Sentuh Aku Lagi!!

1433 Words
Suara Alessa masih terngiang di kepalanya. "Aku klimaks." Dominic memejamkan mata, mengumpat kasar dalam hati. Dia pria dewasa berusia empat puluh tahun. Dia mantan pasukan khusus yang terlatih mengendalikan diri dalam situasi paling genting sekalipun. Tapi satu kalimat dari gadis ingusan itu berhasil membuat logikanya korslet. Dominic mencengkeram pagar besi balkon dengan erat saat mendengar langkah kaki di belakangnya. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang karna dia tahu pasti siapa di sana. "Masuk ke dalam sekarang," perintah Dominic dengan suara berat. Alessa mengabaikan perintah itu dan berdiri tepat di sampingnya sambil merapatkan jubah mandi. "Kamu lari dari kamar!" tuduh Alessa pelan. Dominic tetap menatap lurus ke depan ke arah taman yang gelap. "Aku butuh udara segar," jawabnya. "Udara segar atau mau lari dari kenyataan?" tanya Alessa tajam. "Kamu takut karena pengakuanku tadi," tebaknya. Rahang Dominic mengeras melihat keberanian gadis itu. Ia akhirnya menoleh dan menatap Alessa dingin. "Itu cuma reaksi adrenalin karena kamu baru saja tenggelam. Jangan berlebihan menyimpulkan sesuatu, Alessa." "Jangan bohong," potong Alessa cepat. Ia melangkah maju hingga lengan mereka bersentuhan. "Badanmu bereaksi sama kayak badanku. Kamu juga menginginkannya, kan?" Dominic mendengus kasar seolah ucapan itu lelucon yang buruk. "Tidur, Alessa. Kamu cuma meracau karena syok." "Buktikan kalau aku salah, Domi!" tantang Alessa sambil mendongak menatap mata pria itu. "Sentuh aku lagi kayak tadi kalau kamu memang nggak rasa apa-apa, berani?" Habis sudah kesabaran Dominic. Sejak tadi gadis itu selalu saja menantangnya. Ia menarik pinggang Alessa dengan kasar hingga tubuh gadis itu menabrak dadanya. Jarak di antara mereka hilang seketika. "Kamu pikir ini permainan?" geram Dominic tepat di depan wajah Alessa. Alessa menahan napas namun matanya menantang dan tidak gentar. "Aku nggak main-main." "Kamu nggak tahu apa yang kamu minta," ucap Dominic rendah dengan nada mengancam. "Aku bisa saja menyeretmu kembali ke ranjang sekarang dan menyelesaikan apa yang kita mulai sampai kamu memohon ampun." Jantung Alessa berpacu liar mendengar ancaman itu. Tubuhnya bereaksi instan terhadap kedekatan mereka. "Lakukan," bisiknya gemetar. "Jangan cuma mengancam." Dominic menatap bibir Alessa yang terbuka. Dorongan untuk melumat bibir itu begitu besar hingga menyakitkan, namun ia justru melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba dan mundur selangkah menjauh. "Sayangnya aku nggak tertarik," ucap Dominic datar. Alessa ternganga kaget karena penolakan yang tiba-tiba dan menyakitkan itu. "Apa?" "Aku nggak butuh validasi dari gadis labil yang bahkan belum bisa mengurus dirinya sendiri," lanjut Dominic kejam. "Tidur sekarang sebelum aku kunci pintu balkon ini dari luar." Tanpa menunggu jawaban, Dominic berbalik dan melangkah masuk ke kamar. Ia meninggalkan Alessa yang berdiri mematung sendirian di balkon dengan harga diri yang hancur berantakan. ** Alessa membanting pintu kaca balkon dengan keras hingga bergetar. Ia berjalan cepat menyusul Dominic yang baru saja hendak mengambil minum di meja. "Kamu jahat!" teriak Alessa. Dominic menggeram rendah di tenggorokan. Ia berbalik badan dan menatap gadis itu