Alessa duduk di kursi belakang mobil mewah itu dengan rahang mengeras dan tangan mengepal di pangkuan. Gaun hitam ketat yang papanya pilihkan tadi sore terasa seperti belenggu yang mencekik pinggang dan d**a. Setiap tarikan napas membuat kain itu semakin menempel ke kulitnya. Anting mutiara di telinganya berat, seolah sengaja menarik kepalanya ke bawah. Jari-jarinya mencengkeram tas kecil dengan perasaan muak. “Kalau kamu nggak nurut malam ini, aku bisa hancurkan Dominic dalam hitungan jam saja, Alessa. Kontraknya, reputasinya, izin usahanya di kota ini, semuanya bisa aku cabut. Kamu mau lihat dia jatuh miskin dan kehilangan segalanya gara-gara kamu?” Alessa menoleh tajam ke arah papa yang duduk di sebelahnya. “Jadi sekarang Papa ancam orang yang Papa sendiri bayar? Lucu sekali.” B

