jauh lebih sunyi.
Alessa merasa seperti keluar dari satu sangkar hanya untuk masuk ke dalam sangkar lain yang jauh lebih misterius.