dengan tatapan lelah bercampur emosi yang tertahan. "Apa lagi sekarang?" tanyanya kasar. "Kamu bikin aku gila," tuduh Alessa dengan mata berkaca-kaca. "Kamu pikir aku mau kayak gini? Asal kamu tahu saja aku awalnya sama sekali nggak tertarik sama kamu." Dominic hanya diam menatapnya tajam namun rahangnya mengeras. "Aku cuma mau bebas," lanjut Alessa dengan suara bergetar. "Aku cuma gadis biasa yang mau keluar dari vila itu dan hidup sesukaku. Tapi kamu selalu saja ikut campur urusanku! Pria kaku yang ngeselin!" Alessa maju selangkah dan menunjuk d**a Dominic dengan telunjuk gemetar. "Kamu selalu ada di sana. Kamu ngatur hidupku. Kamu larang aku ini itu. Kamu pikir aku suka? Ngga!" Napas Alessa memburu karena emosi yang meluap. "Tapi anehnya setiap kali kamu sok jadi pahlawan buat lindungi aku, kewarasanku malah hilang pelan-pelan," racau Alessa frustrasi. "Gila memang." "Waktu kamu hajar Zian. Waktu kamu nyelamatin aku dari kolam tadi. Harusnya aku benci kamu karena kamu itu sipir penjaraku!" Dominic mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh hingga uratnya menonjol. Ia tidak menjawab sepatah kata pun dan membiarkan Alessa menumpahkan semuanya. "Tapi kenapa aku malah jadi tertarik sama kamu?" tanya Alessa putus asa. "Kenapa setiap kali kamu bersikap dingin dan galak aku justru makin penasaran?" Air mata frustrasi menetes di pipi Alessa. "Kamu udah acak-acak otakku, Om Domi! Kamu bikin aku lupa caranya jadi diriku sendiri. Dan sekarang kamu malah buang aku kayak sampah setelah bikin aku berantakan kayak gini." Alessa menatap Dominic nanar. "Jawab aku. Jangan cuma diam kayak patung!" Dominic melangkah maju perlahan hingga berdiri tepat di hadapan Alessa. Suaranya terdengar rendah dan berat saat ia bertanya. "Mau kamu apa sebenarnya, Alessa?" Alessa tidak sanggup menjawab. Isak tangisnya semakin keras dan ia hanya bisa menggelengkan kepala lemah. "Katakan," desak Dominic lagi. "Apa mau kamu?" Alessa masih bungkam dengan bahu terguncang. "Aku ditugaskan di sini oleh ayahmu untuk jaga kamu. Dia harus bertugas di luar sana selama satu bulan penuh dan dia percaya padaku." Dominic menatap gadis yang kacau di hadapannya itu dengan pandangan rumit. "Ayahmu bilang kamu sudah terlalu bebas. Dia mengaku kalau dia nggak sanggup lagi mengarahkan kamu." Alessa mendongak sedikit dengan mata basah. "Dia bilang dia salah sudah terlalu memanjakan kamu semenjak ibumu meninggal," lanjut Dominic tegas. "Aku minta maaf, Alessa. Tapi aku nggak bisa merusak kamu cuma karena kamu menginginkan aku secara seksual." Alessa memejamkan mata rapat karena hatinya terasa diremas kuat mendengar penolakan itu. Dominic menarik napas dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. "Masa depanmu masih panjang, Alessa. Ayahmu berharap kamu jadi wanita yang lebih baik setelah keluar dari sini." Ia menunduk dan menatap wajah gadis itu lekat. "Kalau kita berhubungan intim malam ini, kamu kira itu tidak akan menghancurkan harapan ayahmu?" tanya Dominic tajam. "Hem?" "Cukup," teriak Alessa kencang. Dominic terdiam dan menahan napasnya melihat ledakan emosi gadis itu yang tiba-tiba. "Berhenti sebut kata Ayah di depanku," lanjut Alessa dengan napas memburu. "Kamu pikir aku nggak tahu apa yang dia lakukan di luar sana selama ini?" Air mata Alessa menetes semakin deras tapi tatapannya nyalang penuh kemarahan. "Dia berselingkuh, Domi. Dia nggak pernah mencintai Ibu. Dia biarkan Ibu depresi sendirian sampai meninggal cuma karena dia sibuk dengan wanita lain." Alessa maju selangkah dan menatap mata Dominic tajam. "Lalu sekarang dia pergi dengan alasan urusan kerja selama sebulan penuh. Omong kosong!" "Dia sengaja tinggalkan aku di sini. Dia titipkan aku pada pria asing yang belum pernah aku kenal." Alessa tertawa miris di sela tangisnya. "Pria dewasa yang tampan. Pria seksi yang jelas bisa bikin wanita mana pun tergoda kayak kamu." Alessa mencengkeram kemeja Dominic dengan frustrasi. "Apa tujuannya melakukan itu?" "Dia mau lindungi aku atau dia justru sengaja umpanin aku ke kamu biar aku hancur sekalian?" Dominic mengeluarkan ponsel dari saku celana dengan gerakan kaku. Ia menatap Alessa sekilas lalu menempelkan benda itu ke telinga tanpa memutus kontak mata dengan gadis itu. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya diangkat. "Ya, Dom?" suara Bramantyo terdengar berat dan sedikit serak di seberang sana. "Kau di mana?" tanya Dominic tajam. "Masih di luar kota. Kenapa telepon malam-malam begini? Ada masalah sama Alessa?" Dominic mengerutkan kening saat mendengar suara tawa manja seorang wanita yang samar di latar belakang telepon. Suara itu jelas bukan suara rapat bisnis. "Aku dengar suara perempuan," desak Dominic dingin. "Kau rapat jam segini?" "Bukan urusanmu," jawab Bramantyo enteng. "Itu cuma rekan bisnis. Dengar baik-baik, Dom. Aku kayaknya nggak bisa pulang bulan depan. Urusan di sini masih banyak yang belum beres." Dominic mencengkeram ponselnya lebih erat hingga buku jarinya memutih. "Kau janji cuma satu bulan." "Situasi berubah," potong Bramantyo cepat dan tidak peduli. "Tenang saja. Aku barusan transfer uang tambahan ke rekeningmu dalam jumlah besar. Itu buat biaya hidup Alessa selama aku pergi." Napas Dominic tertahan di d**a. Amarahnya meletup mendengar nada bicara sahabatnya yang begitu meremehkan putrinya sendiri. "Pakai saja uang itu buat apa pun yang dia minta biar dia diam dan tidak menyusahkan," tambah Bramantyo. Rahang Dominic mengeras. "Aku nggak butuh uangmu," geram Dominic dengan suara rendah yang berbahaya. "Ambil saja kembali transferan itu." "Jangan munafik. Biaya hidup anak itu mahal. Dia biasa hidup mewah." "Dengar baik-baik, Bram," potong Dominic dingin dan penuh penekanan. "Kalau aku mau, aku bisa biayai hidup Alessa selamanya tanpa uangmu sepeser pun. Aku nggak butuh bayaran buat jaga dia." Hening sejenak di seberang sana sebelum tawa Bramantyo pecah. Tawa yang terdengar meremehkan dan kejam di telinga Dominic. "Bagus kalau begitu, Dom. Bagus sekali." "Maksudmu apa?" "Ambil saja dia kalau kau sanggup," tantang Bramantyo sinis sambil tertawa lagi. "Tapi asal kau tahu saja, anak itu bakal habiskan hartamu sampai kering. Dia itu persis ibunya. Cuma bisa habisin uang." Sambungan telepon putus begitu saja secara sepihak. Dominic menurunkan ponselnya perlahan dengan tangan yang sedikit gemetar karena menahan emosi. Ia menatap layar hitam itu sejenak dengan pandangan nyalang sebelum beralih menatap Alessa yang berdiri mematung di depannya dengan wajah sembab. Gadis itu benar. Ayahnya memang b******n.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD